WASHINGTON,REDAKSI17.COM – Presiden Amerika Donald Trump mengatakan dia tidak menyesal telah berperang melawan Iran meskipun konflik tersebut mungkin berdampak pada pemilihan paruh waktu pada bulan November .
“Saya tidak percaya pada kata ‘menyesal.’ Anda selalu bisa sedikit mempertanyakan diri sendiri,” kata Trump dalam sebuah wawancara dengan pembawa acara Fox News, Laura Ingraham, ketika ditanya apakah ia menyesali perang Iran karena dampaknya terhadap pemilihan umum.
“Jika saya bisa mengulanginya lagi, saya akan melakukan persis seperti yang saya lakukan,” kata Trump dalam wawancara yang disiarkan pada hari Kamis di acara “The Ingraham Angle”, seperti dikutip dari Reuters.
Trump menepis anggapan bahwa sebagian pendukungnya merasa kecewa dan patah semangat terkait perang tersebut.
“Saya rasa mereka tidak patah semangat. Saya rasa mereka sangat bangga karena saya tidak membiarkan Iran memiliki senjata nuklir,” kata Trump.
Trump kembali menegaskan pemikirannya bahwa perang akan berakhir segera setelah pemilihan paruh waktu.
“Ini akan berakhir tepat setelah pemilihan,” kata Trump dalam wawancara tersebut. Dia membuat komentar serupa pada hari Rabu, menuduh Teheran mencoba memengaruhi pemilihan yang akan menentukan apakah Partai Republik Trump mempertahankan kendali atas Kongres.
Kenaikan harga minyak dan gas akibat perang AS-Israel di Iran telah menjadi isu utama bagi Partai Republik menjelang pemilihan umum.
AS dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari dan Iran membalas dengan serangan balasan terhadap Israel dan negara-negara Teluk yang menjadi tuan rumah pangkalan AS. Serangan AS-Israel terhadap Iran dan serangan Israel terhadap Lebanon telah menewaskan ribuan orang dan menyebabkan jutaan orang mengungsi.
Meningkatknya saliong serang Amerika-Iran beberapa hari terakhir membuat harga minyak kembali menembus US$100 per barel dan memperbesar kekhawatiran inflasi di pasar global.
Brent crude futures menembus US$100 per barel untuk pertama kalinya sejak Juli, di tengah eskalasi konflik Timur Tengah dan meningkatnya serangan terhadap pelayaran di kawasan tersebut.
Kenaikan harga minyak menjadi perhatian investor karena dapat kembali mendorong biaya energi dan transportasi sekaligus memperpanjang tekanan inflasi.
Di sisi lain, imbal hasil obligasi jangka panjang telah mencapai level yang tidak terlihat sejak sebelum krisis keuangan global.
Tekanan tersebut muncul menjelang rangkaian keputusan bank sentral utama dunia. Bank Sentral Eropa (ECB) menjadi yang pertama menggelar pertemuan kebijakan, sementara Federal Reserve (The Fed) dan Bank of Japan (BOJ) akan menyusul pekan depan.
Seperti dikutip Reuters, Presiden ECB, Christine Lagarde, menjadi sorotan pasar setelah konflik Timur Tengah kembali meningkat dan gelombang serangan terhadap kapal di kawasan tersebut mencapai level tertinggi.
Euro bergerak stabil di US$1,1637 menjelang keputusan ECB, sementara kontrak berjangka saham Eropa mengindikasikan pembukaan perdagangan yang cenderung terbatas.
Perhatian berikutnya tertuju pada Amerika Serikat (AS). Data harga produsen (PPI) akan dirilis Kamis, disusul data inflasi konsumen (CPI) pada Jumat. Kedua indikator tersebut akan menjadi pertimbangan penting bagi The Fed dalam menentukan kebijakan pada pertemuan 15-16 September.
Pelaku pasar memperkirakan peluang sekitar 60% bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga pada pertemuan tersebut.
Sementara itu, yen menguat ke 153,39 per dolar AS dan telah naik sekitar 4% sepanjang September. Penguatan yen terjadi ketika pasar meningkatkan ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga BOJ yang lebih cepat.
Anggota Dewan BOJ, Kazuyuki Masu, dalam pidatonya menjelang pertemuan pekan depan memperingatkan tekanan harga yang semakin meluas. Kondisi tersebut telah mendorong inflasi yang mendasari “very close” dengan target 2%.
Pernyataan tersebut memperkuat ekspektasi bahwa BOJ dapat mempercepat kenaikan suku bunga apabila tekanan inflasi terus meningkat.(DH)




