Tetesing Kawruh, Ruang Apresiasi Karya Guru dan Alumni SMSR Yogyakarta

Kasihan,REDAKSI17.COM – Wakil Wali Kota Yogyakarta Wawan Harmawan membuka Pameran Seni Rupa bertajuk “Tetesing Kawruh” di Galeri SMSR Yogyakarta, Jumat (18/9/2026). Pameran tersebut menjadi ruang apresiasi terhadap karya para guru aktif, guru purna, dan alumni SMK Negeri 3 Kasihan (SMSR Yogyakarta), sekaligus mempertemukan pengalaman dan kreativitas lintas generasi.

Kepala SMK Negeri 3 Kasihan, Sumadi, mengatakan pameran digelar oleh Ikatan Alumni sebagai bentuk silaturahmi sekaligus penghargaan atas dedikasi para pendidik yang telah memberikan pengetahuan dan pengalaman kepada generasi penerus.

Menurutnya, tajuk “Tetesing Kawruh” menggambarkan ilmu dan pengalaman yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Pameran juga menjadi wadah pertemuan visual antara guru aktif, guru purna, dan alumni dalam merayakan jejak kreatif yang telah tumbuh di lingkungan sekolah seni rupa.

“Pameran ini menjadi wadah pertemuan visual antargenerasi untuk merayakan ilmu, pengalaman, dan jejak kreatif yang terus menetes dan menginspirasi,” ujar Sumadi.

Wawan mengapresiasi penyelenggaraan pameran tersebut. Menurutnya, kegiatan seni rupa seperti “Tetesing Kawruh” tidak hanya menjadi ruang ekspresi seniman, tetapi juga dapat membuka peluang kolaborasi antara komunitas seni, pelaku industri kreatif, dan Pemerintah Kota Yogyakarta.

Wawan menyebut Kota Yogyakarta memiliki sejumlah ruang yang dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan kegiatan seni dan industri kreatif, antara lain Taman Budaya Embung Giwangan (TBEG) dan Pusat Desain Industri Nasional (PDIN).

“Kami membuka ruang kolaborasi. Di Kota Yogyakarta banyak pelaku industri kreatif yang bisa bekerja sama untuk menggelar event maupun pameran dalam skala yang lebih besar,” katanya.

Ia juga memberikan apresiasi kepada para guru, baik yang masih aktif maupun yang telah purna, serta alumni SMSR yang tetap berkarya. Menurutnya, konsistensi para pendidik dalam berkesenian menjadi contoh langsung bagi siswa bahwa pembelajaran seni tidak berhenti pada teori di ruang kelas.

Salah satu guru aktif SMSR Yogyakarta sekaligus Ketua Kompetensi Keahlian Seni Lukis, Eko Ariwono, turut menampilkan karya berjudul “Titik 0”. Karya tersebut mengangkat interpretasi terhadap bangunan lama dan persoalan pelestarian warisan arsitektur di Yogyakarta.

Ia berharap karya para guru dapat menjadi teladan bagi siswa agar tidak hanya mempelajari seni secara teori, tetapi juga aktif berkarya.

“Di SMSR, guru tidak sekadar mengajar, tetapi harus menjadi contoh bagi siswa dalam berkesenian,” ujar Eko.