Namun, pertumbuhan laba BRI hanya mencapai 6,63% secara tahunan atau year on year (yoy). Laju pertumbuhan tersebut menjadi yang paling rendah di antara lima bank yang dibandingkan.
Bank Mandiri mencatat pertumbuhan laba sebesar 22,30% menjadi Rp37,48 triliun. Sementara itu, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) mencatat pertumbuhan tertinggi, yakni 35,89%, dengan laba Rp2,71 triliun.
PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) membukukan pertumbuhan laba 10,07% menjadi Rp5,30 triliun. Adapun PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) mencatat pertumbuhan laba 6,89% menjadi Rp14,32 triliun.
Dengan demikian, pertumbuhan laba BRI sebesar 6,63% menjadi yang paling rendah di antara lima bank tersebut.
NPL BRI Masih Tinggi
Tekanan terhadap kinerja BRI juga terlihat dari kualitas kredit. NPL gross BRI tercatat sekitar 2,9% pada semester I-2026. Rasio tersebut berada di level tertinggi dalam kelompok bank pembanding, meski sangat berdekatan dengan BTN.
BTN mencatat NPL gross sebesar 2,99%. Sementara itu, NPL BNI berada di kisaran 1,90%-1,93%.
Bank Mandiri mencatat NPL sekitar 0,98% pada Juni 2026 dan meningkat menjadi 1% pada Agustus 2026. Adapun BSI menggunakan indikator Non-Performing Financing (NPF), yang berada di kisaran 1,75%-1,80%.
Tingginya NPL membuat BRI harus tetap menjaga pencadangan untuk mengantisipasi risiko kredit bermasalah. Kondisi tersebut dapat menekan pertumbuhan laba, meskipun BRI masih memiliki margin bunga yang relatif tinggi.
BRI mencatat Net Interest Margin (NIM) sekitar 6,4%. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan Bank Mandiri sebesar 4,37%, BSI di kisaran 5,01%-5,4%, BTN 3,5%, dan BNI 3,55%.
Namun, NIM yang tinggi juga perlu diimbangi dengan biaya kredit atau cost of credit yang memadai. Hal ini penting untuk mengantisipasi risiko penurunan kualitas kredit, terutama pada portofolio kredit mikro yang menjadi salah satu bisnis utama BRI.
Di tengah tekanan terhadap pertumbuhan laba, skala bisnis BRI masih sangat besar. Total kredit yang disalurkan mencapai sekitar Rp1.655 triliun. Sementara itu, dana pihak ketiga (DPK) tercatat Rp1.655,84 triliun atau tumbuh 12,59% yoy.
Dari sisi aset, BRI memiliki total aset sekitar Rp2.127 triliun. Namun, posisi tersebut masih berada di bawah Bank Mandiri yang mencatat aset Rp2.358,54 triliun atau tumbuh 20,72% yoy.
BNI mencatat total aset Rp1.434,11 triliun atau tumbuh 23,61%. Sementara itu, aset BTN mencapai Rp561,84 triliun atau naik 16,60%, sedangkan BSI mencatat aset Rp464,50 triliun.
Meski pertumbuhan laba BRI menjadi yang paling rendah, tingkat pengembalian ekuitas atau Return on Equity (ROE) masih berada di level 19,8%.
ROE BRI memang masih di bawah Bank Mandiri yang mencapai sekitar 21,5%. Namun, angka tersebut masih lebih tinggi dibandingkan BSI sekitar 16,5%, BNI 13,5%, dan BTN 11,5%.
Kondisi ini menunjukkan bahwa besarnya skala bisnis dan margin bunga masih menjadi penopang profitabilitas BRI. Namun, kualitas kredit tetap menjadi tantangan, terutama pada segmen mikro.
Karena itu, perbaikan kualitas kredit menjadi salah satu faktor penting bagi BRI untuk menjaga sekaligus mendorong kembali pertumbuhan laba. Hingga Agustus 2026, besarnya skala bisnis dan NIM yang relatif tinggi belum sepenuhnya mampu mengimbangi tekanan dari kredit bermasalah.





