Yogyakarta,REDAKSI17.COM – Malioboro Run 2026 by Bank Pembangunan Daerah (BPD) DIY resmi digelar pada Minggu (04/10) pagi. Diikuti sekitar 8.000 pelari dari berbagai daerah, para pelari melangkah bersama dengan semangat yang sama, “Culture On Track”; merayakan kebudayaan Yogyakarta melalui rute-rute yang disajikan.
Adapun, rute yang dilalui para pelari dirancang khusus menyesuaikan kategori lari. Namun, secara keseluruhan, gelaran lari tersebut menyajikan sejumlah ikon untuk dilewati, antara lain Malioboro, Titik Nol Kilometer, Keraton Yogyakarta, Pura Pakualaman, lima Plengkung Benteng Baluwarti, Tamansari, Pasar Ngasem, Panggung Krapyak, hingga Tugu Pal Putih.
Dibuka secara resmi oleh Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DIY, Nuryadi, Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, serta sejumlah Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) DIY, gelaran yang memasuki tahun penyelenggaraan kelima ini menjadikan Kantor Gubernur DIY, Kompleks Kepatihan, Yogyakarta sebagai pusat acara menghadirkan puluhan stand serta berbagai hiburan dan penampilan musik, salah satunya dari band ternama “Biru Baru”.
Ditemui di sela acara, salah seorang pelari kategori 21K atau Half Marathon yang juga pensiunan dosen Universitas Sebelas Maret asal Boyolali, Susilo Hambeg Poromarto (65), mengaku kagum dengan suasana pagi hari yang disajikan Yogyakarta. Keasrian, ketenangan, dan kekayaan budaya yang melebur menjadi satu, menurutnya menjadi kekhasan dari rute yang dihadirkan Malioboro Run 2026.
“Jadi saya terkesan dengan rutenya ini. Termasuk saat ketika kita keliling dari keraton, kemudian menyusuri alam perkampungan yang sedikit kampung di situ, masih asri. Dan juga ada tempat-tempat seperti lewat di Tugu, ini sungguh menarik,” katanya.
Susilo juga tampak membawa ciri khasnya sendiri selama menempuh rute. Ia membawa bendera Merah Putih dan mengenakan caping, membawa semangat nasionalisme ke dalam gelaran tersebut.
“Ya, sesuai dengan tema dari Malioboro Run ini, Culture On Track. Sehingga saya lari juga membawa caping dan membawa semangat nasionalisme Indonesia,” ungkap Susilo.
Susilo menambahkan, dirinya selalu membawa bendera Merah Putih di seluruh event lari yang diikutinya, bahkan hingga Amerika dan Australia.
“Kalau yang bendera besar, mulai dari 2019 sudah bawa bendera besar seperti ini. Bahkan kalau yang 5 atau 10K, benderanya bisa dua kali lipat (ukurannya) ini,” jelas Susilo.
Sementara itu, salah seorang pelari kategori 10K dari Temanggung, Agus, mengungkapkan keseruan yang dirasakan saat melintasi rute-rute di Kota Budaya ini. “Ya, karena kan kita itu (berlari di) kota sejarah ya. Jadi ya, seneng aja dilewati tempat-tempat bersejarah seperti itu,” katanya.
Agus berharap gelaran-gelaran lari yang membawa nilai sejarah dan budaya dapat semakin banyak diadakan di Yogyakarta. Lebih lanjut, Agus mengajak masyarakat yang belum mengikuti maupun belum mendapatkan slot lari untuk segera bergabung dan merasakan langsung pengalaman berlari diiringi suasana khas Yogyakarta.
“Untuk teman-teman yang belum dapat slot, tahun depan wajib ikut. Karena acaranya seru banget,” tegas Agus.
Humas Pemda DIY





