Redaksi17

Pentamarto PSC 119 YES Gerakan Telapak Tangan Warga Jadi Penyelamat Nyawa

Pentamarto PSC 119 YES Gerakan Telapak Tangan Warga Jadi Penyelamat Nyawa

Pentamarto PSC 119 YES Gerakan Telapak Tangan Warga Jadi Penyelamat Nyawa

Yogyakarta,REDAKSI17.COM – APA yang kita lakukan ketika menghadapi orang yang tiba-tiba pingsan di tempat publik? Tentu biasanya kita akan memanggil layanan kegawatdaruratan medis untuk menangani. Namun bisa jadi orang tersebut mengalami henti jantung mendadak yang harus segera ditangani. Sedangkan waktu terus berpacu dan nyawa menjadi taruhan. Pertolongan pertama sembari menunggu petugas medis datang, menjadi kunci penyelamatan henti jantung mendadak. Menjawab tantangan itu Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT) Public Safety Center (PSC) 119 Yogya Emergency Service (YES) membuat inovasi penyediaan AED di area publik dan pelatihan bantuan hidup dasar bagi masyarakat Ngayogyakarto (Pentamarto).

Kepala UPT PSC 119 YES, dr Dadan Andriyanto mengatakan latar belakang munculnya Pentarmarto karena perlu membangun ekosistem pertolongan gawat darurat di prarumah sakit. Terutama membangun ekosistem di dalam pertolongan pertama pada henti jantung. Inovasi program Pentamarto fokus pada penyediaan Automated External Defibrillator (AED) di area publik serta pemberdayaan masyarakat melalui pelatihan bantuan hidup dasar (BHD) dan pelatihan AED kepada masyarakat Kota Yogyakarta. Dengan dua fokus itu diharapkan dapat memperpendek respon time antara kejadian henti jantung dan pertolongan pertama.

“Kenapa henti jantung itu menjadi satu concern, karena kita perlu pertolongan secara cepat. Beda dengan kegawatdaruratan lainnya. Karena kalau henti jantung itu pertolongannya harus diberikan dalam hitungan menit. Bahkan sebelum empat menit itu harus sudah mendapatkan pertolongan bantuan hidup dasar,” kata dr Dadan ditemui di sela kegiatan Festival Inovasi Jogja di UKDW, kemarin.

Petugas PSC 119 YES melakukan praktik edukasi bantuan hidup dasar atau CPR menggunakan telapak tangan dan alat AED saat Festival Inovasi Jogja 2026.

Dia menyatakan hal penting yang harus dilakukan untuk penyelamatan itu adalah kemampuan untuk mengenali korban henti jantung dengan mengecek nafas dan respon korban. Lalu segerq telepon ambulans PSC 119 atan emergency lainnya. Kemudian lakukan BHD atau cardiopulmonary resuscitation (CPR) atau dikenal resusitasi jantung paru, secara baik dan benar. BHD dilakukan dengan menekan dada korban menggunakan kedua telapak tangan secara terus menerus, tanpa jeda.

“Pertama cek nafas dan respon. Sebetulnya henti jantung itu tidak sulit mengenalinya. Kalau korbannya tidak merespons dan tidak bernapas, patut kita curigai itu henti jantung. Kemudian telepon bantuan ambulans PSC dan lakukan bantuan hidup dasar, CPR kompresi dada sampai ambulans datang. Setelah itu diharapkan petugas bisa langsung mengambil alih korban,” paparnya.

Untuk itu salah satu fokus Pentamarto adalah pelatihan BHD yang masif dan berkelanjutan bagi masyarakat. Pelatihan ini menyasar berbagai kelompok, dari petugas keamanan,  relawan dan masyarakat umum. Pelatihan ini membekali peserta dengan keterampilan praktis untuk melakukan resusitasi jantung atau BHD dan menggunakan AED secara efektif dan manekin berteknologi CPR dan AED trainer. Pelatihan BHD menggunakan AED Pentamarto itu juga dihadirkan saat Festival Inovasi Jogja 2026.

Selain menggunakan telapak tangan, penyelamatan henti jantung mendadak juga mengunakan alat AED.

“Selama ini kami rutin melakukan edukasi Pentamarto di PSC. Kami juga bekerja sama dengan sekolah untuk menjangkau pelajar. Kami juga mengedukasi pada kegiatan-kegiatan masyarakat, misalnya kegiatan olahraga dan car free day.  Ini adalah upaya kami untuk membangun model penanganan kegawatdaruratan prarumah sakit dengan melibatkan partisipasi masyarakat sebagai penolong pertama,” terang dr Dadan.

Pentarmato yang digagas sejak tahun 2025 itu ternyata mendapat respon positif dari masyarakat. Terbukti banyak masyarakat yang berminat mengikuti kegiatan edukasi pertolongan pertama henti jantung di PSC 119 YES. Mulai dari relawan, masyarakat umum hingga mahasiswa. Setiap sesi edukasi diikuti sekitar 20 orang. Bagi masyarakat yang ingin mengakses pelatihan itu dapat menghubung PSC 119 YES di nomor 0811 2800 9119.

Adapun untuk penyediaan AED di tempat publik di Kota Yogyakarta yakni di sepanjang Malioboro. Dia menyebut ada lima unit AED yang disediakan di sepanjang Malioboro. Termasuk melakukan pelatihan BHD henti jantung dan penggunaan AED kepada personel-personel di lokus-lokus penempatan AED.

Para pelajar Yogya antusias mengukuti edukasi singkat BHD untuk pertolongan pertama henti jantung program Pentamarto saat Festival Inovasi Jogja 2026. 

Salah satu peserta yang mengikuti edukasi Pentamarto, Rania menilai kegiatan itu bagus dan penting untuk membekali diri agar bisa membantu orang yang mengalami kegawatdaruratan henti jantung. Dia mendapat edukasi untuk melakukan kompresi dada menggunakan telapak tangan dan dibantu alat AED. Diakuinya untuk menekan dada secara terus menerus selama minimal 2 menit cukup melelahkan. Tapi siswa SMAN 8 Yogyakarta itu mengaku senang bisa melakukan pertolongan pertama dengan BHD.

“Jujur ini penting banget, karena ini nggak semua di sekolah diajarin. Jadi kayak ada kesempatan baru buat kita lebih paham tentang cara penanganan terhadap orang pingsan, henti jantung. Edukasi ini juga bakal aku sebarluaskan ke teman-teman. Kalau semisal di kerumunan itu memang benar-benar tidak ada yang menolong, saya Insya Allah bisa berani,” pungkas Rania ditemui usai mengikuti edukasi Pentamarto di Festival Inovasi Jogja 2026, kemarin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *