Beranda / Daerah / JCWF 2026, Budaya Jadi Kekuatan Pariwisata Berkelanjutan DIY

JCWF 2026, Budaya Jadi Kekuatan Pariwisata Berkelanjutan DIY

Sleman,REDAKSI17.COM – Menghidupkan kunjungan wisata saat musim sepi sekaligus membuka peluang usaha bagi masyarakat menjadi sasaran Jogja Cultural Wellness Festival (JCWF) 2026. Melalui perpaduan budaya, pengalaman wellness, dan kepedulian lingkungan, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) berupaya menarik segmen wisatawan baru yang mencari pengalaman bermakna. Sebanyak 85 program dari 97 komunitas dan mitra terkurasi akan digelar pada 6–8 November 2026 di Loman Park Hotel Yogyakarta.

Memasuki tahun keempat penyelenggaraan, festival yang diinisiasi Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) DIY ini mengusung tema RECONNECT: Reconnecting People, Culture & Wellbeing. Penyelenggara menargetkan sekitar 1.500 kunjungan selama tiga hari dengan mengutamakan kualitas pengalaman, kolaborasi komunitas, dan peluang bagi pelaku usaha lokal.

Ketua BPPD DIY GKR Bendara mengatakan, pendekatan cultural wellness menghubungkan pengalaman wisata dengan budaya, keseimbangan hidup, dan hubungan manusia dengan alam. Filosofi Jawa, seperti hamemayu hayuning bawana serta sawiji, greget, sengguh, ora mingkuh, menjadi landasan untuk menghadirkan pariwisata yang berakar pada identitas Yogyakarta.

“Budaya adalah ruh yang menghubungkan manusia dengan identitasnya. Melalui JCWF, kami ingin menghadirkan pengalaman wisata yang bermakna sekaligus memberi manfaat nyata bagi masyarakat dan memperkuat pelaku usaha lokal,� ujar GKR Bendara dalam konferensi pers di Loman Park Hotel Yogyakarta, Rabu (21/10).

Ia menambahkan, tema RECONNECT mengajak masyarakat kembali terhubung dengan diri sendiri, sesama, alam, dan budaya. Pemilihan November juga menjadi strategi BPPD DIY untuk menghidupkan pariwisata pada periode yang dipandang sebagai musim sepi kunjungan atau low season, sekaligus menciptakan permintaan baru (new demand).

Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata Dinas Pariwisata DIY Ellya Shari menilai, wellness tourism dapat memperkuat pariwisata berkualitas atau quality tourism. Potensi DIY tidak hanya berada pada destinasi populer, tetapi juga pada pengalaman budaya, seperti membatik, mempelajari seni tradisi, menikmati gastronomi, dan meracik jamu.

“Banyak hal dari DIY yang bisa dikembangkan dalam wellness, mulai dari budaya sampai kuliner. Harapannya, wisatawan tinggal lebih lama dan membelanjakan uangnya di DIY, sehingga manfaat ekonomi dapat dirasakan lebih merata oleh hotel, restoran, desa wisata, dan pelaku usaha lokal,� kata Ellya.

Pengunjung dapat mengikuti kegiatan yoga, latihan pernapasan, tari dan gamelan, lokakarya seni, diskusi kesehatan mental, serta pengenalan jamu dan rempah Nusantara. Festival juga menghadirkan Wellness Artisan Market yang terbuka gratis untuk umum. Sebanyak 14 program tidak dipungut biaya, sedangkan program lainnya mengikuti ketentuan tiket dan reservasi.

Partisipasi 65 praktisi wellness dan 32 artisan dari 13 kota dan daerah membuka ruang bagi pelaku usaha untuk memperkenalkan produk, memperluas jejaring, dan menjajaki kerja sama. Produk yang ditawarkan meliputi kuliner sehat, produk lokal, perawatan diri, karya kreatif, dan barang berkelanjutan. Melalui pasar ini, festival diharapkan membantu memperluas akses pasar bagi usaha lokal, meski nilai transaksi dan dampak ekonominya baru dapat diketahui setelah kegiatan berlangsung.

Dampak bagi masyarakat juga diupayakan melalui pengelolaan sampah yang melibatkan Kalurahan Guwosari, Kapanewon Pajangan, Bantul. Lurah Guwosari Masduki Rahmad menjelaskan, sampah plastik dapat diolah menjadi kerajinan, sedangkan sisa makanan dimanfaatkan untuk budidaya maggot sebagai pakan ayam. Telur yang dihasilkan kemudian disalurkan ke posyandu, menghubungkan pengelolaan sampah dengan kebutuhan masyarakat.

“Setiap sampah memiliki nilai jika dikelola dengan benar. Kami berharap kolaborasi ini berdampak pada kebersihan, keberlanjutan, dan ekonomi masyarakat,� ujar Masduki. Pengelolaan tersebut melibatkan pekerja kebersihan setempat dan menjadi bagian dari upaya mewujudkan falsafah hamemayu hayuning bawana.

Penyelenggara juga merencanakan kompensasi jejak karbon melalui penanaman pohon, serta mengajak pengunjung membawa tumbler, memanfaatkan fasilitas pengisian air minum, menggunakan transportasi umum, dan memilah sampah. Pada 6 November, JCWF akan menggelar Pentahelix Forum untuk mempertemukan pemerintah, akademisi, komunitas budaya, praktisi wellness, dan pelaku industri pariwisata.

Melalui JCWF 2026, DIY berupaya menjadikan budaya sebagai penggerak pariwisata yang tidak berhenti pada peningkatan kunjungan. Lebih dari itu, festival ini diharapkan membuka pasar baru, memperluas kesempatan usaha, dan menguatkan keterlibatan masyarakat dalam menjaga lingkungan. Dengan demikian, kekayaan budaya DIY dapat terus hidup sekaligus memberi nilai tambah bagi perekonomian lokal secara berkelanjutan.

Humas Pemda DIY

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *