
MANTRIJERON,REDAKSI17.COM – Tirtodipuran Street Festival kembali digelar pada Sabtu (31/10/2026) dengan melibatkan 40 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Festival yang memasuki penyelenggaraan kedua ini menjadi ruang promosi produk lokal sekaligus mendorong kreativitas masyarakat melalui kegiatan ekonomi, seni, dan kampanye lingkungan.
Wakil Wali Kota Yogyakarta Wawan Harmawan mengapresiasi penyelenggaraan festival yang melibatkan pemerintah kemantren, kelurahan, serta berbagai organisasi perangkat daerah (OPD). Ia berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai agenda tahunan, tetapi terus dikembangkan melalui kolaborasi lintas sektor.
“Ke depan acara hari ini bisa berkelanjutan. Jangan sampai berjalan sendiri-sendiri. Harus ada sinergi dan kolaborasi dengan OPD terkait, seperti Dinas Kebudayaan, Dinas Pariwisata, dan Dinas Koperasi dan UKM, sehingga kegiatan ini bisa semakin besar,” ujarnya.

Wawan juga mendorong agar festival menjadi sarana memperluas pasar produk UMKM, termasuk membuka peluang ekspor. Ia menyampaikan rencana mempertemukan pelaku UMKM setempat dengan pihak yang memiliki pengalaman melakukan kurasi produk ekspor.
“Harapan kami produk-produk UKM ini bisa dikembangkan sehingga memiliki potensi untuk menembus pasar ekspor,” katanya.
Menurutnya, penyelenggaraan festival ke depan perlu dirancang lebih terorganisasi dengan melibatkan tiga kelurahan di wilayah Kemantren Mantrijeron. Setiap kelurahan dapat mengembangkan karakter kegiatan sesuai potensi masing-masing, mulai dari promosi produk, kebudayaan, hingga momentum khas wilayah.
Dengan demikian, Tirtodipuran Street Festival dapat menjadi agenda utama yang mengintegrasikan berbagai kegiatan di tingkat kelurahan. Wawan berharap penyelenggaraan tahun berikutnya dapat dikemas lebih besar dan mampu menarik pengunjung dari luar wilayah.

Sementara itu, Mantri Pamong Praja Kemantren Mantrijeron Narotama menjelaskan Tirtodipuran Street Festival tahun ini merupakan penyelenggaraan kedua setelah pertama kali digelar pada 2025. Pada penyelenggaraan perdana selama dua hari, transaksi UMKM tercatat mencapai lebih dari Rp40 juta.
Tahun ini, rangkaian kegiatan dimulai sejak pagi dengan senam bersama dan pemeriksaan kesehatan. Sebanyak 40 UMKM turut ambil bagian dengan dukungan Dinas Pariwisata, Dinas Koperasi dan UKM, kelurahan, serta Kemantren Mantrijeron.
Festival juga menghadirkan peragaan busana ramah lingkungan atau eco-fashion sebagai bagian dari kampanye pengelolaan sampah. Kegiatan tersebut melibatkan sembilan kampung untuk mengajak masyarakat mengolah barang bekas menjadi produk yang memiliki nilai guna dan estetika.
“Melalui eco-fashion ini kami ingin mengampanyekan kepedulian terhadap lingkungan, terutama persoalan sampah di Yogyakarta. Kami menggerakkan kampung-kampung agar masyarakat semakin sadar bahwa barang bekas bisa menjadi sesuatu yang indah apabila dikelola dengan baik,” jelas Narotama.
Salah satu pelaku UMKM, Isma, yang juga anggota kelompok UMKM Kiwo-Kiwo, memperkenalkan produk kerajinan berbahan tekstil dengan teknik ecoprint, jumputan, dan cap. Ia telah menekuni usaha tersebut sejak 2017.
Kelompok Kiwo-Kiwo sendiri beranggotakan 10 orang dan telah beberapa kali mengikuti kegiatan pameran maupun festival. Menurut Isma, bergabung dalam kelompok memberinya kesempatan lebih luas untuk memasarkan produk dibandingkan harus berjualan secara mandiri.
“Saya masih memiliki keterbatasan, belum mempunyai HAKI. Kalau melalui kelompok Kiwo-Kiwo, kami masih bisa ikut kegiatan bersama,” ungkapnya.
Ia berharap pemerintah memberikan pendampingan yang berkelanjutan bagi pelaku UMKM, terutama usaha berskala kecil. Keterbatasan penguasaan teknologi digital dan permodalan menjadi tantangan yang masih dihadapi sebagian pelaku usaha.
“Sebagai ibu rumah tangga, saya ingin memiliki penghasilan sendiri, jadi tetap berusaha mengembangkan usaha ini,” katanya.






