UMBULHARJO,REDAKSI17.COM — Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) dipastikan kembali diselenggarakan di Kampung Ketandan Kota Yogyakarta, pada 25 Februari hingga 3 Maret 2026. Perayaan Tahun Baru Imlek ini menjadi salah satu agenda budaya tahunan yang paling dinantikan, tidak hanya oleh warga Yogyakarta, tetapi juga wisatawan dari berbagai daerah hingga mancanegara.
Pemerintah Kota Yogyakarta memberikan dukungan penuh terhadap penyelenggaraan PBTY sebagai bagian dari kalender event resmi kota. Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo mengungkapkan, kegiatan ini memiliki peran strategis sebagai penggerak pariwisata sekaligus ruang perjumpaan budaya yang memperkuat toleransi.
“Tahun ini perayaan Imlek bertepatan dengan bulan Ramadan. Karena itu saya berharap kegiatan ini tetap mengedepankan toleransi beragama. Penyesuaian teknis tentu diperlukan, namun esensi kebersamaan harus tetap terjaga,” jelas Hasto Wardoyo dalam audiensi bersama Jogja Chinese Art and Culture Center (JCACC), Senin (19/1) di Ruang Yudhistira Balaikota Yogyakarta.

Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo saat mengikuti audiensi bersama Jogja Chinese Art and Culture Center (JCACC), Senin (19/1) di Ruang Yudhistira Balaikota Yogyakarta.

Menurut Hasto, PBTY memiliki daya tarik besar dan telah menempatkan Yogyakarta sebagai salah satu referensi utama perayaan Imlek dan Cap Go Meh di Indonesia. Ia menyebut, setelah Kota Singkawang, perayaan Cap Go Meh di Yogyakarta menjadi yang terbesar dan teramai di Indonesia.
“Ini harus kita pertahankan. Imlek dan Cap Go Meh di Jogja sudah menjadi magnet wisata. Akses yang semakin mudah membuat orang senang datang ke Yogyakarta,” tambahnya.
Hasto juga mendorong agar ke depan kalender event JCACC terus ditingkatkan, tidak hanya untuk menarik wisatawan asing, tetapi juga warga asli yang tinggal di luar negeri namun keturunan Tionghoa yang memiliki keterikatan sejarah dengan Yogyakarta. “Bahkan dapat dikembangkan agenda kedepannya terhadap budaya ziarah leluhur seperti perayaan Ceng Beng sebagai potensi wisata budaya baru,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua JCACC, Tandean Harry Setio menjelaskan, PBTY 2026 akan berlangsung selama tujuh hari penuh di Kampung Ketandan. Tahun sebelumnya, PBTY tercatat mampu menarik sekitar 10.000 hingga 20.000 pengunjung.
“Tahun Baru Imlek 2026 jatuh pada 17 Februari dan berdekatan dengan awal Ramadan. Karena itu kami mengusung tema Warisan Budaya, Kekuatan Bangsa, sejalan dengan Yogyakarta sebagai City of Tolerance,” jelasnya.
Selain kegiatan utama di Kampung Ketandan, PBTY juga akan diramaikan dengan Malioboro Imlek Karnaval yang digelar di sepanjang Jalan Malioboro pada Sabtu, 28 Februari 2026. Beragam rangkaian acara telah disiapkan, mulai dari pasar rakyat dan bazar kuliner, pameran budaya, hingga panggung hiburan dan lomba-lomba untuk anak-anak.

Ketua JCACC, Tandean Harry Setio saat memaparkan konsep PBTY 2026.

“Selama bulan Ramadan, waktu kegiatan hiburan dan ngabuburit akan disesuaikan. Sementara kegiatan malam hari akan dimulai setelah salat tarawih. Panitia juga menyiapkan pembagian takjil gratis di zona-zona tertentu sebagai bentuk kepedulian sosial,” imbuhnya.
Pihaknya berterima kasih kepada Pemerintah Kota Yogyakarta melalui berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD), seperti Dinas Pariwisata, Dinas Kesehatan, Dinas Lingkungan Hidup, serta unsur keamanan, akan turut mengoordinasikan dan mendukung penuh pelaksanaan acara tersebut.