UMBULHARJO,REDAKSI17.COM — Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta menargetkan perluasan pemberian tablet tambah darah hingga jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) mulai tahun ajaran 2025/2026. Program ini menjadi bagian dari upaya pencegahan dan penurunan angka anemia pada remaja, khususnya remaja putri.
Kebijakan tersebut disampaikan oleh Substansi Koordinator Kelompok Substansi Perencanaan, Evaluasi, dan Pelaporan Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Iswari Paramita saat ditemui, Kamis (22/1). Ia mengungkapkan, setiap awal tahun ajaran selalu dilakukan skrining anemia pada remaja putri kelas 7 dan kelas 10. Namun, mulai tahun ajaran Juli 2025 hingga Juli 2026, skrining anemia pada kelas 7 akan diperluas dengan menyasar seluruh siswa, baik laki-laki maupun perempuan.
“Untuk kelas 7, semua siswa dilakukan skrining anemia, tidak hanya remaja putri. Skrining dilakukan oleh petugas puskesmas saat pelaksanaan Cek Kesehatan Gratis (CKG) anak sekolah,” jelas Iswari.
Skrining anemia dilakukan melalui pemeriksaan kadar hemoglobin (Hb) menggunakan alat pemeriksaan darah sederhana, serta didukung pemeriksaan laboratorium bila diperlukan. Hasil skrining menunjukkan tren penurunan prevalensi anemia di Kota Yogyakarta, dari 29,6 persen pada 2023 turun menjadi 25,4 persen pada 2024.
“Alhamdulillah angkanya terus menurun. Ini tidak lepas dari kolaborasi berbagai program seperti Aksi Bergizi dan Gerakan Sekolah Sehat (GSS) yang semakin masif,” ungkapnya.
Iswari menambahkan, pada tahun 2026 juga akan dilaksanakan edukasi gizi serentak secara nasional dalam rangka Hari Gizi Nasional. Salah satu materi utama edukasi tersebut adalah kebiasaan mengkonsumsi tablet tambah darah, selain penerapan gizi seimbang pada anak SMP.
Dalam Gerakan Sekolah Sehat yang diusung Kementerian Pendidikan, aspek sehat gizi juga mengamanatkan kebiasaan minum tablet tambah darah satu kali seminggu bagi remaja putri. “Kami juga berkoordinasi dengan Kementerian Agama karena banyak sekolah di bawah naungan Kemenag. Dukungan sudah ada, dan hasil skrining anemia ini akan terus kami advokasikan agar semua pihak semakin aware,” katanya.
Berdasarkan evaluasi tiga tahun terakhir, proporsi anemia terbesar di Kota Yogyakarta ditemukan pada siswa kelas 10. Hal ini menunjukkan bahwa pola konsumsi dan kebiasaan gizi saat SMP sangat berpengaruh terhadap kondisi kesehatan di jenjang berikutnya. Oleh karena itu, mulai 2026, pola edukasi gizi akan lebih difokuskan pada siswa SMP.

“Di sekolah, guru bertanggung jawab memastikan tablet diminum secara rutin satu kali setiap minggu. Jika dalam skrining ditemukan anemia sedang hingga berat, siswa akan langsung dirujuk ke puskesmas untuk penanganan lebih lanjut, termasuk kemungkinan pemeriksaan talasemia. Tidak semua anemia disebabkan kekurangan zat besi, bisa juga karena faktor genetik seperti talasemia,” ungkapnya.
Ia berharap, khususnya remaja putri, siap menjadi ibu yang sehat dan tidak anemia. Dengan begitu, generasi mendatang akan lebih sehat dan upaya pencegahan stunting bisa terus ditekan.
Sementara itu, Kepala Sekolah SMP Negeri 5 Yogyakarta, Siti Arina Budiastuti mengungkapkan program tersebut sudah berjalan sejak beberapa tahun silam dan cukup efektif. Program ini cukup efektif dan bermanfaat terutama bagi remaja putri yang tidak suka sayuran/buah serta pilih-pilih makanan sehat sehingga menyebabkan kadar HB rendah (anemia). “Saya berharap,program ini tetap berlanjut serta sering dilakukan Monev serta pelatihan pengawasan minum tablet tambah darah dari puskesmas kepada kader kesehatan dan tim UKS,” ujarnya.



