UMBULHARJO,REDAKSI17.COM – Pemerintah Kota Yogyakarta berupaya meningkatan pengelolaan sampah organik dari hulu. Salah satunya meningkatkan pengelolaan sampah organik basah dengan emberisasi. Pemkot Yogyakarta mengajak masyarakat untuk terus memilah sampah organik basah dan kering  sehingga hanya sampah residu yang dibawa depo.

Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo mengatakan Pemkot Yogyakarta sudah menyiapkan diri secara bertahap menurunkan volume sampah dengan mengajak masyarakat memilah sampah. Terutama sampah organik yang mendominasi yakni sekitar 60 persen. Hasto menilai jika sampah organik bisa terkelola dengan semua, maka sampah yang tersisa tinggal sekitar 40 persen mampu diolah dari unit pengelolaan sampah Pemkot Yogyakarta.

“Ya strateginya seperti itu menurunkan sampah organik untuk tidak dibawa ke depo,” kata Hasto ditemui saat mukota Kadin Kota Yogyakarta beberapa waktu lalu.

Dokumentasi DLH Kota Yogyakarta pengumpulan sampah organik basah dalam ember di wilayah yang siap dijemput. 

Dicontohkan untuk pengelolaan sampah organik basah dengan emberisasi pada tahun lalu sudah bisa mengumpulkan sekitar 1.000 ember atau sekitar 25 ton. Pihaknya menargetkan pengelolaan sampah organik basah sampai 50 ton atau sekitar 2.000 ember. Sedangkan organik kering seperti sisa-sisa daun dan dahan pohon.

“Itu yang harapan saya kita tingkatkan terus. Kalau sampai seberapa banyak, target saya sampah organiknya bisa sampai 50 ton organik basah. Itu targetnya kita bisa menguasai organik kering dan organik basah,” paparnya.

Hasto menyatakan untuk pengelolaan sampah organik kering dilakukan penjemputan di wilayah. Kemudian dikelola Pemkot Yogyakarta di unit pengolahan pupuk organik di beberapa lokasi seperti di Pasar Satwa dan Tanaman Hias Yogyakarta. Selain itu  Pemkot Yogyakarta juga dalam proses penyiapan unit pengolahan pupuk organik di Tegalrejo dan Tegalgendu.

Truk DLHKota Yogyakarta melakukan penjemputan sampah organik basah dalam ember 

Sementara itu Kepala Bidang Pengembangan Kapasitas dan Pengawasan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta, Supriyanto menjelaskan saat ini pengelolaan sampah organik basah dalam sehari rata-rata sudah mencapai sekitar 1.100 ember atau setara 27,5 ton. Sampah organik itu lalu disalurkan ke mitra off taker peternak. Sedangkan penjemputan sampah organik kering seperti daun, sapuan jalan, tebangan pohon sudah sekitar 3 truk per hari atau setara 7,5 ton. Total ada 45 titik penjemputan sampah organik di Kota Yogyakarta.

“Semua wilayah sudah melaksanakan (emberisasi sampah organik basah). Untuk mitra offtaker mandiri yang dilibatkan ada dua belas meliputi peternak ayam, bebek, maggot, ikan dan babi. Kami harap kesadaran masyarakat memilah sampah untuk memudahkan penanganan oleh DLH. Jika ada masyarakat yang kesulitan membuang sampah bisa menghubungi petugas pengawas pemilahan sampah di masing-masing kelurahan,” jelas Supriyanto, saat dikonfirmasi Senin (26/1/2026).

Pemkot Yogyakarta telah membagikan ribuan ember untuk menampung sampah organik basah kepada penggerobak di 45 kelurahan. Para penggerobak mengambil sampah organik basah di rumah tangga atau masyarakat yang dikumpulkan dalam galon-galon bekas. Sedangkan sampah organik kering, masyarakat diminta mengumpulkan di tiap kelurahan dan DLH Kota Yogyakarta akan melakukan penjemputan.