Gondomanan,REDAKSI17.COM — Pemkot Yogyakarta kembali menggelar pasar murah sebagai upaya pengendalian inflasi dan menjaga keterjangkauan harga kebutuhan pokok bagi masyarakat menjelang Hari Raya Idulfitri. Kegiatan ini dilaksanakan dimasing-masing kemantren yang ada di Kota Yogyakarta dan berlangsung mulai 6 hingga 27 Februari 2026 secara bergantian.
Ketua Tim Kerja Ketersediaan dan Pengendalian Harga Bidang Ketersediaan, Pengawasan, dan Pengendalian Perdagangan Dinas Perdagangan Kota Yogyakarta, Evi Wahyuni, menjelaskan bahwa pasar murah merupakan salah satu langkah wajib dalam pengendalian inflasi menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN), khususnya Idulfitri dan Natal.
“Menjelang HBKN, terutama Idulfitri, kami memang diwajibkan melaksanakan operasi pasar murah sebagai bagian dari pengendalian inflasi. Karena itu, kegiatan ini kami laksanakan di bulan Februari,” ujar Evi saat ditemui di kantornya, Senin (26/1)..
Dalam pasar murah tersebut, berbagai kebutuhan pokok disediakan dengan harga di bawah harga pasar. Komoditas yang dijual meliputi beras SPHP beras medium hingga beras premium, minyak goreng, gula pasir, tepung terigu, telur, bawang merah, dan bawang putih. Kebutuhan pokok ini dipilih karena permintaannya cenderung meningkat selama Ramadan hingga Lebaran.
Evi mengungkapkan pihaknya menyiapkan total 48 ton bahan pangan bersubsidi untuk 14 kemantren. Sebanyak 11 kemantren masing-masing mendapatkan kuota 3 ton, sementara tiga kemantren yakni Umbulharjo, Gondokusuman, dan Mergangsan memperoleh kuota lebih besar, yakni 5 ton per kemantren.
“Total kuota tahun ini 48 ton. Jumlahnya memang lebih kecil dibandingkan tahun lalu karena adanya kebijakan efisiensi dan refocusing anggaran,” jelas Evi.

Jadwal Pasar Murah menjelang Idulfitri
Harga bahan pokok di pasar murah dipastikan lebih terjangkau karena adanya subsidi pemerintah sekitar Rp2.000 per kilogram. Sebagai contoh, harga beras premium kemasan 5 kilogram di pasar murah bisa lebih murah hingga sekitar Rp8.500–Rp10.000 dibandingkan harga pasar.
Sementara itu, Evi menyebutkan kondisi harga bahan pokok di Kota Yogyakarta saat ini relatif stabil, dengan pasokan yang juga terjaga. Meski demikian, potensi peningkatan permintaan menjelang Ramadan dan Lebaran tetap diantisipasi melalui pasar murah dan intervensi pasar lainnya.
“Dari pasar murah harapannya masyarakat sudah bisa memenuhi kebutuhannya dengan belanja di pasar murah tersebut. Jadi tidak usah kemudian berbondong-bondong atau beli banyak di pasar, pasar murah ini bisa mengurangi permintaan di pasar. Otomatis kalau permintaan di pasar tidak melonjak, ya kan, harga akan tetap terjaga,” terangnya.
Selain menyasar masyarakat secara langsung, pengendalian harga juga dilakukan melalui operasi pasar untuk pedagang. Pada tahun ini, intervensi untuk pedagang pasar mendapatkan dukungan dari Pemerintah Provinsi DIY, khususnya di Pasar Beringharjo dan Prawirotaman yang menjadi pasar pemantau Indeks Harga Konsumen (IHK).



