Umbulharjo,REDAKSI17.COM — Penyakit Tular Vektor dan Zoonosis (PTVZ) di Kota Yogyakarta secara umum masih dalam kondisi terkendali. Meski demikian, Demam Berdarah Dengue (DBD) tetap menjadi prioritas pengendalian karena Daerah Istimewa Yogyakarta termasuk wilayah endemis dengue.
Epidemiolog Kesehatan Ahli Muda Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular dan Imunisasi Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Anandi Iedha Retnani, menyampaikan tren PTVZ secara umum cenderung stabil.
“Kasus DBD pada 2024 tercatat 301 kasus, sedangkan pada 2025 sebanyak 270 kasus. Jadi ada penurunan, meski angkanya masih mendekati tahun sebelumnya,” jelasnya saat ditemui di Komplek Balai Kota pada Selasa (27/1/2026).
DBD masih menjadi fokus utama karena ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti yang adaptif di lingkungan perkotaan. Salah satu upaya inovatif pengendalian adalah penyebaran nyamuk ber-Wolbachia yang terbukti membantu menurunkan kemampuan nyamuk menularkan virus dengue.
“Monitoring tahun 2024 menunjukkan sekitar 87,2 persen populasi nyamuk di Kota Yogyakarta sudah mengandung Wolbachia,” ujar Anandi.
Namun, intervensi biologis tersebut tidak menggantikan peran masyarakat. Pengendalian utama tetap melalui Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M Plus yang dilakukan rutin minimal seminggu sekali, yaitu Menguras tempat penampungan air, Menutup rapat wadah penampungan air, Mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menampung air, Plus upaya mencegah gigitan nyamuk dan menjaga kebersihan lingkungan.
Pendekatan di masyarakat kini berbasis Gerakan Satu Rumah Satu Jumantik, di mana setiap keluarga bertanggung jawab memantau jentik nyamuk di rumahnya sendiri. Fogging hanya dilakukan sebagai langkah terakhir apabila ditemukan kasus dan Angka Bebas Jentik (ABJ) di bawah 95 persen, karena fogging hanya membunuh nyamuk dewasa dan tidak menyasar jentik.

Kegiatan pemantauan jentik nyamuk di rumah warga (Kemantren Pakualaman).Terkait zoonosis lainnya, lanjut Anandi, Kota Yogyakarta bukan wilayah endemis rabies dan tidak ditemukan kasus rabies pada manusia. Namun, kunjungan pasien akibat gigitan hewan penular rabies (GHPR) tetap tinggi karena kota ini menjadi rujukan pelayanan.
Dua fasilitas layanan rabies center berada di RS Pratama dan Puskesmas Jetis. Pasien yang datang tidak hanya warga Kota Yogyakarta, tetapi juga dari luar daerah.
“Tidak semua gigitan perlu vaksin. Pertolongan pertama paling penting adalah mencuci luka dengan sabun dan air mengalir selama 10–15 menit. Namun, layanan tetap kami berikan sesuai indikasi medis,” tegasnya.
Sementara itu, kasus malaria yang tercatat di Kota Yogyakarta mayoritas merupakan kasus impor dari wilayah endemis di Indonesia Timur, seperti Papua. Penularan tidak terjadi di dalam kota karena vektor Anopheles dan parasit malaria tidak berkembang di wilayah ini.

“Banyak pelajar, wisatawan, maupun pelaku perjalanan dinas dari wilayah endemis datang ke Yogyakarta. Saat berobat di sini, kasusnya tercatat di fasilitas kesehatan kota, meski penularannya terjadi di daerah asal,” jelas Anandi.
Dinas Kesehatan menekankan bahwa pengendalian PTVZ sangat bergantung pada konsistensi perilaku hidup bersih dan sehat masyarakat. Hal-hal sederhana seperti genangan air di pot bunga, wadah bekas, talang air, hingga tempat minum hewan peliharaan sering menjadi lokasi berkembang biaknya vektor penyakit.
Sehingga penguatan edukasi, pelibatan wilayah dari tingkat RT/RW, serta gerakan masyarakat sebagai strategi utama pengendalian PTVZ di Kota Yogyakarta.



