Jafar Hidayatullah/Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu. Foto: Mercy Raya/detikSport
Jakarta,REDAKSI17.COM – Pasangan ganda campuran Indonesia Jafar Hidayatullah/Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu tak mau sekadar numpang lewat di All England 2026. Meski berstatus debutan, pasangan peringkat 9 dunia ini memasang target minimal tembus semifinal.
All England 2026 akan berlangsung di Birmingham, Inggris, pada 3-8 Maret. Jafar/Felisha tampil setelah menempati peringkat 9 dunia per 20 Januari 2026. Turnamen level Super 1000 itu hanya diikuti pemain ranking 32 besar dunia.
“Harapannya kalau bicara paling bawah, minimal ya semifinal lah,” kata Felisha soal target di Pelatnas PBSI Cipayung, Jakarta Timur.
“Tapi ya fokus satu-satu saja sih, match by match,” tutur Jafar.
Persiapan keduanya pun disebut hampir rampung. Felisha mengaku kondisinya sudah mendekati ideal jelang rangkaian tur Eropa.
“Untuk persiapan menuju All England dan rangkaian tur Eropa lainnya, saya sendiri sudah yakin 90-95 persen. Persenan sisanya tinggal menyesuaikan kondisi di Eropa. Semoga saat sampai di sana bisa menyempurnakan yang sisanya tadi,” kata Felisha.
“Ya, sama lah 90 persen. Apalagi, saya lebih lama kan dari Felisha. Dia sempat enggak latihan,” Jafar menimpali.
Langkah Jafar/Felisha jelas tak mudah. Mereka berada di bagan atas bersama sejumlah unggulan seperti Feng Yan Zhe/Huang Dong Ping (1), Tang Chun Man/Tse Ying Suet (7), Chen Tang Jie/Toh Ee Wei (4), dan Mathias Christiansen/Alexandra Boje (8).
Di babak pertama, Jafar/Felisha akan menghadapi pasangan Thailand Pakkapon Teeraratsakul/Sapsiree Taerattanachai. Selain itu, ada pula sejumlah pasangan kuat lain yang siap mengadang langkah mereka.
Selain Jafar/Felisha, Indonesia juga diwakili Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah di sektor ganda campuran. Keduanya berada di bagan berbeda.
Meski optimistis, Jafar/Felisha menyadari tantangan terbesar justru bisa datang dari faktor nonteknis. Status debutan di turnamen sekelas All England bisa saja memunculkan tekanan tersendiri.
“Ya, kami semua sudah tahu lah ini turnamen tertua, turnamen yang sakral, atau apapun itu. Cuma jangan terlalu difokuskan ke situnya. Kami lebih fokus ke match by match-nya saja,” ungkap Felisha.
“Satu hal bagusnya, kami mendapat kesempatan aklimatisasi. Jadi kami bisa lebih lama penyesuaian jam tidur dan suhu. Karena itu, yang biasanya jadi kendala besar kalau kita tiba (di turnamen) sehari dua hari, keesokannya langsung main. Itu yang biasanya sangat mengganggu,” kata Felisha.





