Home / Ekonomi dan Bisnis / BRI Cetak Laba Rp 57,132 T, Dukung Asta Cita & Perkuat Ekonomi Rakyat

BRI Cetak Laba Rp 57,132 T, Dukung Asta Cita & Perkuat Ekonomi Rakyat

Foto: BRI

Jakarta,REDAKSI17.COM – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI menutup tahun 2025 dengan kinerja bisnis yang solid. Perseroan membukukan laba sebesar Rp 57,132 triliun yang ditopang oleh struktur pendanaan yang kuat, pertumbuhan kredit yang terjaga, hingga perbaikan kualitas aset secara berkelanjutan.
Direktur Utama BRI Hery Gunardi menyampaikan capaian ini memperkuat peran BRI dalam mengakselerasi pertumbuhan ekonomi nasional melalui pembiayaan produktif dan keberpihakan pada ekonomi kerakyatan.

Hery menyampaikan di tengah ketidakpastian global, perekonomian domestik tetap resilien. Pertumbuhan ekonomi 2025 tercatat sekitar 5,1% dan diproyeksikan meningkat menjadi 5,2% pada 2026, ditopang oleh kuatnya permintaan domestik.

Inflasi Indonesia juga terkendali dalam kisaran target Bank Indonesia, yakni sekitar 2,9%, dan stabil pada 2026. Kondisi tersebut mendukung daya beli masyarakat sekaligus memberikan ruang bagi kebijakan moneter yang lebih akomodatif.

“Secara keseluruhan, kombinasi inflasi yang terjaga, kebijakan moneter yang lebih longgar, dan ketahanan konsumsi domestik memberikan fondasi yang cukup kuat bagi ekonomi Indonesia ke depan,” ujar Hery dalam keterangannya, Jumat (27/2/2026).

Hal tersebut disampaikannya dalam Press Conference Kinerja Keuangan BRI Triwulan IV 2025 di Kantor Pusat BRI Jakarta pada Kamis (26/2).

Lebih lanjut, Hery menegaskan stabilitas makroekonomi dan kinerja positif perbankan menjadi fondasi yang kokoh bagi pertumbuhan berkelanjutan. Kombinasi pertumbuhan DPK yang impresif, kualitas aset yang sehat, likuiditas yang kuat, dan rasio kredit bermasalah yang terjaga di level 2,05%, serta profitabilitas yang stabil memberikan ruang bagi industri perbankan untuk melanjutkan ekspansi pada 2026.

Dorong Program Prioritas Pemerintah

Berangkat dari fondasi tersebut, BRI mengambil peran strategis melalui dukungan terhadap berbagai program prioritas pemerintah. Hal ini sejalan dengan upaya percepatan pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Adapun upaya tersebut diwujudkan melalui penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebagai instrumen utama pembiayaan sektor produktif. Sepanjang Januari hingga Desember 2025, BRI menyalurkan KUR sebesar Rp 178,08 triliun kepada 3,8 juta debitur, dengan sektor pertanian menjadi kontributor terbesar mencapai Rp80,09 triliun atau 44,97% dari total penyaluran KUR yang disalurkan oleh BRI.

Selain mendukung UMKM, BRI juga memperluas akses pembiayaan perumahan melalui partisipasi dalam Program 3 Juta Rumah. Hingga akhir Desember 2025, BRI telah menyalurkan KPR Subsidi sebesar Rp16,16 triliun kepada lebih dari 118 ribu debitur di seluruh Indonesia. Di tahun 2026, Perseroan optimistis dapat menyalurkan pembiayaan FLPP sebanyak 60.000 unit rumah subsidi.

BRI juga berperan aktif dalam berbagai program pemerintah lainnya, termasuk dukungan terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). BRI juga menyalurkan bantuan sosial non-tunai seperti PKH, Sembako, Sembako Stimulus, dan BLTS Kesra. Rangkaian inisiatif tersebut menegaskan peran BRI sebagai mitra utama pemerintah dalam memperluas akses pembiayaan dan memperkuat perlindungan sosial bagi masyarakat.

Hery menegaskan guna mendukung program prioritas pemerintah, Perseroan terus menjalankan transformasi terintegrasi melalui BRIVolution Reignite. Dukungan ini menjadi respons atas persaingan industri yang semakin kompetitif dan dinamika perubahan yang cepat untuk memastikan pertumbuhan yang sehat, berdaya saing, dan berkelanjutan.

Diluncurkan pada April 2025, transformasi ini bertumpu untuk memperkuat daya saing secara berkelanjutan dengan bertumpu pada dua pilar utama, yaitu Transform the Funding Franchise serta Revamp Existing Core and Build New Core, yang didukung oleh pembangunan enam enabler utama.

“Pada pilar pertama, Transform the Funding Franchise, ditujukan untuk memperkuat struktur pendanaan BRI agar semakin efisien, stabil, dan berbasis dana murah. Strategi ini dijalankan melalui dua pendekatan utama, yakni penguatan dana murah (CASA) serta peningkatan kapabilitas di bidang transaction banking,” kata Hery.

Optimalkan Kanal Digital & Ekspansi Bisnis

Untuk mempercepat pertumbuhan CASA, BRI mengoptimalkan kanal digital seperti BRImo, BRILink, dan QRIS, serta meningkatkan penetrasi pada business cluster. Akuisisi dan retensi nasabah juga diperkuat melalui kolaborasi lintas unit dan cross-selling produk, yang ditopang melalui peningkatan kapabilitas Relationship Manager (RM).

Langkah ini bertujuan memperbaiki cost of fund sekaligus menjaga stabilitas likuiditas jangka panjang. Adapun, segmen ritel, penguatan difokuskan pada pengembangan SuperApp BRImo dan ekosistem pembayaran.

Pada segmen SME dan Wholesale, QLola terus dikembangkan sebagai platform transaksi terintegrasi untuk layanan cash management, trade finance, dan foreign exchange. Melalui strategi ini, BRI tidak hanya berperan sebagai lender, tetapi juga sebagai transaction bank utama bagi nasabah.

Pada pilar kedua transformasi, melalui Revamp Existing Core and Build New Core, BRI memastikan bisnis inti tetap kuat sekaligus menciptakan sumber pertumbuhan baru. Penguatan proses bisnis mikro dilakukan dengan menjaga kualitas aset serta meningkatkan produktivitas.

Sementara itu, dalam menciptakan sumber pertumbuhan baru, BRI mempercepat ekspansi bisnis konsumer melalui penguatan mortgage, auto loan, optimalisasi payroll, hingga penguatan layanan wealth management. Perseroan juga memperkuat ekosistem gadai emas melalui integrasi outlet dan kanal digital.

Adapun pada segmen Commercial dan Corporate, pertumbuhan didorong melalui pendekatan end-to-end ecosystem, yang melibatkan penguatan sektor unggulan, serta akuisisi CASA berkualitas berbasis value chain dengan tetap menjaga manajemen risiko yang prudent. Kedua pilar transformasi ini ditopang oleh enam fondasi, yakni penguatan Human Capital, Risk Management, IT dan Digital, Distribution, Operational Excellence, serta Rebranding.

Sebagai bagian dari transformasi BRIVolution Reignite, BRI pun secara bertahap mengimplementasikan inisiatif strategis untuk meningkatkan produktivitas transaksi sekaligus memperkuat kualitas aset secara berkelanjutan.

Dari sisi Retail Funding & Transaction, BRI mengoptimalkan digital channel untuk meningkatkan engagement dan volume transaksi di seluruh lini. Inisiatif tersebut dijalankan melalui berbagai program bagi merchant dan pengguna QRIS, serta perluasan penetrasi BRImo.

Langkah ini pun berkontribusi pada peningkatan basis pengguna BRImo menjadi 45,9 juta atau tumbuh 18,9% YoY. Tak hanya itu, volume transaksi merchant BRI pun meningkat 48,1% YoY menjadi Rp223,2 triliun. Hal ini tak lepas dari berbagai program yang telah dijalankan, seperti Merchant Lucky Ride.

Hadirkan Transformasi Lewat Semangat ‘Satu Bank Untuk Semua’

Selanjutnya, dalam melakukan transformasi, BRI membuka sumber pertumbuhan baru melalui pengembangan new growth engines. Di segmen Consumer, ekspansi difokuskan pada payroll loan, penguatan KPR melalui kerja sama developer tier-1, percepatan auto loan melalui sinergi dengan BRI Finance, serta pengembangan wealth management.

Sebagai bagian integral dari agenda transformasi menyeluruh BRIVolution Reignite, fase transformasi ini turut diiringi dengan peluncuran penyegaran identitas korporasi melalui inisiatif corporate rebranding dengan semangat baru “Satu Bank Untuk Semua” yang sukses dilaksanakan pada Desember 2025 lalu.

Melalui semangat baru “Satu Bank Untuk Semua”, pembaruan ini merefleksikan komitmen BRI untuk tetap relevan, adaptif, dan hadir di setiap fase kehidupan masyarakat. BRI berupaya memastikan setiap ambisi, sekecil apa pun, dapat terwujud serta memberikan dampak nyata bagi kemajuan negeri.

Dengan berbagai inisiatif transformasi yang telah berjalan, kinerja keuangan BRI hingga akhir 2025 menunjukkan tren pertumbuhan yang positif dan berkelanjutan. Tercatat, total aset BRI tumbuh 7,2% YoY, menjadi Rp2.135 triliun.

Dari sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga (DPK) BRI juga menunjukkan peningkatan yang solid, didorong oleh pertumbuhan dana murah (CASA) yang terus menguat. Di mana total dana pihak ketiga tercatat tumbuh 7,4% YoY menjadi Rp1.467 triliun.

Di samping itu, porsi dana murah yang terus meningkat, memberikan dampak yang positif terhadap Cost of Fund (CoF) BRI. Tercatat CoF dana pihak ketiga pada akhir 2025 sebesar 2,9% atau membaik dibanding periode yang sama tahun 2024 sebesar 3,1%.

Pada sisi intermediasi, kredit BRI tumbuh 12,3% YoY menjadi Rp1.521 triliun, dengan fokus penyaluran kepada segmen UMKM. Capaian ini melampaui pertumbuhan kredit perbankan nasional sepanjang 2025 yang sebesar 9,6%.

Pertumbuhan tersebut tetap dijaga secara prudent dan sehat, tercermin dari rasio NPL sebesar 3,07% pada akhir Triwulan IV 2025. Pada saat yang sama, Loan at Risk (LaR) berhasil ditekan dari 10,7% pada akhir 2024 menjadi 9,6% di akhir 2025.

“Perbaikan fundamental kinerja BRI tersebut berdampak positif terhadap capaian laba perseroan. Hingga akhir Triwulan IV 2025 BRI berhasil mencetak laba bersih sebesar Rp57,132 triliun,” tegas Hery.

Sementara itu, Direktur Treasury & International Banking BRI Farida Thamrin menyampaikan pertumbuhan aset selama tahun 2025 didominasi oleh pertumbuhan kredit dan pembiayaan sebesar Rp167 triliun YoY. Adapun angka ini sebagian besar merupakan pertumbuhan pada kredit segmen UMKM.

Hal tersebut menunjukkan komitmen BRI untuk terus mendukung penguatan sektor riil, khususnya pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah, sebagai pilar utama perekonomian nasional.

Di sisi Dana Pihak Ketiga, fokus strategi BRI untuk penguatan CASA terlihat dari pertumbuhan Giro yang mencapai 19,7% secara year on year dan pertumbuhan tabungan sebesar 7,9% YoY. Ini menandakan kepercayaan masyarakat yang terus meningkat dengan semakin kuatnya dana murah Perseroan.

Jika dilihat dari struktur pendanaan, DPK BRI semakin kuat dengan rasio CASA meningkat 331 bps YoY, didorong oleh pertumbuhan tabungan ritel yang konsisten. Secara konsolidasi, total DPK tumbuh 7,4% YoY menjadi Rp1.466,8 triliun, dengan pertumbuhan CASA mencapai 12,7% YoY. Kenaikan giro mencapai 19,7% YoY, dan tabungan tumbuh 7,9% YoY, sehingga mendorong CASA ratio meningkat hingga 70,6%, menandakan biaya dana yang semakin efisien.

Dari sisi segmen, non-wholesale menjadi motor utama, terutama tabungan yang terus meningkat dan menopang stabilitas dana murah. Sementara, wholesale relatif stabil, dengan pergeseran komposisi ke giro yang tumbuh kuat, sementara deposito cenderung moderat. Secara keseluruhan, ini menunjukkan strategi BRI dalam memperkuat transaction-led relationships, menjaga likuiditas, dan meningkatkan kualitas pendanaan yang lebih berkelanjutan.

Kapasitas BRI untuk terus tumbuh secara sehat pun ditopang oleh likuiditas yang solid, hal tersebut tercermin dari rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) Bank berada di level yang ample sebesar 91,4%.

“Kedisiplinan dalam pengelolaan likuiditas terus menjadi fondasi utama bagi BRI dalam menjaga efisiensi biaya dana dan memastikan struktur dana pihak ketiga (pendanaan) yang optimal,” ujar Farida.

Dari sisi permodalan, Capital Adequacy Ratio (CAR) BRI tercatat di level 23,52%, di atas ketentuan minimum regulator. Posisi ini menunjukkan kapasitas permodalan BRI yang memadai untuk menopang ekspansi bisnis secara prudent, menyerap potensi risiko, serta menjaga stabilitas dan ketahanan Perseroan.

Dengan struktur permodalan yang kokoh, BRI masih memiliki ruang yang cukup untuk terus mendorong pertumbuhan kredit, khususnya di

segmen UMKM dan pembiayaan produktif, sejalan dengan komitmen mendukung pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan.

Dari sisi kualitas aset, hingga akhir 2025 rasio NPL BRI terjaga di level 3,07%. Hal tersebut menjadi semakin relevan mengingat portofolio BRI yang mayoritas disalurkan ke segmen UMKM, yang secara karakteristik memiliki risiko lebih granular.

Adapun NPL yang rendah ini menunjukkan efektivitas strategi manajemen risiko yang solid dan penerapan prinsip kehati-hatian secara konsisten. Untuk menjaga kualitas kredit, BRI juga membentuk pencadangan yang memadai dengan NPL Coverage sebesar 178,1%.

Sinergi Holding Ultra Mikro

Selain penguatan funding, BRI juga memperkuat bisnis mikro dan sinergi dengan Holding Ultra Mikro (UMi) antara BRI, Pegadaian dan Permodalan Nasional Madani (PNM). Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya mengatakan langkah-langkah ini mencakup redesain peran dan peningkatan kapabilitas mantri, serta optimalisasi pipeline digital melalui BRIspot.

“Hingga akhir Desember 2025, Holding UMi telah menjangkau lebih dari 34,5 juta debitur aktif, dengan total simpanan mikro mencapai lebih dari 187 juta rekening. Selain itu, layanan bullion dan aplikasi digital Tring dari Pegadaian juga turut memperkuat posisi BRI Group dalam ekosistem emas nasional. Hingga akhir Desember 2025 total simpanan emas dalam ekosistem ultra mikro BRI Group mencapai 17,1 ton atau tumbuh 65,5% YoY,” ucap Akhmad.

“Di saat yang bersamaan ekosistem holding ultra mikro BRI Group juga mencatat bahwa di sepanjang tahun 2025 sebanyak 1,4 juta debitur berhasil naik kelas, atau tumbuh 11,82% YoY,” imbuh Akhmad.

Genjot Ekonomi Kerakyatan

Di luar pembiayaan, BRI juga terus memperluas dampak pemberdayaan sebagai bagian dari komitmennya terhadap ekonomi kerakyatan. Hingga akhir 2025, melalui Desa BRILIaN, BRI telah membina lebih dari 5 ribu desa di seluruh Indonesia. Penguatan sektor produktif berbasis komunitas juga dilakukan oleh BRI melalui program KlasterkuHidupku, dengan pengembangan 42 ribu klaster usaha.

Di sisi digital, BRI menghadirkan platform LinkUMKM yang mempertemukan pelaku UMKM dengan pasar, mitra bisnis, serta akses layanan keuangan. Tercatat, hingga akhir 2025, lebih dari 14,9 juta pelaku UMKM telah memanfaatkan platform ini untuk memperluas pasar, meningkatkan kapasitas usaha, dan mempercepat proses naik kelas.

Selain itu, BRI juga membina 54 Rumah BUMN dan telah menyelenggarakan lebih dari 18 ribu pelatihan sebagai upaya berkelanjutan dalam meningkatkan daya saing dan kapabilitas UMKM di berbagai daerah.

Sebagai bagian dari upaya meningkatkan partisipasi masyarakat dalam perputaran roda perekonomian, BRI BRI juga terus mendorong inklusi keuangan sekaligus menciptakan sharing economy dengan melibatkan masyarakat sebagai BRILink Agen.

Hingga akhir Desember 2025, jumlah BRILInk Agen telah mencapai lebih dari 1,1 juta agen atau tumbuh 12,2% YoY. Agen-agen tersebut tersebar di lebih dari 66 ribu desa dan menjangkau lebih dari 80% penjuru negeri dengan volume transaksi tembus Rp1.746 triliun atau tumbuh 9,9% YoY.

Penguatan basis pendanaan turut menopang kinerja Perseroan sepanjang 2025. Direktur Network & Retail Funding BRI Aquarius Rudianto menyampaikan pertumbuhan dana murah BRI terus ditopang oleh optimalisasi kanal digital yang mencatat kinerja positif dengan pertumbuhan double digit.

Adapun super App BRImo mencatat 45,9 juta pengguna per Desember 2025 atau tumbuh 18,9% YoY. Nilai transaksinya pun mencapai Rp7.057 triliun atau meningkat 26,1% YoY.

Di segmen menengah hingga korporasi, layanan QLola juga menunjukkan pertumbuhan kuat. Jumlah pengguna aktif mencapai 113 ribu atau naik 48,1%, dengan volume transaksi tumbuh 36,2% YoY menjadi Rp13.456 triliun.

Dari sisi merchant, transaksi bisnis melalui BRI meningkat pesat. Volume penjualan merchant naik 48,1% yoy menjadi Rp 223,2 triliun. Untuk QRIS, BRI juga menunjukkan tren yang sama. Sales volume naik 100% YoY menjadi Rp85,6 triliun, sementara jumlah transaksinya tumbuh 127,5% yoy menjadi lebih dari 782,8 miliar transaksi.

Di tengah penguatan kinerja dan transformasi yang terus berjalan, BRI memastikan untuk mengintegrasikan prinsip keberlanjutan ke dalam model bisnis, BRI konsisten mengarahkan portfolio bisnis untuk mendukung kegiatan yang memberikan dampak sosial dan lingkungan yang positif.

Hingga Desember 2025, portofolio Pembiayaan Kegiatan Usaha Berwawasan Sosial (KUBS) BRI mencapai Rp 718,7 triliun atau setara 53,5% dari total pinjaman BRI. Sementara itu, portofolio Pembiayaan Kegiatan Usaha Berwawasan Lingkungan (KUBL) BRI mencapai 7,1% dari total pinjaman BRI atau setara Rp 93,2 triliun. Dari sisi funding, BRI juga aktif mengembangkan Sustainable Wholesale Funding, di mana pada akhir Desember 2025 tercatat sebesar Rp45,6 triliun.

“Secara keseluruhan, pendekatan ini menunjukkan bahwa keberlanjutan di BRI tidak hanya berorientasi pada pemenuhan regulasi, tetapi telah menjadi bagian integral dari strategi pertumbuhan Bank. Integrasi tersebut memperkuat ketahanan bisnis, memperluas akses pembiayaan yang bertanggung jawab, serta memberikan nilai tambah sosial dan lingkungan bagi seluruh stakeholders,” tutur Aquarius.

Transformasi BRIVolution Reignite

Transformasi BRIVolution Reignite juga mulai menunjukkan hasil nyata melalui penguatan perusahaan anak di bawah BRI Group sebagai sumber pertumbuhan baru. Kinerja 10 perusahaan anak BRI tersebut tercatat semakin baik dan memberikan kontribusi positif terhadap BRI.

Hingga akhir Triwulan IV 2025, tercatat total asset Perusahaan Anak BRI tumbuh 23,3% YoY menjadi Rp267 triliun. Dari sisi profitabilitas, laba bersih Perusahaan Anak BRI meningkat 16,1% YoY, menjadi Rp10,38 triliun. Dengan kinerja impresif tersebut, perusahaan anak BRI Group berhasil memberikan kontribusi laba sebesar 18,2% dari total laba konsolidasi BRI.

Hery menegaskan BRI terus memperkuat perannya sebagai bank yang berpihak pada ekonomi kerakyatan. Perseroan akan tetap berkomitmen mendukung berbagai program prioritas pemerintah, memberdayakan UMKM dan ekosistem ultra mikro, serta memperluas akses pembiayaan produktif yang inklusif dan berkelanjutan.

“BRI tidak hanya mengejar pertumbuhan bisnis, tetapi memastikan setiap pertumbuhan memberikan dampak nyata bagi rakyat. Dengan fondasi yang kuat dan transformasi yang konsisten, kami optimistis dapat terus tumbuh bersama rakyat untuk Indonesia,” pungkas Hery .

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *