Home / Kotaku / Volume Sampah Kota Yogya Naik 10 Ton Selama Ramadan, Kondisi Depo Diklaim Tetap Aman

Volume Sampah Kota Yogya Naik 10 Ton Selama Ramadan, Kondisi Depo Diklaim Tetap Aman

 

Yogyakarta,REDAKSI17.COM – Geliat aktivitas masyarakat di Kota Yogyakarta selama bulan suci Ramadan 1447 H berdampak pada volume produksi sampah harian.

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta mencatat adanya tren kenaikan timbulan limbah, terutama yang bersumber dari pasar-pasar tiban dan pusat perburuan takjil.

​Kendati demikian, Kepala DLH Kota Yogyakarta, Rajwan Taufiq mengungkapkan, kenaikan volume sampah masih dalam kategori terkendali.

Merujuk pada data terkini, kenaikannya berada di kisaran 3 persen dari rata-rata produksi limbah pada fase normal yang menyentuh 300 ton per hari.

​”Kalau naik, ya naik, tapi tidak signifikan. Paling 3 persenan. Dari (rata-rata) 300 ton, tambahannya sebenarnya hanya sekitar 10 ton saja. Tidak sampai 5 persen,” ungkapnya, Selasa (3/3/26).

Menurut Rajwan, tambahan sampah ini sebagian besar berasal dari sisa-sisa konsumsi di Pasar Ramadan, hingga kegiatan pembagian takjil gratis.

Namun, DLH mengklaim, kondisi depo-depo sampah di wilayah Kota Yogyakarta tetap kondusif, serta tidak mengalami penumpukan yang berarti.

​Sebab, pihaknya menerapkan skema khusus supaya sampah dari kegiatan Ramadan ini tidak semuanya lari menuju tempat penampungan sementara.

Dengan sampah-sampah dari Pasar Ramadan yang kebanyakan merupakan limbah organik basah, praktis pengolahan di level hulu bisa langsung ditempuh.

“Sesuai SOP kita, baik dari permukiman warga maupun lokasi kegiatan Ramadan, sampah itu dimasukkan ke ember-ember organik (kapasitas) 25 kilogram,” jelasnya.

​Ember-ember tersebut kemudian dikumpulkan di titik kumpul tiap kelurahan oleh penggerobak yang ditugaskan pada masing-masing wilayah.

Dari titik inilah, kumpulan sampah organik langsung dijemput oleh offtaker tanpa harus mampir ke depo-depo sampah yang berada di Kota Pelajar.

​”Langsung dibawa ke offtaker, ada yang ke peternak dan sebagainya. Jadi meskipun naik 10 ton, itu tidak ke depo. Bisa dilihat sekarang, indikasi depo-depo kita kosong. Kalaupun ada isi, ya sebatas transit, dan paginya langsung diangkat,” ucapnya.

​Rajwan menyampaikan, langkah antisipasi ini membuahkan hasil menggembirakan berkat koordinasi yang dilakukan sejak sebelum memasuki bulan Ramadan.

DLH mengaku telah berkomunikasi intensif dengan para Mantri Pamong Praja, Lurah, hingga pengelola Pasar Ramadan, untuk disiplin dalam pemilahan sampah.

​Setiap harinya, tanpa terkecuali, para pedagang maupun panitia kegiatan diminta memastikan sampah organik basah terwadahi dengan baik.

Supaya, memudahkan pihak ketiga atau peternak melalui penggerobak, dalam mengambil sisa makanan tersebut untuk dijadikan pakan ternak atau kompos.

​”Sudah kita komunikasikan sampai Pak RT, Pak RW, dan panitia, untuk sampah-sampah organiknya itu ditaruh di ember yang sudah ada, terus diangkut penggerobak ke titik kumpul masing-masing kelurahan,” pungkasnya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *