Umbulharjo,REDAKSI17.COM – Kabar menarik bagi generasi muda kreatif di Kota Yogyakarta. Pemerintah Kota Yogyakarta resmi menggelar Sayembara Desain Logo Wamira (Warung Milik Rakyat) dengan total hadiah Rp21 juta untuk satu pemenang. Tak sekadar lomba desain, logo terpilih nantinya akan menjadi identitas resmi program Wamira yang akan di-branding di seluruh wilayah kota.

“Yuk, anak muda tunjukan kreativitasmu dan peranmu, karena Jogja itu juga milikmu,” ujar Kepala Dinas Perdagangan Kota Yogyakarta, Veronica Ambar Ismuwardani saat dikonfirmasi, Rabu (4/3).

Program Wamira sendiri bukanlah pendirian warung baru oleh pemerintah, melainkan pengembangan dari warung-warung yang telah lebih dahulu dikelola koperasi maupun kelompok masyarakat di lingkungan permukiman. Konsep ini menekankan penguatan kelembagaan dan tata kelola, sehingga warung rakyat yang sudah ada dapat menjaga ketersediaan pasokan barang serta  terintegrasi dalam sistem distribusi yang lebih baik sehingga dapat menjual barang lebih murah atau sesuai HET dan tidak mengambil keuntungan berlebih. Warung-warung ini akan memiliki identitas yang sama melalui branding Wamira. Dengan demikian, keberadaan Wamira memperkuat ekonomi kerakyatan tanpa mematikan usaha yang sudah berjalan.

Veronica menambahkan, sayembara ini merupakan bagian dari tahapan pengembangan program Wamira yang saat ini terus dipercepat.

“Memang tahapan Wamira ini agak panjang, tetapi akan kita mampatkan dan percepat. Saat ini kita memasuki tahapan sayembara logo Wamira. Sudah kita umumkan sejak 23 Februari dan berlangsung sampai 22 Maret,” ujarnya saat dikonfirmasi.

Sayembara ini dibatasi untuk peserta berusia maksimal 35 tahun. Pemerintah Kota secara khusus ingin memberi ruang bagi pelajar, mahasiswa, dan pelaku ekonomi kreatif muda untuk mengambil peran dalam pembangunan ekonomi kerakyatan di Kota Jogja.

“Kita batasi usia 35 tahun karena kita berharap teman-teman muda ini mengambil peran dalam pembangunan Kota Yogyakarta, khususnya pengembangan ekonomi kerakyatan. Monggo dipersilakan ikut sampai 22 Maret,” jelas Veronica.

Proses penjurian dijadwalkan berlangsung pada 23–29 Maret, dan pemenang direncanakan diumumkan pada akhir Maret. Total hadiah sebesar Rp21 juta diberikan kepada satu pemenang utama dalam bentuk uang dan barang.

“Karena ini sayembara, jadi terpilih hanya satu. Bukan hanya soal hadiahnya, tapi legacy-nya. Logo ini akan di-branding di seluruh Wamira di Kota Jogja. Jurinya juga tenaga ahli dari luar yang qualified, bukan dari pemerintah,” tegasnya.

Dalam ketentuan desain, peserta diminta menghadirkan logo yang merepresentasikan Wamira, Kios Segoro Amarto, serta identitas Kota Yogyakarta. Menurut Veronica, Wamira merupakan pengembangan dari Kios Segoro Amarto yang telah berjalan sejak 2016 sebagai instrumen stabilisasi harga dan pengendalian inflasi.

“Wamira ini salah satu cara kita mengendalikan inflasi, mulai dari ketersediaan barang sampai stabilisasi harga. Embrionya dari Kios Segoro Amarto, lalu kita breakdown sampai ketemu konsep Wamira. Itu yang kita harapkan bisa diterjemahkan dalam bentuk logo,” ujarnya.

Program Wamira sendiri merupakan warung berbasis koperasi atau kelompok masyarakat yang ditempatkan di lingkungan permukiman atau gang agar lebih dekat dengan warga. Konsep ini diharapkan menjadi simpul distribusi pangan rakyat dengan harga sesuai HET karena dipasok langsung dari distributor dan Bulog, dengan Pemkot sebagai fasilitator.

“Pesan Pak Wali, Wamira ini benar-benar milik rakyat. Dikelola koperasi atau kelompok masyarakat supaya kalau sukses, tidak sukses sendiri, tapi kelompoknya ikut berdaya,” jelas Veronica.

Informasi sayembara ini dapat dilihat secara lengkap melalui link https://bit.ly/infosayembaralogowamira dan pendaftaran melalui link https://bit.ly/sayembaralogowamira.

Melalui sayembara ini, Pemerintah Kota Yogyakarta berharap lahir identitas visual yang kuat sekaligus melibatkan generasi muda dalam gerakan ekonomi kerakyatan. Logo terpilih nantinya akan menjadi simbol resmi Wamira di seluruh warung yang menjadi lokasi pengembangan program tersebut.