Setelah terpilihnya Ayatollah Seyed Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin baru Revolusi Islam di Iran, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Kementerian Pertahanan, Dewan Pertahanan, Pasukan Quds IRGC, serta seluruh pasukan militer lainnya menegaskan kesetiaan mereka melalui pernyataan terpisah.
Pernyataan-pernyataan tersebut tidak hanya mencerminkan komitmen militer terhadap kepemimpinan baru, tetapi juga menekankan kesiapan mereka untuk mempertahankan nilai-nilai dan prinsip-prinsip Republik Islam.
Pernyataan itu juga menyoroti pentingnya transisi ini pada periode kritis dalam sejarah Iran, ketika negara tersebut menghadapi perang agresi tanpa provokasi yang dipaksakan oleh Amerika Serikat dan rezim Zionis. Sekaligus, menunjukkan dedikasi militer Iran terhadap keamanan nasional dan nilai-nilai Islam.
Sebelumnya, pada Ahad (8/3/2026) malam, Majelis Ahli Iran menetapkan Ayatollah Seyed Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin baru Revolusi Islam. Setelah gugurnya Ayatollah Seyed Ali Khamenei, yang telah memimpin Iran selama 37 tahun, Majelis Ahli memilih Ayatollah Seyed Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin ketiga Revolusi Islam.
Dalam sebuah pernyataan, Majelis tersebut menyampaikan belasungkawa atas gugurnya Imam Khamenei dan sejumlah lainnya dalam serangan Amerika Serikat–Israel pada 28 Februari serta mengecam agresi brutal AS–Israel terhadap Iran.
Pernyataan itu menyebutkan bahwa segera setelah gugurnya Imam Khamenei, Majelis Ahli tidak membuang waktu untuk menjalankan tugas konstitusionalnya dan segera memulai proses pemilihan serta pengenalan Pemimpin baru.
Disebutkan pula bahwa setelah melakukan peninjauan yang cermat dan luas, serta berdasarkan kewajiban religiusnya, Majelis dalam pertemuannya pada hari Minggu memilih dan memperkenalkan Ayatollah Seyed Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin ketiga Revolusi Islam dengan dukungan suara mayoritas anggota.
Majelis Ahli bertugas memilih dan mengawasi kegiatan Pemimpin Revolusi Islam.
Anggota majelis tersebut dipilih langsung oleh rakyat untuk masa jabatan delapan tahun.




