Home / Ekonomi dan Bisnis / IHSG Loyo-Bursa Asia Babak Belur, Ini Biang Keroknya

IHSG Loyo-Bursa Asia Babak Belur, Ini Biang Keroknya

Jakarta,REDAKSI17.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melorot dari level 7.000 ke 6.900-an pada awal perdagangan hari ini, Senin (16/3). Melemahnya indeks saham RI ini sejalan dengan sejumlah bursa saham Asia.
Berdasarkan data perdagangan RTI Business, IHSG sempat melemah lebih dari 3% ke level terendahnya pada posisi 6.917,32. Kemudian saat ini IHSG memangkas koreksinya menjadi 2% ke 6.994,57 pukul 09.54 WIB.

Sejalan dengan IHSG, bursa saham Nikkei 225 Indeks (N225) juga melemah 1,27% ke level 53.138,39. Kemudian Shanghai Composite Index (SSEC) juga terkoreksi 1,08% ke level 4.051,02.

Bursa Singapura, Straits Times Index (STI) juga tercatat melemah tipis 0,05% ke level 4.839,97. Hanya bursa saham Hang Seng Index (HSI) yang tercatat menguat sebesar 0,12% ke level 25.497,19.

Volatilitas yang terjadi pada bursa saham Asia masih dipicu oleh ketegangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran. Ketegangan ketiga negara tersebut menyebabkan tingginya harga minyak dunia.

Kondisi ini menekan sebagian besar bank sentral untuk menunda kebijakan moneternya. Pasalnya, ketegangan geopolitik ini dianggap memperumit prospek inflasi yang menjadi pertimbangan bank sentral dalam menetapkan arah kebijakan.

Diketahui saat ini, harga minyak Brent naik 0,8% menjadi US$ 104,01 per barel. Sementara untuk minyak mentah AS turun 0,2% menjadi US$ 98,48.

Bank sentral AS, Inggris, Eropa, Jepang, Australia, Kanada, Swiss, dan Swedia, juga dilaporkan akan menggelar pertemuan untuk membahas tentang lonjakan harga energi. JP Morgan menyatakan, sejumlah bank sentral ini akan menetapkan prakiraan kenaikan inflasi dan rendahnya pertumbuhan ekonomi.

“Prakiraan bank sentral akan langsung condong ke inflasi yang lebih tinggi dan pertumbuhan yang lebih rendah. Sejalan dengan pandangan ini, kami telah menunda atau membatalkan tindakan sebagian besar bank sentral yang diperkirakan akan bertindak pada bulan Maret dan April,” kata Kepala Ekonom JP Morgan, Bruce Kasman, dikutip dari Reuters, Senin (16/3/2026).

Saat ini, kontrak berjangka Eropa (EUROSTOXX 50) dan kontrak berjangka DAX naik masing-masing 0,2%. Sementara kontrak berjangka FTSE naik 0,3%. Nasib serupa juga dialami kontrak berjangka S&P 500 dan Nasdaq yang tercatat naik 0,4% di gejolak perdagangan.

Ke depan tantangan pasar keuangan global tidak hanya terjadi karena kenaikan harga energi, tetapi juga kombinasi tekanan fiskal akibat peningkatan pengeluaran pertahanan yang menyebabkan kenaikan imbal hasil obligasi dua digit secara global pekan lalu.

Imbal hasil obligasi Treasury sepuluh tahun berada di angka 4,267%, setelah naik 32 basis poin sejak perang dimulai. Sementara kontrak berjangka telah secara tajam mengurangi ruang lingkup untuk penurunan suku bunga di masa mendatang.

Bank Sentral AS (The Fed) diperkirakan mempertahankan suku bunga pada pertemuan hari Rabu mendatang. Kemudian peluang pelonggaran kebijakan moneter hingga Juni telah turun menjadi hanya 26%, dari 69% sebulan yang lalu.

Perhatian investor akan tertuju pada hasil pertemuan The Fed dan peluang pelonggaran kebijakan moneter lebih lanjut untuk tahun ini. Sementara bank sentral Australia, diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuan menjadi 4,1% untuk mengatasi inflasi yang kembali meningkat di dalam negeri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *