MANTRIJERON,REDAKSI17.COM — Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo bersama warga RW 05 Kampung Mangkuyudan melaksanakan Panen ke-3 Biopori Jumbo (BIMBO) hari ini Jumat (23/1). Kegiatan ini sebagai bagian dari komitmen pengelolaan sampah berbasis masyarakat dan sejalan dengan semangat MAS JOS (Masyarakat Jogja Olah Sampah – Olah Sampah Seko Omah) serta Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat (PSBM).
Saat ditemui, Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo mengapresiasi penerapan Biopori Jumbo yang tidak hanya berfungsi sebagai teknologi lingkungan, tetapi juga mendorong perubahan perilaku warga.

Menurutnya, masyarakat kini mulai terbiasa memilah sampah dari rumah, mengelola sampah organik secara mandiri, serta memanfaatkannya kembali untuk kepentingan bersama.
“Tahun kemarin pas awal-awal saya menjabat, saya ke sini dan kita cek biopori. Waktu itu bioporinya masih dua, tapi pengelolaannya sudah bagus. Sekarang karena kita tidak punya ruang yang cukup, maka kita perbanyak biopori. Di sini sudah ada lima sampai enam biopori, dan itu ternyata cukup untuk satu RW. Masyarakat sudah otomatis tahu diri, sisa-sisa organiknya dimasukkan ke situ,” ujarnya.
Hasto menjelaskan, peran pemerintah dalam program ini adalah mendukung masyarakat melalui pemberian aktivator agar proses komposting lebih cepat, membantu proses panen yang membutuhkan tenaga khusus, serta pembangunan biopori jumbo. Hasil panen kompos sepenuhnya menjadi milik warga dan dapat dimanfaatkan sendiri atau dijual.
“Hasil panennya bisa dipakai atau dijual. Satu kilo seribu rupiah dari sampah. Pemerintah tidak mengambil uangnya. Uangnya untuk masyarakat. Kami hanya membantu memanen, mengomposkan, dan membangun bioporinya. Kalau masih kurang, akan kita bantu lagi,” ujarnya.

Saat ini, jumlah biopori jumbo di Kota Yogyakarta telah mencapai lebih dari 600 unit. Pada tahun ini, Pemerintah Kota Yogyakarta menargetkan penambahan 400 biopori jumbo, sehingga totalnya menjadi sekitar 1.000 unit yang tersebar di seluruh wilayah kota.
“Kalau satu biopori jumbo bisa menahan sekitar dua ton sampah, maka 1.000 biopori jumbo bisa menahan sekitar 2.000 ton sampah. Ini jumlah yang sangat besar,” ungkapnya.
Tambahnya, program ini juga terintegrasi dengan urban farming dan integrated farming melalui pembangunan Unit Pengolah Pupuk Organik (UPO) di beberapa lokasi, antara lain di sekitar Pasar Burung PASTY, Tegalgendu, dan Tegalrejo. Di lokasi-lokasi tersebut, kompos hasil biopori dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan pertanian dan lorong sayur warga.
Hasto pun mendorong agar lorong sayur di Kampung Mangkuyudan terus diperbanyak dengan melibatkan lebih banyak warga, khususnya ibu-ibu. Selain memanfaatkan ruang sempit agar tetap produktif, program ini diharapkan dapat membantu menekan pengeluaran rumah tangga dan turut berkontribusi menjaga stabilitas harga pangan.
“Harapan saya, ini bisa mengurangi belanja cabai. Cabai ini sering mempengaruhi inflasi. Tadi saya lihat cabenya bagus-bagus, bahkan ada cabai Papua yang besar-besar. Mudah-mudahan bisa membantu mencegah inflasi,” imbuhnya.
Sementara itu, Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Subur Makmur Lestari RW 05 Kampung Mangkuyudan, Sumarsini mengungkapkan, pengelolaan sampah melalui Biopori Jumbo di wilayahnya telah berjalan sejak tahun 2021 dan memberikan dampak nyata bagi lingkungan serta kesejahteraan warga.
“Awalnya kami hanya punya dua bangunan biopori jumbo. Setelah disosialisasikan ke warga, masyarakat mulai memilah sampah dari rumah. Sampah anorganik dikelola melalui bank sampah yang dibuka sebulan sekali, setiap Minggu terakhir. Sedangkan sampah organik setiap hari bisa langsung dibuang ke dua bangunan biopori itu,” ungkapnya.
Untuk mempercepat proses pembusukan, sampah organik yang masuk ke dalam biopori secara rutin, minimal seminggu sekali, diberi tetes tebu dan EM4. Setelah melalui proses pengomposan selama kurang lebih enam bulan, sampah tersebut dapat dipanen menjadi kompos. “Kompos yang dihasilkan kami gunakan sebagai media tanam. Jadi sampah tidak berhenti diolah, tapi dimanfaatkan kembali untuk budidaya tanaman,” ujarnya.
Tambahnya, Kampung Mangkuyudan memiliki program setiap rumah tangga diwajibkan menanam minimal lima jenis tanaman sayuran. Jenis tanaman yang dibudidayakan antara lain cabai, terong, tomat, seledri, dan daun bawang yang dibutuhkan sehari-hari. “Kalau butuh, tinggal metik. Menanamnya mudah, hasilnya bisa dimanfaatkan setiap hari, dan ini jelas mengurangi pengeluaran rumah tangga,” tambahnya.
Saat ini, lebih dari 100 kepala keluarga di RW 05 telah aktif membuang sampah organik ke biopori. Pada masa uji coba awal, satu unit biopori digunakan oleh delapan rumah tangga dan mampu menampung sekitar 1 ton 125 kilogram sampah basah selama kurang lebih 10 bulan. Dari jumlah tersebut dihasilkan sekitar 350 kilogram kompos siap pakai.
“Kompos ini akan kami manfaatkan lagi sebagai media tanam. Jadi sistemnya berputar terus. Sekarang yang menjadi PR tinggal sampah plastik, karena memang tidak bisa kita olah. Tapi untuk sampah organik, masyarakat sudah paham dan rutin memasukkannya ke biopori,” imbuhnya.


