Jakarta,REDAKSI17.COM – Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengungkapkan alasan mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75%. Meskipun Bank sentral Amerika Serikat (AS) atau The Federal Reserve menaikkan suku bunga acuan.
Destry mengatakan keputusan tersebut diambil setelah BI melakukan assessment dan simulasi dampak kenaikan terhadap berbagai dampak kebijakan suku bunga terhadap perekonomian.
Kemudian juga mempertimbangkan kondisi inflasi yang merupakan anchor (jangkar) kebijakan. Di mana kondisi inflasi masih aman.
“Nah jadi pada saat kita kemarin juga menentukan kenapa BI nggak naikkan suku bunga kita, karena melihat bahwa karena anchor kita itu inflasi, anchor kita inflasi dan saat ini juga kami masih merasa nyaman dengan inflasi saat ini. Apalagi kita lihat core inflation itu masih di sekitar 2%-an. Bahwa core headline inflation akhirnya mencapai 3,19%” ujar Destry dalam Raker dengan Komisi XI DPR, Senin (28/9/2026).
Destry mengungkapkan berdasarkan assessment BI, jika BI Rate naik sebesar 25 basis poin, hal ini berpotensi menurunkan pertumbuhan ekonomi sekitar 0,1%.
Oleh karena itu, Destry mengatakan BI lebih memilih menggunakan instrumen kebijakan lain yang lebih terarah untuk menjaga stabilitas sekaligus mendorong arus modal masuk. Salah satunya melalui pemberian insentif biaya hedging bagi investor.
“Karena kalau naikkin ,BI itu dampaknya langsung kena semuanya gitu. Tapi kalau kita bermain targeted seperti yang kita lakukan untuk, apa namanya, untuk si insentif itu, itu dampaknya kan hanya kepada si info yang akan masuk dimana dia akan mendapatkan margin cost yang lebih murah gitu,” katanya.
“Nah kemudian, jadi itu yang paling juga, kenapa mau nggak mau memang kita harus selalu mengkombinasikan kebijakan itu, karena pertumbuhan tetap menjadi concern kita karena mandat kita kan bertambah,” sambungnya.





