Beranda / Daerah / Bentor Mulai Dihancurkan, 1.000 Becak Listrik Disiapkan

Bentor Mulai Dihancurkan, 1.000 Becak Listrik Disiapkan

Yogyakarta,REDAKSI17.COM  – Eksistensi becak motor di kawasan Sumbu Filosofi Yogyakarta secara bertahap akan digantikan dengan becak kayuh berpenguat tenaga listrik. Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X mengungkapkan, rencananya becak kayuh berpenguat tenaga listrik ini akan tersedia sebanyak seribu unit, yang tentunya lebih ramah lingkungan.

“Nanti kan rencananya (disediakan) seribu (becak listrik). Tetapi memang bertahap karena memproduksinya, mesinnya kan juga harus dibuat. Yang sudah kita produksi kan juga perlu masukan dari publik sendiri. Untuk duduk nyaman enggak? Khususnya dengan model seperti itu. Wanita kalau duduk di situ merasa nyaman enggak? Kalau hal-hal seperti itu sudah bisa kita perbaiki, semua merasa nyaman, baru kita bisa bicara produksi yang berkelanjutan,” tutur Sri Sultan saat ditemui usai menghadiri Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Asosiasi Pengusaha Jasaboga Indonesia (APJI) 2026 di Ayodhya Grand Ballroom, Hotel De Djokja, Rabu (03/06).

Penghapusan eksistensi becak motor yang sehari-hari kerap beroperasi di kawasan Sumbu Filosofi Yogyakarta ini pun resmi dimulai dengan dihancurkannya 50 unit becak motor pada Rabu (03/06) siang, di Halaman Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pengujian Kendaraan Bermotor Kota Yogyakarta. Namun, tak sekadar dihancurkan, pada kesempatan tersebut, 50 pengemudi becak motor yang dihancurkan masing-masing menerima pengganti berupa becak listrik baru, bantuan Program Bina Lingkungan dari PT KAI Persero.

Kepala Dinas Perhubungan DIY, Chrestina Erni Widyastuti menyebutkan, penghapusan becak motor ini bukan hanya pergantian alat transportasi saja, melainkan bagian dari langkah strategis mengurangi tekanan lingkungan. Tentunya juga mendukung terwujudnya Low Emission Zone (LEZ) atau kawasan rendah emisi di wilayah Sumbu Filosofi Yogyakarta. Upaya ini diharapkan dapat menurunkan tingkat pencemaran udara, menciptakan lingkungan yang lebih sehat, sekaligus memperkuat citra Yogyakarta sebagai kota budaya yang berorientasi pada pembangunan berkelanjutan.

Transformasi menuju penggunaan becak listrik merupakan bentuk adaptasi terhadap perkembangan teknologi transportasi yang lebih bersih, efisien, dan ramah lingkungan. Hal ini dilakukan tanpa menghilangkan identitas serta nilai budaya yang melekat pada moda transportasi tradisional Yogyakarta. Untuk itu, Erni menyampaikan apresiasi dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada PT KAI (Persero) yang telah menunjukkan komitmen nyata melalui Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) dengan memberikan bantuan becak kayuh berpenguat tenaga listrik kepada para pengemudi becak di Yogyakarta.

“Bantuan ini bukan hanya sekadar pemberian sarana transportasi, tetapi juga merupakan bentuk dukungan terhadap pelestarian moda transportasi khas Yogyakarta yang memiliki nilai sejarah, budaya, dan pariwisata yang tinggi. Kehadiran becak listrik diharapkan dapat meningkatkan kenyamanan dan produktivitas pengemudi, memberikan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat dan wisatawan, serta mendukung upaya pengurangan emisi dan penciptaan transportasi yang lebih ramah lingkungan,” terang Erni.

Penghapusan becak motor dan pengembangan becak listrik merupakan langkah penting yang patut diapresiasi. Keberhasilan program ini tentunya tidak lepas dari kerja sama yang baik antara pemerintah, dunia usaha, komunitas pengemudi becak, dan seluruh pemangku kepentingan.

“Kami berharap bantuan ini dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada wisatawan maupun masyarakat, sekaligus menjadi bagian dari gerakan bersama menuju transportasi yang lebih bersih dan berkelanjutan,” papar Erni.

Menurutnya, kawasan Malioboro ini ditargetkan bebas dari kendaraan bermotor mulai akhir November 2026. Nantinya yang boleh melintasi kawasan rendah emisi tersebut adalah kendaraan darurat, becak kayuh, becak kayuh bermuatan listrik, kendaraan non bbm, dan Trans Jogja. “Trans Jogja juga kita upayakan nanti ada nanti tambahan bus listriknya biar nanti pelayanannya juga semakin baik,” kata Erni.

Terkait pengadaan becak kayuh berpenguat tenaga listrik, Erni mengatakan akan berkoordinasi dengan mitra-mitra mengingat perhatian dan dukungan yang diberikan kepada kebijakan pemerintah ini sudah cukup banyak. “Kita baru punya 200-an lebih, harapannya itu ada tambahan lagi dari mitra-mitra mungkin dari BNI dan PLN yang kemarin kita sudah maju proposalnya. Kemudian nanti sebentar lagi Kementerian Keuangan juga akan support,” ucap Erni.

Saat ini, stasiun pengisian daya becak listrik sudah tersedia di TKP Ketandan. Ke depan, apabila kawasan Senopati akan menjadi endapan bagi bus dan becak lisrik, maka tidak menutup kemungkinan akan dibangun pula stasiun pengisian daya di lokasi tersebut.

Sementara itu, Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo menyampaikan, kehadiran becak kayuh berpenguat tenaga listrik ini menggantikan becak motor yang berjumlah hampir sekitar 900 unit di kawasan Malioboro. Hasto berharap jumlah tersebut dapat dicapai lebih cepat.

“Harapan saya dalam waktu 2 tahun, paling telat, 900 itu sudah tergantikan. Misalkan sekarang sudah ada 200 yang menggunakan itu, berarti kalau jumlahnya total 900, berarti yang 700 (becak motor) masih ada. Kemudian terus bertahap (pengadaan becak listrik), nanti begitu kita close, harapan saya 2028 itu sudah tidak ada lagi becak motor di Malioboro,” ujar Hasto.

Apabila ingin mengejar dalam waktu dua tahun, salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan pembelian menggunakan dana APBD. Apabila hanya menunggu bantuan mitra, maka pencapaian total pengadaan becak listrik yang dibutuhkan akan berlangsung lama.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Dinas Perhubungan Kota Yogyakarta, Agus Arif Nugroho melaporkan bahwa becak listrik yang diserahkan telah mendapatkan registrasi dari Dinas Perhubungan Kota Yogyakarta dengan diterbitkannya Surat Izin Operasional Kendaraan Tidak Bermotor atau SIOKTB dan Tanda Nomor Kendaraan Tidak Bermotor/TNKTB. Kehadiran becak listrik ini diharapkan dapat menjadi moda transportasi tradisional wisata yang lebih nyaman, efisien, aman atau berkeselamatan serta mendukung upaya pengurangan emisi karbon di jantung Kota Yogyakarta.

“Hal ini tentu selaras dengan misi Pak Wali Kota Yogyakarta yang tertuang di RPJMD tahun 2024-2029. Kami berharap semoga virus kebaikan dari PT KAI ini cepat menular kepada segenap pimpinan BUMN, perusahaan swasta, perorangan dan segenap masyarakat untuk berkenan mengalokasikan corporate social responsibility secara spesifik transformasi becak motor ke becak listrik ini,” harap Agus.

Sementara itu, Kepala Daerah Operasi PT KAI Daop 6 Yogyakarta, Bambang Respationo menerangkan, total dana CSR yang digelontorkan untuk memproduksi 50 unit becak kayuh berpenguat tenaga listrik ini, yaitu hampir Rp1 miliar. Ia turut berharap becak tersebut tidak hanya hadir untuk melayani penumpang saja, tetapi juga bermanfaat untuk lingkungan.

“Insya Allah CSR ini masih berlanjut. Namun, 50 unit pertama ini nanti akan ada evaluasi dulu karena produknya kan produk baru. Jadi tentu saja setelah diluncurkan masih banyak evaluasi, kita komitmen untuk perbaikan, menggandeng teman-teman yang lain, nanti ke depannya kita terus support lah program ramah lingkungan ini,” tegas Bambang.

Saat ditemui di tengah kegiatan, Ketua Koperasi Jasa Becak Wisata Yogyakarta, Petrus Juli Hartono menjelaskan, sistem serah terima becak listrik ini, yakni semuanya dihibahkan ke koperasi yang memang telah berbadan hukum. Yang mana berarti status becak tersebut tetap milik koperasi, sementara para pengemudi becak yang memiliki hak pakai. Para pengemudi becak motor ini pun telah teredukasi bagaimana mengoperasikan becak kayuh berpenguat tenaga listrik ini dan sudah melakukan ujicoba.

“Tanggapan teman-teman sangat senang, antusias. Kebijakan dari pemerintah memang harus menggunakan becak listrik karena bebas emisi, karena ke depannya mungkin untuk Malioboro itu akan bebas kendaraan bermotor. Oleh sebab itu, dari pemerintah memberikan solusi teman-teman bisa mencari rezeki tetap eksis mencari nafkah tetapi menggunakan becak listrik. Teman-teman juga antusias untuk menantikan becak listrik yang berikutnya,” ungkap Petrus.

Wasiyatno, salah satu pengemudi becak motor yang mendapatkan ganti becak listrik, mengaku sudah sekitar 10 tahun mengoperasikan becak motor miliknya. Awalnya, becak yang digunakannya untuk mencari nafkah tersebut adalah becak kayuh yang kemudian dimodifikasinya menjadi becak motor.

“Perasaannya karena sudah ada gantinya, becak listrik yang dari KAI, sudah ada yang baru kenapa harus pakai yang lama. Mudah-mudahan dari PT KAI bisa lebih banyak lagi. Dari biaya bensin mungkin lebih irit ini,” papar Wasiyatno.

Humas Pemda DIY

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *