Home / Ekonomi dan Bisnis / Biang Kerok Alotnya Negosiasi Kapal RI Lewat Selat Hormuz

Biang Kerok Alotnya Negosiasi Kapal RI Lewat Selat Hormuz

Jakarta,REDAKSI17.COM – Negosiasi yang dilakukan pemerintah agar dua kapal tanker Indonesia bisa melewati Selat Hormuz berlangsung alot. Dua kapal Pertamina yaitu Gamsunoro dan Pride tak kunjung dapat melintasi selat tersebut.
Menteri Luar Negeri Sugiono menyatakan sampai saat ini negosiasi masih terus dilakukan. Hal itu dilakukan secara intens oleh Kedutaan Besar Indonesia di Teheran bersama tim PT Pertamina (Persero).

“Mengenai negosiasi kapal Pertamina di Selat Hormuz. Tentu saja Kementerian Luar Negeri dalam hal ini Kedutaan Besar kita di Teheran juga terus melakukan pembicaraan. Kemudian bersama juga dengan tim dari Pertamina terkait dengan izin lewat dari kapal-kapal kita yang ada di Selat Hormuz,” ujar Sugiono di Gedung Bina Graha, Jakarta Pusat, Rabu (22/4/2026).

Menurutnya negosiasi menjadi alot karena internal pemerintahan Iran yang juga sedikit bermasalah. Seringkali keputusan di lingkup pemerintah tidak bisa serta merta diimplementasikan di lapangan.

“Permasalahannya menjadi semakin kompleks dengan situasi internal yang terjadi di Iran sendiri. Karena kadang-kadang apa yang menjadi policy dari atas itu tidak serta merta bisa diimplementasikan di lapangannya. Itu yang sedang dicari penyelesaiannya seperti apa,” ungkap Sugiono.

Sugiono juga menyinggung soal adanya perkembangan blokade Selat Hormuz hingga beberapa syarat agar kapal bisa lewat yang perlu dinegosiasikan oleh pemerintah Indonesia.

“Kemudian tentu saja ada perkembangan lagi tentang blokade Hormuz. Kemudian juga ada beberapa perkembangan terkait dengan syarat-syarat dari kapal boleh lewat dan sebagainya dan sebagainya, yang itu masih menjadi hal-hal yang kita negosiasikan dan kita bicarakan,” sebut Sugiono.

Pasokan BBM Cukup

Sugiono menyatakan stok energi Indonesia sampai saat ini masih cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, meskipun ada kapal tanker milik Pertamina yang hingga kini belum bisa melewati Selat Hormuz. Kapal yang terjebak itu tak membuat pasokan energi ke tanah air berkurang.

Dia mengungkapkan dari informasi yang didapatkan sejauh ini dua kapal tanker yang belum bisa melintasi Selat Hormuz itu membawa sekitar 2 juta barel minyak mentah yang bila dikonversi menjadi BBM jumlahnya tidak begitu besar.

“Kaitannya dengan tadi kapal Pertamina, itu dua kapal Pertamina yang ada di sana, yang di Selat Hormuz itu informasi yang saya dapatkan, yang disampaikan ke saya, bahwa isinya itu kurang lebih 2 juta barel crude yang kalau misalnya di-convert ya, saya tidak tahu perbandingannya, tapi kalau misalnya 1 banding 1, ya kurang lebih 2 juta barel, 2 juta barel fuel juga kan gitu kan,” papar Sugiono.

Menurutnya pemerintah telah mengamankan suplai BBM dari berbagai negara, tentunya yang pengirimannya tak perlu repot-repot melalui Selat Hormuz. Jumlah pasokan baru yang diamankan kapasitasnya jauh lebih besar dari besaran pasokan yang dibawa dua kapal Pertamina di Selat Hormuz.

“Keberhasilan pemerintah menjaga suplai BBM, suplai energi ini ya lebih besar daripada apa yang sekarang sedang nyangkut di Hormuz. Tanpa bermaksud mengecilkan permasalahan ini. Tapi saya ingin menempatkan ini dalam satu persepsi yang proporsional,” papar Sugiono.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *