“Trump memulai perang pilihan terhadap Iran. Itu akan membuat pembayar pajak AS menanggung biaya yang sangat besar,” tulisnya di akun X pribadinya, dikutip Senin (29/6).
Profesor Ekonomi Terapan dari Johns Hopkins University itu menambahkan, Trump meminta tambahan dana sebesar 70 miliar dolar AS kepada Kongres untuk membeli kembali persenjataan.
Ia memprediksi total biaya perang tersebut bisa melampaui 1 triliun dolar AS atau setara dengan Rp17,84 kuadriliun (kurs Rp17.842,50 per dolar AS) setelah semuanya selesai.
“Ketika semua selesai, saya memprediksi biaya perang pemerintah AS terhadap Iran akan melampaui 1 triliun dolar AS,” tandasnya.
Sebagai informasi, Pemerintahan Trump mengajukan permintaan anggaran darurat (supplemental funding) sebesar 87,6 miliar dolar AS (sekitar Rp1.574 triliun) kepada Kongres. Anggaran fantastis ini diajukan menyusul menipisnya stok persenjataan strategis nasional akibat konflik militer di Timur Tengah.
Dari total itu, sekitar 67,15 miliar dolar AS dialokasikan khusus untuk Departemen Pertahanan (Pentagon). Dana tersebut digunakan untuk membiayai operasional pasukan, menjaga kesiapan tempur, serta mengisi kembali persediaan senjata dan amunisi bernilai tinggi yang terkuras, termasuk rudal jelajah Tomahawk.





