Soeharto memilih cara yang jarang dilakukan oleh kepala negara lain saat turun ke rakyat. Dalam banyak kunjungan kerja ke desa‑desa, blusukan versi zamannya bukan sekadar turun dari mobil dan foto di balai desa. Ia sengaja meninggalkan hotel dan tempat tinggal mewah, lalu bermalam di rumah penduduk atau rumah kepala desa yang sederhana. Langkah ini bukan simbol semata tetapi cara untuk merasakan denyut kehidupan masyarakat akar rumput secara langsung.
Praktik ini banyak terjadi pada era awal kepresidenannya, sekitar tahun 1970, ketika Soeharto fokus pada pembangunan pertanian dan pemerataan hasil pembangunan. Salah satu kunjungan tanpa gembar‑gembor berlangsung pada April 1970, ketika ia berkeliling desa‑desa di Pulau Jawa, termasuk Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, selama hampir dua minggu. Selama perjalanan ini, ia melakukan inspeksi langsung tanpa protokoler dan tanpa memberi tahu pejabat setempat tentang kedatangannya.
Dalam perjalanan tersebut Soeharto berjalan tanpa protokoler berat. Ia ingin melihat, mendengar, dan mencatat apa adanya tanpa pengawasan pejabat atau laporan yang sudah disiapkan. Mantan ajudannya, Try Sutrisno, menuturkan bahwa Soeharto sering melakukan kunjungan incognito. Tidak seorang pun mengetahui rencana persisnya, termasuk pejabat daerah. Hal ini membuat reaksi warga benar‑benar spontan dan informasi yang diperoleh tidak terfilter.
Rutinitasnya unik. Rombongan tidak bermalam di hotel atau rumah pejabat. Soeharto tidur di rumah warga dan berbincang sampai larut malam. Ketika meja atau kursi tidak tersedia, ia tetap mencatat keluhan dan harapan masyarakat dengan pena di buku catatannya. Logistik makanan sederhana sering dibawa dari rumah, termasuk beras dan lauk pauk agar kebutuhan makan tetap terjaga selama di lapangan.
Pendekatan ini bukan sekadar ramah tamah. Catatan‑catatan yang dikumpulkan kemudian dibawa dan dibahas dalam rapat kabinet. Fakta di lapangan menjadi tolok ukur utama. Jika suatu daerah tertinggal, hal itu dicatat dan menjadi bahan evaluasi. Jika ada capaian positif dari pembangunan, hal itu pun diakui sebagai prestasi nyata. Tidak ada ruang bagi manipulasi data karena yang menjadi referensi adalah pengalaman langsung.
Kebiasaan tersebut menunjukkan sisi berbeda dari kepemimpinan Soeharto. Ia tidak hanya ingin tahu lewat laporan administratif. Dengan menginap di rumah warga dan berdialog tanpa sekat, pemahaman mendalam tentang persoalan bangsa bisa diperoleh. Interaksi langsung ini menjadi alat kontrol yang kuat terhadap laporan birokrasi dan membantu mengambil kebijakan yang lebih akurat.





