Di Tengah Badai 1965, Pak Harto Tak Tinggalkan Umar: Kesetiakawanan yang Teruji di Ujung Kekuasaan
Awal Oktober 1965 adalah masa ketika Jakarta seperti berada di ujung tanduk. Kekuasaan berguncang, informasi berseliweran, dan setiap keputusan politik mengandung risiko besar. Di tengah suasana itu, Umar Wirahadikusumah, yang saat itu memimpin Kodam V/Jaya, mengambil sikap tegas terhadap media massa yang dinilainya menjadi corong PKI. Harian Rakjat dan Suluh Indonesia diperintahkan untuk dibreidel karena pemberitaannya dianggap memutarbalikkan fakta dan berpihak kepada PKI.
Keputusan itu kemudian membawa Umar bersama Pak Harto menghadap Presiden Soekarno. Bung Karno mempertanyakan tindakan tersebut dan menyarankan agar media massa tidak dibatasi. Umar tetap berdiri pada pendiriannya. Ia menjelaskan bahwa sebagai pimpinan wilayah, dialah yang bertanggung jawab atas keputusan tersebut.
Namun, ujian sesungguhnya justru datang setelah pertemuan itu. Bung Karno kemudian meminta berbicara empat mata dengan Pak Harto. Tak ada yang mengetahui persis apa yang dibicarakan di ruangan tersebut. Tetapi ketika keduanya meninggalkan Istana dan berada dalam satu jeep dalam perjalanan kembali ke kantor, Pak Harto menyampaikan kepada Umar sebuah kabar yang mengejutkan: “You harus angkat kaki dari Kodam.”
Kalimat itu pendek, tetapi maknanya berat. Umar sadar, sikapnya telah membawa konsekuensi. Ia pun mengatakan kepada Pak Harto, terserah akan disalurkan ke mana dirinya setelah tidak lagi berada di Kodam. Di tengah pusaran politik yang begitu keras, masa depan seorang perwira dapat berubah hanya karena satu keputusan.
Tetapi sejarah kemudian memperlihatkan sebuah ironi yang justru dikenang Umar sebagai bentuk kesetiakawanan. Beberapa waktu setelah peristiwa itu, Umar bukan sekadar dipindahkan dari Kodam V/Jaya. Ia justru mendapat tugas menggantikan Pak Harto sebagai Panglima Kostrad. Bagi Umar, penugasan tersebut meninggalkan kesan yang jauh lebih dalam daripada sekadar pergantian jabatan.
Ia melihat ada tangan seorang sahabat yang tetap bekerja dalam diam, ketika dirinya berada dalam posisi yang sulit. Tidak ada pidato kepahlawanan. Tidak ada pengumuman tentang sebuah jasa. Hanya sebuah keputusan yang kemudian membuka kembali jalan yang sempat tertutup.
Dari pengalaman itulah Umar sampai pada kesimpulan yang sangat kuat: ia telah “dilindungi” Pak Harto, meskipun pimpinan tertinggi negara sebelumnya telah memerintahkan agar dirinya meninggalkan Kodam V/Jaya. Di sinilah sosok Pak Harto, dalam kesaksian Umar, tampil bukan hanya sebagai seorang komandan, tetapi sebagai pemimpin yang memahami arti kesetiaan dalam masa paling genting.
Ketika badai politik mengguncang segala sesuatu dan banyak orang harus memilih antara menyelamatkan diri atau tetap berdiri bersama kawan, Pak Harto memilih untuk tidak melupakan orang yang pernah berada dalam satu barisan dengannya. Sebab bagi seorang pemimpin, kesetiaan bukan diuji ketika keadaan tenang. Kesetiaan justru menemukan maknanya ketika badai datang, ketika risiko membesar, dan ketika seorang kawan nyaris kehilangan tempat berpijak.





