UMBULHARJO,REDAKSI17.COM — Cuaca ekstrem dan intensitas curah hujan yang meningkat dapat memicu potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir, genangan, angin kencang, hingga longsor di beberapa titik rawan.
Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Yogyakarta mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan bencana yang dapat terjadi sewaktu-waktu.
Ketua Tim Kerja Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Yogyakarta, Darmanto mengungkapkan, pihaknya terus melakukan pemantauan intensif terhadap kondisi sungai di wilayah Kota Yogyakarta.
Berdasarkan pemantauan Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalop) BPBD Kota Yogyakarta, debit dan ketinggian air di Sungai Gajah Wong, Sungai Code, Sungai Winongo, serta wilayah hulu di Ngentak, Sleman, dipantau secara real-time menggunakan alat telemetri.
“Sejauh ini belum terpantau adanya kenaikan debit air yang signifikan maupun laporan kondisi luar biasa yang berpotensi memicu banjir di Kota Yogyakarta. Meski demikian, hujan masih sering turun dan debit air bersifat fluktuatif akibat cuaca ekstrem,” jelas Darmanto saat diwawancarai, Jumat (30/1).
Ia menambahkan, kondisi cuaca ekstrem belakangan ini sangat berkaitan dengan hujan yang tidak menentu, dengan intensitas sedang hingga lebat yang terjadi secara berkala.
Untuk itu, BPBD Kota Yogyakarta terus memantau informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang mencatat adanya pembentukan awan hujan cukup tinggi di wilayah Yogyakarta. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan hujan lebat disertai kilat, angin kencang, serta peningkatan aliran air di sungai-sungai kecil.
Menyikapi kondisi tersebut, BPBD mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai beberapa potensi risiko, antara lain banjir genangan lokal akibat sistem drainase yang tidak mampu menampung air hujan dalam waktu singkat, luapan sungai bagi warga yang tinggal di bantaran sungai terutama saat hujan terjadi di wilayah hulu, serta bahaya angin kencang dan petir yang dapat menyebabkan pohon tumbang maupun kerusakan atap rumah.

Foto dokumentasi BPBD Kota Yogyakarta saat melakukan pembersihan pohon tumbang.

“Selain itu, potensi talud longsor di kawasan permukiman bantaran sungai juga perlu diantisipasi, khususnya jika curah hujan tinggi terjadi secara berulang,” ungkapnya.
Sebagai upaya mitigasi dan kesiapsiagaan, BPBD Kota Yogyakarta telah melakukan sejumlah langkah, di antaranya pemantauan sungai selama 24 jam melalui alat telemetri di titik-titik strategis sebagai sistem deteksi dini, koordinasi intensif dengan BMKG dan instansi terkait untuk memperoleh pembaruan peringatan dini cuaca, serta pengoperasian sistem Early Warning System (EWS) yang akan berbunyi saat kondisi sungai mencapai ambang risiko banjir.
BPBD juga turut berpartisipasi dalam penguatan kesiapsiagaan wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, termasuk penetapan status siaga bencana hidrometeorologi pada beberapa periode musim hujan sebelumnya.
Darmanto juga menyampaikan pesan penting kepada masyarakat agar selalu mengikuti informasi resmi dari BPBD dan BMKG, mengenali titik-titik rawan di lingkungan masing-masing, menjaga kebersihan saluran drainase dan sungai, serta menyiapkan perlengkapan darurat seperti senter, obat-obatan, makanan tahan lama, dan kontak darurat. “Keselamatan jiwa adalah prioritas utama. Lindungi keluarga dan harta benda saat kondisi cuaca memburuk,” imbuhnya.