Menurutnya, jika sang presiden kembali maju sebagai calon presiden, belum tentu politikus muda itu otomatis menjadi pilihan untuk kembali mendampinginya. Ada banyak pertimbangan politik yang dapat membuat konfigurasi pasangan berubah.
“Belum ada sejarahnya pasangan presiden, wakil presiden periode pertama itu ada di periode kedua. Belum ada juga,” ujar Hendri, dikutip Selasa (22/9/2026).
Pernyataan tersebut memberikan gambaran bahwa skenario keduanya maju bersama dalam jilid dua masih jauh dari kepastian. Bahkan, secara historis, belum terdapat contoh pasangan presiden dan wakil presiden yang kembali tampil sebagai pasangan yang sama untuk memenangkan periode kedua dalam sistem pemilihan langsung di Indonesia.
Jika Prabowo kembali maju pada pilpres mendatang, posisi politikus muda itu tentu tetap menjadi salah satu opsi. Namun, keputusan tersebut tidak hanya bergantung pada hubungan politik keduanya.
Prabowo harus mempertimbangkan komposisi partai pendukung, kebutuhan koalisi, kekuatan elektoral, serta potensi dampak pilihan cawapres terhadap peta politik setelah 2029.
Hendri sebelumnya juga menilai mempertahankan politus muda itu bukan tanpa konsekuensi bagi Gerindra. Menurutnya, pilihan tersebut dapat memperkuat parpol lain, seperti kekuatan politik yang berada dalam bayang-bayang Golkar.
“Sama, kalau dia mengambil Gibran. Itu bisa jadi membahayakan Gerindra. Dan membesarkan pihak yang dalam bayang-bayang Golkar,” ujarnya.
Hendri juga melihat persoalan cawapres tidak dapat dipisahkan dari kebutuhan seorang presiden untuk menjaga stabilitas politik hingga masa jabatan berakhir.
Seorang presiden yang memasuki periode kedua tentu memiliki kepentingan untuk memastikan pemerintahan berjalan tanpa gangguan besar. Kondisi tersebut dapat memengaruhi keputusan mengenai siapa yang akan berada di sampingnya.
“Kenapa? Karena di periode kedua si presiden ini juga pengen landingnya smooth, aman, gak digangguin,” tuturnya.
Pertimbangan tersebut membuat pilihan pasangan untuk periode kedua bisa saja berbeda dengan pasangan pada periode pertama.
Bagi Prabowo, Gibran kembali dapat memberikan kesinambungan pemerintahan. Namun, mempertahankan pasangan yang sama juga berarti mempertahankan konfigurasi kekuatan politik yang sudah terbentuk sejak awal pemerintahannya.
Sebaliknya, mengganti cawapres membuka kesempatan bagi politikus itu untuk memperluas koalisi dan mengakomodasi kekuatan politik lain. Tetapi langkah tersebut juga dapat menimbulkan konsekuensi terhadap hubungan dengan kelompok politik yang selama ini berada di belakang pemerintahan.



