
JAKARTA,REDAKSI17.COM – Di tengah stigma biaya politik yang kerap membebani kandidat, Anggota DPR RI Fraksi Partai NasDem, Fauzan Khalid, justru mengaku menemukan pengalaman berbeda. Ia menegaskan, keputusannya bergabung dengan Partai NasDem dilandasi implementasi nyata slogan “politik tanpa mahar” yang ia alami.
“Saya tidak pernah berpartai. Pada saat saya dicalonkan sebagai Bupati Lombok Barat pada Pilkada 2019 pun saya belum menjadi kader Partai NasDem. Ketika dicalonkan, tidak ada sepeser pun uang mahar yang diminta dan yang saya serahkan untuk pencalonan,” kata Fauzan, saat menjadi pembicara dalam Bimbingan Teknis Anggota DPRD Fraksi Partai NasDem serta Pendidikan Politik Struktur Partai NasDem se-Jawa Tengah dan Jawa Barat di Jakarta, Jumat (24/04/2026).
Pengalaman itu, menurut Fauzan, menjadi titik balik. Ia kemudian resmi menjadi kader Partai NasDem saat maju sebagai calon anggota DPR RI dari Dapil NTB II Pulau Lombok pada Pemilu 2024, setelah menuntaskan dua periode jabatannya sebagai Bupati Lombok Barat (2016–2024).
“Ketika itu, saya dipanggil ke DPP Partai NasDem, dan langsung diberikan Surat Keputusan (SK) pencalonan sebagai Bupati Lombok Barat oleh Ketua Umum. Tidak ada mahar. Sejak saat itu, saya mulai simpati dan memilih menjadi kader Partai NasDem,” ujarnya.
Kini, selain duduk di Komisi II DPR RI yang membidangi kepemiluan, pemerintahan, dan pertanahan, Fauzan juga mengemban amanah sebagai Koordinator Wilayah (Korwil) Partai NasDem Nusa Tenggara Barat.
Di hadapan para anggota DPRD Fraksi Partai NasDem dari Jawa Tengah dan Jawa Barat, Fauzan menekankan pentingnya sinkronisasi kerja politik. Ia meminta anggota dewan aktif berkomunikasi dengan kepala daerah untuk memahami prioritas pembangunan.
“Jadi, program kerja Fraksi NasDem selaras dengan prioritas pembangunan daerah. Anggota DPRD juga harus berkomunikasi dengan Anggota DPR RI Fraksi NasDem, supaya program kerja bisa diselaraskan untuk kesejahteraan rakyat,” jelasnya.
Ia juga menyinggung peta pemilih pada Pemilu 2029 yang diproyeksikan didominasi generasi Z. Menurutnya, pendekatan politik harus mulai disesuaikan sejak sekarang.
“Mereka bisa dibuatkan wadah atau komunitas tempat berkumpul. Sesuaikan dengan minat dan hobi mereka. Mulai dari sekarang, perhatikan hal-hal kecil, karena dampaknya nanti bisa dirasakan pada pemilu 2029 mendatang,” kata Fauzan.



