Beranda / Daerah / Festival Literasi Gunungkidul 2026 Resmi Dibuka, Sestama Perpusnas RI Puji Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial

Festival Literasi Gunungkidul 2026 Resmi Dibuka, Sestama Perpusnas RI Puji Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial

Gunungkidul,REDAKSI17.COM – Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaten Gunungkidul resmi membuka Festival Literasi Kabupaten Gunungkidul 2026. Acara yang menjadi puncak kegiatan perpustakaan ini dipusatkan di kantor Dispussip Gunungkidul dan akan berlangsung selama lima hari, mulai Rabu hingga Minggu 16-20 September 2026.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Gunungkidul, Oneng Windu Wardana menjelaskan bahwa festival ini mengusung tema “Peran Perpustakaan dalam Mengembangkan Perubahan Melalui Literasi untuk Kesejahteraan.” Menurutnya, kegiatan ini dirancang untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat melalui jalur literasi dengan siklus yang berkesinambungan.

“Tagline-nya adalah membaca. Setelah membaca, orang akan ada cipta mencipta. Nah, setelah orang mencipta, ada menginspirasi. Ketika orang sudah terinspirasi, maka dia akan membaca lagi bahan yang lain, kemudian mencipta lagi produk, terinspirasi lagi. Kalau itu terus semuanya berjalan, maka fungsi dari literasi itu dapat berjalan dengan optimal,” ujar Windu.

Windu berharap masyarakat luas dapat memanfaatkan momentum lima hari festival ini dengan datang langsung, mengikuti berbagai rangkaian acara, dan meningkatkan kapasitas literasinya. Hal ini, lanjut dia, sejalan dengan visi besar pemerintah daerah.

“Sehingga nanti untuk tujuan akhirnya, masyarakat Kabupaten Gunungkidul memiliki kapasitas literasi yang semakin baik. Ini juga sesuai dengan misi Bupati: Bocah Pinter, dan seterusnya, di mana peningkatan literasi adalah salah satu bentuk kontribusi nyata dari Dispussip,” imbuhnya.

Sementara itu Asisten Administrasi Umum Sekretariat Daerah Kabupaten Gunungkidul, Saptoyo, yang hadir mewakili Bupati Gunungkidul dalam sambutannya menegaskan bahwa Festival Literasi bukan sekadar agenda seremonial tahunan, melainkan momentum strategis untuk memperkuat budaya membaca, meningkatkan kecakapan literasi, serta mendorong perpustakaan bertransformasi menjadi ruang belajar, kreativitas, inovasi, dan pemberdayaan masyarakat.

“Literasi hari ini tentu tidak cukup dimaknai sebagai kemampuan membaca dan menulis. Literasi berarti kemampuan memahami informasi, berpikir kritis, memilah informasi yang benar, menggunakan pengetahuan secara bijak, serta mengubah pengetahuan menjadi gagasan dan karya yang bermanfaat,” ujar Saptoyo di hadapan para tamu undangan dan pegiat literasi.

Ia juga mengingatkan pentingnya ketahanan literasi di tengah arus informasi dan perkembangan teknologi digital yang begitu cepat. Masyarakat, kata dia, dituntut cerdas dan bertanggung jawab dalam menyaring informasi.

“Masyarakat yang literat bukan sekadar masyarakat yang banyak membaca. Masyarakat yang literat adalah masyarakat yang mampu menjadikan pengetahuan sebagai kekuatan untuk mengambil keputusan, menyelesaikan persoalan, meningkatkan kualitas hidup, dan menciptakan perubahan,” tambahnya.

Pembukaan Festival Literasi Gunungkidul 2026 ini turut dihadiri oleh Sekretaris Utama (Sestama) Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Dr. Drs. Joko Santoso, M.Hum. Dalam pandangannya, festival ini merupakan sebuah terobosan yang luar biasa karena mampu merangkul kolaborasi lintas sektor yang sangat masif, mulai dari BUMN hingga berbagai komunitas lokal dari seluruh wilayah Gunungkidul.

Joko Santoso mencatat setidaknya tiga poin penting dari pelaksanaan festival ini. Pertama, aktivitas berbasis membaca yang tidak berhenti pada teks semata, melainkan berdampak pada kemampuan menuturkan kembali hingga melahirkan karya tulis nyata melalui bimbingan teknis menulis.

Kedua, kontekstualisasi dan inovasi. Ia mencontohkan bagaimana 25 stan pameran produk literasi membuktikan bahwa literasi mampu mendorong kreativitas, seperti pemanfaatan limbah bonggol pisang menjadi produk bernilai tambah tinggi berupa keripik.

Ketiga, gerakan sosial dan kesejahteraan. Joko menyoroti bagaimana gerakan literasi di Gunungkidul berhasil merambah ke berbagai lapisan masyarakat, termasuk warga binaan di lembaga pemasyarakatan (lapas) yang tetap produktif berkarya.

Ia menegaskan, keberhasilan gerakan literasi berbasis sosial di Gunungkidul inilah yang menjadikan wilayah ini terpilih sebagai percontohan nasional sekaligus internasional.

“Tahun lalu, Gunungkidul kita jadikan wilayah percontohan implementasi program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial. Percontohan ini tidak hanya di lingkup Indonesia, tetapi juga untuk lingkup kerja sama negara-negara Selatan-Selatan di bawah Project Colombo Plan yang dikelola oleh Sekretariat Negara, di mana kita saat itu mengundang 15 negara,” ungkap Joko.

Festival Literasi 2026 dimeriahkan dengan berbagai agenda menarik, di antaranya pameran produk literasi yang melibatkan Perpuskal dan mitra Dispussip (25 stan), serta pameran buku yang menghadirkan 8 penerbit. Selain itu, agenda pembukaan juga diisi dengan gelar wicara bertema literasi untuk Gunungkidul maju, berbudaya, dan sejahtera.

Sebagai bentuk apresiasi terhadap prestasi masyarakat, dalam acara pembukaan juga dilakukan penyerahan hadiah bagi para pemenang lomba, diantaranya :

Juara 1 Lomba Bertutur: Nataline Alena Johan (SDN Baran 1 Rongkop)
Juara 1 Lomba Resensi: Rafika Khairunnisa Prahastiwi (SMPN 2 Wonosari)
Juara 1 Lomba Video Konten Literasi: Probo Dwi Atmono (Semin)
Juara 1 Lomba Perpustakaan Desa/Kelurahan: Perpustakaan Sumber Ilmu, Karangtengah, Wonosari

Acara ini semakin istimewa dengan adanya launching sejumlah buku karya lokal, yang terdiri dari:

Buku Hasil Bimtek Kepenulisan Berbasis Konten Budaya Lokal:
Identitas Budaya Gunungkidul: dalam Dinamika Modernitas (Buku 1)
Simfoni Syukur di Tanah Karst: Antara Lanskap Geopark & Jiwa Manusia Gunungkidul (Buku 2)

Buku Antologi Peserta Bimtek Literasi Informasi:
Cakrawala Literasi (Angkatan I)
Membuka Jendela Literasi (Angkatan II)
Jejak Cahaya dalam Kata (Angkatan III)

Buku Antologi Resensi:
Jejak Literasi dalam Kata: Antologi Resensi Buku Berbasis Koleksi Perpustakaan Daerah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *