Home / Karya dan Opini / Gencatan Senjata Iran-AS: Kesempatan Terakhir Sebelum Perang Kembali Membesar

Gencatan Senjata Iran-AS: Kesempatan Terakhir Sebelum Perang Kembali Membesar

Oleh: Mahendra Siregar, Ekonom dan Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat (2018-2019)

Jakarta,REDAKSI17.COMGencatan senjata dua minggu antara Iran dengan AS yang disepakati pada tanggal 8 April 2026 akan berakhir pada 22 April mendatang. Sementara itu, serangan Israel ke Lebanon baru saja dihentikan pada tanggal 17 April setelah didesak oleh AS. Iran merespon penghentian serangan itu dengan membuka kembali pelayaran komersial melalui Selat Hormuz.Apa yang akan terjadi kemudian? Apakah akan ada pembicaraan tahap kedua melalui mediasi Pakistan dalam waktu dekat? Lalu apakah gencatan senjata akan diikuti oleh Perundingan Perdamaian yang lebih permanen, atau justru akan menghadapi kendala besar dan berhenti, malah berbalik kembali menuju eskalasi peperangan?

Dalam opini yang dipublikasikan pada tanggal 11 April 2026 (baca di sini), saya menyampaikan bahwa Israel walaupun dengan sangat terpaksa akan menuruti desakan AS untuk menghentikan serangan ke Hezbollah di Lebanon. Namun hal itu dilakukan hanya beberapa hari saja sebelum masa 2 minggu gencatan senjata berakhir, sehingga waktu yang tersisa tidak memadai untuk memulai kembali pembicaraan yang dimediasi oleh Pakistan itu.

Dalam opini itu, saya juga menyampaikan bahwa gencatan senjata akan diperpanjang, setidaknya satu minggu untuk memberikan ruang lebih besar bagi pembahasan yang lebih substantif dan luas. Berbagai perkembangan terakhir semakin menguatkan kemungkinan perpanjangan gencatan senjata yang kemungkinan besar akan diumumkan Presiden Trump dalam beberapa hari ini, dengan menyatakan bahwa pembahasan sudah bergerak maju, sehingga kesempatan untuk mengakhiri perang ini dan AS mencapai tujuannya semakin pasti.

Presiden Trump hampir pasti akan membingkai perpanjangan gencatan senjata sebagai keberhasilan strateginya. Ia akan menyatakan bahwa tekanan militer AS telah memaksa Iran membuka kembali Selat Hormuz, menghentikan sebagian aktivitas militernya, dan bersedia memasuki pembahasan yang lebih luas. Namun alasan yang lebih mendasar adalah bahwa Trump menyadari perang dengan Iran tidak dapat dimenangkan hanya melalui serangan udara.

Untuk benar-benar memaksa perubahan strategis Iran, AS harus mempertimbangkan pengerahan pasukan darat, marinir, dan infanteri. Inilah pilihan yang paling dihindari Trump. Risiko korban pasukan AS, ancaman serangan balasan Iran terhadap sekutu-sekutu GCC, lonjakan harga minyak, serta dampak politik menjelang pemilu legislatif November membuat opsi perang total terlalu mahal. Karena itu, jalan keluar yang paling rasional bagi Trump adalah memperpanjang gencatan senjata dan mengubah tekanan militer menjadi proses perundingan.

Gencatan senjata ini dapat efektif bukan karena AS dan Iran telah saling percaya, melainkan karena keduanya memiliki kepentingan yang sama untuk tidak kembali ke perang total dalam waktu dekat. Iran membutuhkan ruang pemulihan setelah tujuh minggu serangan intensif AS dan Israel. AS membutuhkan jalan keluar politik yang dapat diklaim sebagai kemenangan tanpa harus memperluas perang. Selama Israel dapat dikendalikan sementara oleh Washington, dan selama Iran melihat peluang memperoleh konsesi strategis, gencatan senjata kemungkinan akan bertahan.

Namun efektivitas gencatan senjata sangat bergantung pada keberhasilan Pakistan membangun titik temu awal. Shuttle diplomacy Pakistan ke Arab Saudi, Qatar, Turkiye, dan Teheran menjadi penting karena tahap berikutnya bukan lagi sekadar penghentian tembakan, tetapi penyusunan kerangka umum perundingan.

Kerangka itu harus mencakup enam isu utama: pengayaan uranium Iran; pengelolaan pelayaran melalui Selat Hormuz; hubungan Iran dengan proksi-proksinya di Timur Tengah berhadapan dengan keberadaan pangkalan militer AS; program rudal dan drone Iran berhadapan dengan jaminan tidak adanya serangan Israel dan AS di masa depan; pencabutan sanksi; serta pengembalian aset-aset Iran yang dibekukan.

Berangkat dari kondisi ini, terdapat tiga skenario utama.

Pertama, skenario terbaik: gencatan senjata diperpanjang dan diikuti dengan kesepakatan kerangka umum. Kerangka ini tidak akan rinci, tetapi cukup kuat untuk membawa kedua pihak masuk ke perundingan teknis.

Kedua, skenario abu-abu: gencatan senjata diperpanjang, tetapi dengan ambiguitas yang disengaja. AS dan Iran belum siap perang total, tetapi juga belum siap memberi konsesi besar. Dalam skenario ini, kawasan memasuki periode “tidak perang, tetapi belum damai”

Ketiga, skenario eskalasi: pembahasan gagal karena posisi kedua pihak terlalu jauh. Eskalasi mungkin tidak langsung dimulai oleh AS, tetapi melalui pembiaran terhadap Israel untuk kembali menyerang Lebanon atau sasaran lain yang kemudian memicu balasan Iran.

Karena itu, pertanyaan utama dalam beberapa hari ke depan bukan lagi apakah gencatan senjata akan diperpanjang, melainkan apakah perpanjangan itu hanya menjadi jeda taktis atau pintu menuju perundingan perdamaian yang lebih permanen.

Dan, pertanyaan yang sesungguhnya lebih strategik lagi adalah apakah Washington dan Teheran punya keberanian politik untuk mengakui bahwa keduanya tidak bisa menang dan bahwa pengakuan itulah satu-satunya fondasi perdamaian yang nyata.

Editor: Amry Nur Hidayat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *