Beranda / Ekonomi dan Bisnis / Harga Bright Gas 12 Kg Tembus Rp 240 Ribu di Kulon Progo

Harga Bright Gas 12 Kg Tembus Rp 240 Ribu di Kulon Progo

Kulon Progo ,REDAKSI17.COM– Harga LPG non-subsidi Pertamina dengan jenama Bright Gas di Kulon Progo mengalami lonjakan signifikan sejak April 2026.

Kenaikan harga ini dirasakan oleh masyarakat hingga kini, terutama bagi kalangan menengah dan pelaku usaha rumah makan.

Eko Priyono, pengelola pangkalan gas di Pasar Sentolo Baru, menyebut harga resmi dari Pertamina untuk tabung 12 kilogram (kg) dipatok Rp 228 ribu. Namun, di tingkat pengecer, harga bisa mencapai Rp 240 ribu per tabung.

Jika membeli tabung baru, harganya bahkan mencapai Rp 270 ribu.

Menurut Eko, kenaikan harga LPG non-subsidi dipengaruhi oleh konflik di Iran yang berdampak pada pasokan energi global.

Selain itu, pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) turut memperburuk kondisi, mengingat sebagian bahan gas masih diimpor.

“Dolar ya pengaruh, tapi kan katanya orang desa tidak pakai dolar,” ujarnya sambil berkelakar.

Kenaikan harga ini membuat banyak pembeli mengeluh. Eko berharap harga LPG non-subsidi bisa kembali stabil demi kenyamanan masyarakat.

Di Kalurahan Bendungan, Kapanewon Wates, harga LPG non-subsidi ukuran 12 kg dipatok Rp 235 ribu, sedangkan ukuran 5 kg dijual Rp 110 ribu.

Yanuardani, pemilik pangkalan LPG di Bendungan, menyebut banyak warga kelas menengah dan pemilik rumah makan yang terdampak.

Menurutnya, pengeluaran meningkat dan keuntungan usaha menipis. Penjualan tabung LPG non-subsidi pun menurun drastis. Jika sebelumnya ia mampu menjual 30 tabung ukuran 12 kg per bulan, kini hanya 10 tabung yang laku. Kondisi ini membuatnya tidak berani menyetok banyak persediaan.

Meski harga LPG non-subsidi melonjak, harga LPG subsidi ukuran 3 kg tetap stabil di Rp 18 ribu per tabung.

Hal ini membuat sebagian warga yang sebelumnya menggunakan LPG non-subsidi beralih ke LPG subsidi untuk menekan pengeluaran.

Peralihan ini menunjukkan bahwa kenaikan harga LPG non-subsidi berdampak langsung pada pola konsumsi masyarakat. Warga kelas menengah hingga pelaku usaha kecil kini lebih memilih LPG subsidi sebagai alternatif.

Lonjakan harga LPG non-subsidi di Kulon Progo tidak hanya berdampak pada rumah tangga, tetapi juga sektor usaha.

Pemilik rumah makan dan usaha kuliner harus menanggung biaya operasional lebih tinggi, sehingga keuntungan menurun.

Jika kondisi ini berlanjut, dikhawatirkan akan memengaruhi daya beli masyarakat dan keberlangsungan usaha kecil. Stabilitas harga LPG menjadi faktor penting bagi keberlanjutan ekonomi lokal.

Peralihan ini menunjukkan bahwa kenaikan harga LPG non-subsidi berdampak langsung pada pola konsumsi masyarakat. Warga kelas menengah hingga pelaku usaha kecil kini lebih memilih LPG subsidi sebagai alternatif.

Lonjakan harga LPG non-subsidi di Kulon Progo tidak hanya berdampak pada rumah tangga, tetapi juga sektor usaha.

Pemilik rumah makan dan usaha kuliner harus menanggung biaya operasional lebih tinggi, sehingga keuntungan menurun.

Jika kondisi ini berlanjut, dikhawatirkan akan memengaruhi daya beli masyarakat dan keberlangsungan usaha kecil. Stabilitas harga LPG menjadi faktor penting bagi keberlanjutan ekonomi lokal.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *