Jakarta,REDAKSI17.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik arah pada sesi I perdagangan hari ini, Rabu (24/6/2026). Indeks saham Garuda berbalik arah dengan melemah ke level 6.000-an.
Berdasarkan data RTI Business, IHSG melemah 1,62% ke level 6.002,20 hingga penutupan perdagangan sesi I. Indeks saham juga sempat menguat pada awal perdagangan ke level 6.171,38.
Saat ini, volume perdagangan tercatat sebanyak 12,23 miliar dengan nilai transaksi sebesar Rp 6,73 triliun. Kemudian total frekuensi saham yang diperdagangkan sebanyak 1.045.975 kali.
Sejalan dengan hal tersebut, papan perdagangan utama LQ45 juga ikut melemah 1,45% ke level 589.763 hingga penutupan sesi I. Ada sebanyak 201 saham melemah, 426 saham melemah, dan 178 saham bergerak stagnan.
Hingga penutupan sesi I, saham perbankan tercatat kompak melemah. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) melemah 2,43% ke harga Rp 4.020 per saham. Kemudian untuk PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) melemah 2,04% ke harga Rp 3.360 per saham.
Selanjutnya PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) juga melemah 1,72% ke harga Rp 2.860 per saham. Terakhir PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) melemah 0,41% ke harga Rp 6.100 per saham.
Diketahui, hari ini MSCI mempertahankan status pasar modal Indonesia Emerging Markets. Di kawasan Asia-Pasifik (APAC), Indonesia sejajar dengan pasar modal China, India, Korea, Malaysia, Filipina, Taiwan, dan Thailand.
Dalam pengumuman tersebut, MSCI juga mengakui reformasi pasar modal yang dilakukan oleh Self-Regulatory Organization (SRO). Reformasi pasar modal yang diakui mencakup peningkatan keterbukaan informasi mengenai pemegang saham dengan kepemilikan di atas 1%, klasifikasi investor yang lebih rinci, penerapan kerangka High Shareholding Concentration (HSC), dan kenaikan free float menjadi 15%.
Meski begitu, MSCI memperingatkan masih adanya kekhawatiran investor institusi global terkait kelayakan investasi di pasar modal Indonesia. Kekhawatiran ini mencakup struktur kepemilikan saham dan indikasi praktik perdagangan terkoordinasi.
“Kedua masalah tersebut secara signifikan membatasi kemampuan investor untuk menilai free float yang sebenarnya dan mengandalkan harga pasar yang teramati dalam penyusunan portofolio serta replikasi indeks,” tulis MSCI dalam pengumumannya.





