BANTUL,REDAKSI17.COM – Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) DIY, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara didampingi Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, bersama Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan DIY, Yuna Pancawati, serta Wakil Ketua ASITA Bidang Produk dan Pemasaran, Fachri Herkusuma menghadiri kegiatan Temu Kemitraan dan Gelar Produk Kulit bertajuk “Gebyar Kulit Jogja: Menembus Batas, Merajut Kemitraan” yang digelar di Ndalem Kulit Jogja, Selasa (9/6).
Kegiatan tersebut menjadi ajang promosi sekaligus penguatan jejaring bagi para pelaku industri kulit di Daerah Istimewa Yogyakarta. Sebanyak 52 pengrajin kulit turut berpartisipasi menampilkan berbagai produk berbahan kulit sapi, mulai dari sandal, tas, sepatu, jaket, hingga aksesori dengan harga yang bervariasi, dari Rp20.000 hingga jutaan rupiah.
Dalam sambutannya, GKR Bendara menegaskan bahwa pelaku usaha kulit harus mulai beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan pemasaran digital agar mampu memperluas pasar. “Pengrajin harus melek digital dan promosi online. Saat ini media sosial menjadi sarana yang sangat efektif untuk memperkenalkan produk sekaligus mengedukasi masyarakat mengenai kualitas dan proses pembuatan produk kulit asli,” ujarnya.

Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) DIY, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara didampingi Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan saat melihat produk pengrajin kulit dalam Gebyar Kulit Jogja.

Menurutnya, industri kulit DIY memiliki peluang besar untuk berkembang, terutama di tengah tingginya nilai tukar dolar yang membuat produk lokal semakin kompetitif di mata wisatawan mancanegara. Ia melihat meningkatnya minat wisatawan dari Malaysia, Singapura, Jepang, dan Tiongkok untuk berbelanja produk kerajinan berkualitas terutama di Yogyakarta..
“Ini momentum yang baik bagi para pelaku usaha kulit untuk memperluas pasar. Produk kulit Jogja memiliki kualitas yang tidak kalah unggul, tinggal bagaimana strategi pemasarannya diperkuat,” ujarnya.
GKR Bendara juga mendorong komunitas pengrajin kulit untuk aktif memproduksi konten edukatif secara bersama-sama di media sosial. “Bayangkan jika 52 pelaku usaha secara rutin mengunggah konten edukasi bersama. Dampaknya akan sangat besar dalam membangun kesadaran masyarakat terhadap produk kulit Jogja,” ungkapnya.
Selain itu, ia menekankan pentingnya menjaga kualitas produk, pelayanan kepada pelanggan, serta membangun keunggulan melalui desain, personalisasi, dan kualitas pengerjaan, bukan semata-mata bersaing melalui harga.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, mengapresiasi kualitas produk yang ditampilkan dalam pameran tersebut. Ia mengaku terkesan dengan kreativitas dan inovasi yang ditunjukkan para pelaku UMKM kulit binaan Ndalem Kulit Jogja.

Dalam kesempatan ini juga dilakukan pembuatan tempat kacamata secara langsung di Ndalem Kulit Jogja.

“Saya melihat langsung kualitas produknya sangat baik dan kompetitif. Bahkan saya membeli sepatu kulit asli dan langsung memakainya. Kualitasnya sudah sangat bagus dan mampu bersaing dengan produk dari luar,” katanya.
Wawan menilai industri kulit di Kota Yogyakarta juga memiliki potensi besar untuk berkembang apabila seluruh pemangku kepentingan mampu membangun ekosistem yang kuat dan saling mendukung. “Kita ingin membangun ekosistem industri kulit yang melibatkan pemerintah, pengusaha, komunitas, dan pelaku usaha. Dengan kolaborasi yang kuat, industri kulit Yogyakarta dapat berkembang lebih maju dan mampu menembus pasar global,” ujarnya.
Di sisi lain, salah satu pengrajin kulit, Bowo, menyambut baik penyelenggaraan kegiatan tersebut. Menurutnya, sinergi dan kolaborasi antar pelaku industri menjadi kunci untuk meningkatkan daya saing produk kulit lokal.

Wawan Harmawan saat melakukan transaksi pembelian sepatu kulit melalui Qris.

Ia menilai karya-karya handmade yang dihasilkan pengrajin kulit memiliki nilai seni dan keterampilan tinggi yang perlu mendapatkan apresiasi lebih besar dari masyarakat. “Melalui kolaborasi dan kecintaan terhadap produk dalam negeri, kami berharap karya-karya pengrajin kulit tidak lagi dipandang sebelah mata dan memiliki nilai jual yang sesuai dengan kualitas serta proses pembuatannya,” ujarnya.