
Mergangsan,REDAKSI17.COM-Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Yogyakarta mencatat terjadi deflasi sebesar 0,01 persen pada April 2026 secara bulanan (month-to-month). Sementara itu, inflasi secara tahunan (year-on-year) tercatat sebesar 2,62 persen, menunjukkan kondisi harga yang relatif terkendali.
Kepala BPS Kota Yogyakarta, Joko Prayitno, menyampaikan bahwa deflasi April 2026 terutama dipengaruhi oleh penurunan harga pada sejumlah komoditas, khususnya di kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya.
“Pada April 2026 terjadi deflasi sebesar 0,01 persen secara bulanan, dengan inflasi tahunan sebesar 2,62 persen dan inflasi tahun kalender sebesar 0,90 persen,” ujarnya Senin (4/5/2026).
Secara rinci, kelompok pengeluaran yang memberikan andil terbesar terhadap deflasi adalah perawatan pribadi dan jasa lainnya. Komoditas utama yang mendorong deflasi antara lain emas perhiasan, daging ayam ras, cabai rawit, serta telur ayam ras.
Di sisi lain, lanjutnya, sejumlah komoditas masih memberikan tekanan inflasi, seperti angkutan udara, minyak goreng, dan beberapa komoditas pangan serta jasa lainnya.

Sementara itu, secara tahunan, inflasi Kota Yogyakarta sebesar 2,62 persen didorong oleh beberapa kelompok pengeluaran. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menjadi penyumbang terbesar dengan andil 1,08 persen, diikuti kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,62 persen.
“Komoditas yang dominan mendorong inflasi tahunan antara lain emas perhiasan dan beras,” jelas Joko.
Selain perkembangan harga, BPS juga mencatat kinerja sektor pariwisata di Kota Yogyakarta pada Maret 2026. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel bintang tercatat sebesar 41,24 persen, sementara hotel nonbintang sebesar 25,59 persen.
Namun, rata-rata lama menginap tamu mengalami sedikit penurunan. Untuk hotel bintang tercatat 1,50 malam, sedangkan hotel nonbintang 1,22 malam.
Dari sisi komposisi tamu, wisatawan domestik masih mendominasi dengan porsi mencapai 96,29 persen, sedangkan wisatawan mancanegara hanya sekitar 3,71 persen.
Ia menegaskan bahwa kondisi inflasi yang terkendali serta pergerakan sektor pariwisata menjadi indikator penting bagi stabilitas ekonomi Kota Yogyakarta.
“Stabilitas harga yang terjaga diharapkan dapat mendukung daya beli masyarakat serta mendorong pertumbuhan ekonomi daerah,” pungkasnya.
