Jakarta,REDAKSI17.COM – Seruput dulu Kopinya, Cak, biar tidak ikut pening mendengar hiruk-pikuk di Gedung Merah Putih! Kamis, 9 April 2026 kemarin, suasana Jakarta jadi saksi drama seorang tokoh Pamekasan, Haji Her, yang akhirnya melangkahkan kaki menemui penyidik KPK. Ini bukan soal undangan hajatan, tapi soal skandal besar importasi barang di lingkungan Bea Cukai yang aromanya sudah menusuk hidung hingga ke pelosok desa.
Bayangkan kontras yang hampir menggelitik ini! Di satu sisi, KPK sedang melacak jejak korupsi biadab yang merugikan negara miliaran rupiah lewat permainan rokok ilegal. Di sisi lain, surat panggilan sakti dari lembaga antirasuah itu sempat tergeletak tak berdaya di tangan penjaga rumah, bahkan sempat dikira hanya proposal bantuan biasa oleh anak-anaknya. Benar-benar sebuah ironi yang luar biasa, surat yang bikin banyak pejabat “demam panggung”, malah dianggap kertas permintaan dana di rumah sang pengusaha.
Namun, begitu sadar yang datang bukan proposal tapi “surat cinta” dari Kuningan, Haji Her langsung menunjukkan nyali. Ia datang atas inisiatif sendiri, mencoba tampil tenang di tengah neraka penyelidikan yang sedang digali KPK. Di depan penyidik, ia diberondong pertanyaan soal urusan pita cukai rokok—pokok masalah yang selama ini menjadi kanker dalam sistem pendapatan negara kita.
Mari kita bicara jujur, Wak. Korupsi di lingkungan Bea Cukai soal rokok ilegal ini adalah parasit rakus yang menghisap hak-hak rakyat. Saat masyarakat kecil harus menghitung receh demi receh, ada oknum yang diduga asyik bermain mata dengan produsen, membiarkan pita cukai jadi barang dagangan haram di bawah meja. Ini bukan sekadar pelanggaran administrasi, ini adalah pengkhianatan terhadap keringat rakyat!
Haji Her mengaku koperatif dan dengan santainya menyebut tidak kenal dengan nama-nama yang disodorkan penyidik. Tapi kita tahu, KPK tidak akan berhenti hanya di kata “tidak kenal”. Mereka sedang menyisir setiap sudut, memburu siapa saja produsen nakal yang selama ini hidup subur dalam lumpur korupsi importasi ini.
Tragedinya adalah, jika benar ada permainan antara pengusaha dan oknum Bea Cukai, maka keadilan di negeri ini sedang digadaikan demi tumpukan kertas pita cukai tak bernyawa. Kita butuh transparansi, bukan sekadar drama surat yang tertukar atau alasan surat yang dikira proposal.
“Tenang kali nampaknya Haji Her itu menjawab pertanyaan KPK ya, Cak?”
“Namanya juga pemain besar, Kak. Tapi kalau sudah masuk Gedung Merah Putih, mau dianggap proposal atau undangan manten pun, kalau KPK sudah punya bukti, ya alamat mimpi buruk buat siapa saja yang terlibat. Jangan sampai urusan rokok ini malah bikin masa depan mereka jadi abu!”





