Ketua Komisi XI DPR Mukhamad Misbakhun.Foto: Dok.Tangkapan Layar YouTube CNBC Indonesia
Jakarta,REDAKSI17.COM – Ketua Komisi XI DPR Mukhamad Misbakhun menepis anggapan melemahnya nilai tukar rupiah saat ini sama seperti krisis ekonomi tahun 1998. Menurutnya anggapan tersebut banyak dipengaruhi oleh algoritma media sosial yang dilihat publik.
Misbakhun menjelaskan, posisi nilai tukar rupiah saat ini bergerak pada kisaran level Rp 16.000-an terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Kemudian saat ini, rupiah bergerak melemah di kisaran level Rp 17.717 terhadap mata uang Negeri Paman Sam.
Sementara pada krisis 1998, Misbakhun menyebut rupiah bergerak dari level Rp 2.400 ke level Rp 17.600. Ia juga menegaskan, struktur ekonomi Indonesia saat ini jauh lebih baik dibanding masa krisis 1998.
“Kita harus yakinkan kepada masyarakat Indonesia bahwa rupiaj Rp 17.800 itu memang sebuah fenomena. Angka yang sangat tinggi untuk saat ini, tapi ingat bahwa Rp saat ini mungkin pernah menyamai krisis 98. Krisis 98 rupiah Rp 17.500-Rp 17.800 itu berangkat dari angka berapa? Berangkat dari angka Rp 2.400. Rupiah sekarang berada pada level Rp 17.600 itu berangkat dari Rp 16.000 sekian. Situasi struktur ekonomi kita juga berbeda,” ujar Misbakhun dalam acara Jogja Financial Festival, Sabtu (23/5/2026).
Misbakhun menjelaskan, situasi pada krisis 98 terjadi bubble ekonomi yang tercermin dari banyaknya lembaga jasa keuangan yang bangkrut karena mengalami gagal bayar. Namun pada masa-masa tersebut, banyak juga pihak yang meraup keuntungan tidak terduga atau windfall dari selisih kurs saat itu.
“Sekarang juga yang sama, tetapi hanya pada sektor tertentu. Artinya apa? Secara fundamental ekonomi kita sangat kuat. Pada saat itu 98 kita mengalami pertumbuhan minus 13%. Inflasi jangan ditanya. Tetapi kita sekarang menghadapi situasi ekonomi yang tumbuh,” terangnya.
Misbakhun menyebut, Indonesia masuk dalam jajaran negara G20 dengan pertumbuhan ekonomi di atas 5%. Kemudian neraca perdagangan Indonesia juga tercatat positif dengan surplus 71 bulan.
Ia menambahkan, kekhawatiran akan krisis 98 terjadi akibat pengaruh dari konsumsi sosial media. Hal ini dianggap menjadi salah satu sentimen terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.
“Kita berhadapan kepada sebuah situasi antara fundamental versus sentimen, realitas melawan media sosial,” pungkasnya.





