Teheran,REDAKSI17.COM – Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyampaikan pernyataan resmi terkait hasil negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat yang berlangsung selama 21 jam dan berakhir tanpa kesepakatan.
Dalam keterangannya, Ghalibaf menegaskan bahwa Iran telah memasuki perundingan dengan itikad baik dan kesiapan untuk mencapai kemajuan. Namun, pengalaman dari dua konflik sebelumnya menjadi faktor utama yang menyebabkan rendahnya tingkat kepercayaan terhadap pihak Amerika.
Ia mengungkapkan bahwa delegasi Iran telah mengajukan sejumlah inisiatif yang berorientasi ke depan. Meski demikian, pihak Amerika dinilai gagal memperoleh kepercayaan dari delegasi Iran dalam putaran negosiasi tersebut.
Lebih lanjut, Ghalibaf menyatakan bahwa Amerika Serikat pada dasarnya telah memahami logika dan prinsip yang dipegang Iran. Oleh karena itu, keputusan kini berada di tangan Washington untuk membuktikan apakah mereka mampu membangun kembali kepercayaan tersebut.
Iran, menurutnya, tetap memandang diplomasi sebagai bagian dari strategi yang lebih luas, yakni “diplomasi kekuatan”, yang berjalan berdampingan dengan kesiapan militer dalam menegakkan hak-hak nasional. Ia menegaskan bahwa Iran tidak akan menghentikan upaya untuk memperkuat capaian dari empat puluh hari pertahanan nasionalnya.
Dalam kesempatan yang sama, Ghalibaf menyampaikan apresiasi kepada Pakistan atas perannya dalam memfasilitasi proses negosiasi, serta menyampaikan salam kepada rakyat Pakistan.
Ia juga menyoroti peran penting persatuan nasional, dengan menyebut Iran sebagai satu kesatuan dengan sekitar 90 juta jiwa yang menunjukkan dukungan luas terhadap langkah-langkah pemerintah, sejalan dengan arahan Pemimpin Tertinggi.
Menutup pernyataannya, Ghalibaf memberikan penghargaan kepada tim negosiator Iran atas kerja intens selama proses perundingan yang berlangsung lebih dari 21 jam, seraya menyampaikan harapan agar mereka senantiasa diberi kekuatan.
Pernyataan ini menegaskan bahwa meskipun jalur diplomasi masih terbuka, faktor kepercayaan tetap menjadi tantangan utama dalam hubungan Iran dan Amerika Serikat.




