Nusaibah binti Ka’ab merupakan keturunan Bani Najjar, sebuah suku di Madinah. Ia lahir dari pasangan Ka’ab bin Amr dan Rabbab binti Abdullah bin Habib, serta memiliki dua saudara, yaitu Abdullah bin Kaab dan Abu Laila Abdurrahman bin Kaab.
Nusaibah juga dikenal sebagai Ummu Umarah yang menikah dengan Zaid bin Ashim dan memiliki dua anak, Abdullah dan Habib. Bersama keluarganya, Nusaibah mendukung dakwah Rasulullah SAW dan aktif di garis terdepan dalam berbagai peperangan. Namun, suaminya gugur di Perang Badar.
Setelah itu, Nusaibah menikah dengan Ghaziyah bin Amr dan dikaruniai dua anak, Tamim dan Khawlah. Walaupun sibuk mengurus keluarga, Nusaibah tetap ikut serta dalam peperangan.
Awal Masuk Islam
Awal mula masuknya Nusaibah ke Islam dimulai ketika suaminya mendengar kabar tentang Rasulullah SAW dari Mush’ab bin Umair. Seorang utusan Nabi menceritakan tentang dakwah Nabi yang penuh tantangan dan godaan, namun tetap gigih.
Keduanya pun tergerak untuk memeluk Islam dan pergi ke Mekkah untuk bertemu dengan Rasulullah SAW, di mana mereka melakukan baiat atau janji setia pada Rasulullah SAW.
Nusaibah adalah salah satu dari dua wanita yang melakukan janji setia, bersama Asma binti Amr bin Adiy dan bergabung dengan sekitar 70 orang dari Madinah yang juga masuk Islam.
Menjadi Perisai Rasulullah SAW
Nusaibah bersama suami dan putra-putranya ikut serta dalam berbagai peristiwa penting dan peperangan. Beberapa diantaranya adalah Perang Uhud, Peristiwa Hudaibiyah, Perang Khaibar, Perang Hunain, dan Perang Yamamah.
Dalam setiap peperangan, Nusaibah binti Kaab tidak hanya berperan dalam logistik, yaitu menyediakan air dan merawat para pejuang yang terluka. Namun, ia juga turut mengangkat senjata untuk berjuang.
Dalam pertempuran Uhud, ketika pasukan Muslim hampir menang tetapi tergiur dengan harta rampasan, musuh memanfaatkan kelemahan ini dan kembali menyerang. Saat itu, Nusaibah dengan keberanian yang luar biasa segera mengangkat senjata menggunakan perisai dan melindungi Rasulullah SAW dengan tubuhnya sendiri.
Ia terluka parah, terutama di bagian leher hingga tak sadarkan diri setelah pertempuran. Ia begitu kuat, cerdas, dan teguh hatinya. Bahkan Rasulullah SAW memuji keberanian Nusaibah, mengatakan bahwa setiap kali beliau menoleh, selalu melihat Nusaibah berjuang di sisinya. Karena dedikasinya dalam melindungi Nabi, Nusaibah mendapat julukan “Perisai Rasulullah.”
Nusaibah binti Ka’ab wafat pada tahun 13 Hijriyah. Adz-Dzahabi pernah mengatakan bahwa “Ummu Umarah adalah salah satu wanita terbaik dari golongan Anshar.” Keberanian serta perjuangannya layak dijadikan teladan bagi generasi muda saat ini.
Kesimpulan
Nusaibah binti Ka’ab adalah sosok yang patut kita diteladani karena ketaatannya kepada Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW. Beliau selalu mendampingi Rasulullah dalam perjuangan menyebarkan agama Islam, dengan keberanian dan tanpa rasa takut. Selain menjadi istri dan ibu yang bertanggung jawab, Nusaibah juga turut serta dalam berbagai peperangan, siap mengorbankan diri. Karakternya yang cerdas, tangguh, dan pantang menyerah membuatnya tetap berdiri kuat, bahkan dalam kondisi terluka. Beliau selalu menjalankan amalan-amalan mulia dengan harapan meraih pahala dan kemuliaan surga dari Allah SWT.





