Beranda / Daerah / Maneges di Suluh Sumurup, Seniman Difabel Teguhkan Diri Lewat Karya

Maneges di Suluh Sumurup, Seniman Difabel Teguhkan Diri Lewat Karya

Yogyakarta,REDAKSI17.COM – Bukan karena siapa yang membuatnya, tetapi karena apa yang disampaikannya. Begitulah karya-karya seniman difabel dalam Suluh Sumurup Art Festival 2026 mengajak pengunjung melihat seni dari sudut pandang yang berbeda. Di balik goresan, warna, bentuk, dan medium, tersimpan pengalaman sekaligus keberanian untuk menyatakan diri.

Mengusung tema Maneges, Suluh Sumurup Art Festival 2026 dibuka GKR Bendara bersama Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY Dian Lakshmi Pratiwi, Kepala Taman Budaya Yogyakarta (TBY) Purwiati, serta para kurator Suluh Sumurup di Galeri TBY, Kamis (24/9) sore. Memasuki tahun keempat penyelenggaraan, festival ini menghadirkan ruang bagi seniman difabel untuk berkarya, menyampaikan gagasan, berinteraksi dengan masyarakat, sekaligus menunjukkan karya seni dapat diapresiasi dari kualitas dan pesan yang dibawanya.

GKR Bendara menegaskan, kehadiran seniman difabel dalam ruang kebudayaan semestinya tidak ditempatkan dalam perspektif rasa iba. Menurutnya, yang perlu diberikan adalah kesempatan yang setara untuk berkarya sekaligus apresiasi terhadap karya yang mereka lahirkan.

“Teman-teman disabilitas hadir bukan untuk dikasihanin, melainkan untuk diapresiasi. Suluh Sumurup ini adalah ruang seni bagi teman-teman untuk diapresiasi dan tentunya berkarya setinggi-tingginya,” ujar GKR Bendara.

Ia menekankan, apresiasi terhadap seniman difabel semestinya bertumpu pada karya yang dihasilkan. Karena itu, GKR mengajak masyarakat datang langsung ke Suluh Sumurup dan menikmati karya-karya yang dipamerkan. ” Bukan karena disabilitasnya, tapi dari karyanya mereka yang luar biasa sekali. Kami semua di sini mengajak teman-teman untuk datang ke Suluh Sumurup. di TBY,” tuturnya.

Karya-karya yang dipamerkan juga mengajak pengunjung melihat dengan cara yang berbeda. GKR Bendara menyebut, ada detail-detail dalam karya yang dapat ditemukan pengunjung, termasuk bentuk kucing atau kereta api. Hal itu, menurutnya, menjadi bagian dari pengalaman menikmati karya dengan sudut pandang yang lebih personal.

Kepala Dinas Kebudayaan DIY Dian Lakshmi Pratiwi mengatakan, Maneges menjadi bagian dari perjalanan Suluh Sumurup dalam membangun ruang kebudayaan yang semakin setara. Setelah mengangkat tema Gegandengan, Jumangkah, dan Jejer, tema tahun ini mengajak seniman melakukan refleksi sekaligus meneguhkan keberadaan dan arah langkahnya melalui karya.

“Suluh Sumurup bukan sekadar pameran seni rupa, tetapi ruang untuk menyatakan keberadaan. Ruang yang memberikan kesempatan kepada setiap individu untuk berkarya, untuk didengar, untuk diapresiasi, dan untuk mengambil bagian dalam kehidupan kebudayaan,” kata Dian.

Dian menegaskan, kualitas karya menjadi dasar utama dalam memberikan apresiasi. Karena itu, Suluh Sumurup diarahkan menjadi ruang yang setara, inklusif, sekaligus berkelanjutan. “Keren sekali. Jangan lupa datang. Ini adalah cara kita mengapresiasi karya-karya seni, bukan karena disabilitasnya, tetapi karena kualitasnya. Jadi, TBY ingin Suluh Sumurup ini menjadi ruang yang benar-benar setara, inklusif, dan terus berkelanjutan,” tandasmya.

Sebanyak 196 karya dari 132 seniman dengan beragam spektrum disabilitas dipamerkan dalam pameran ini. Mereka berasal dari 13 komunitas, sanggar, sekolah, dan Taman Budaya dari 14 provinsi di Indonesia. Beragam medium dan karakter karya yang ditampilkan memperlihatkan pengalaman serta cara pandang seniman dalam merespons lingkungan dan kondisi sosial di sekitarnya.

Para kurator Suluh Sumurup 2026, Nano Warsono, Budi Irawanto, dan Sukri Budi Dharma, menjelaskan tema Maneges berangkat dari kata teges yang bermakna jelas. Tema tersebut dimaknai sebagai upaya menemukan kejelasan diri melalui proses refleksi dan perenungan, termasuk menyadari posisi serta identitas diri dalam menghadapi berbagai tantangan. Proses itu kemudian dituangkan melalui karya, dengan etos dan konsistensi berkarya sebagai bentuk keteguhan.

Rangkaian tema Suluh Sumurup membentuk perjalanan yang saling berkesinambungan. Gegandengan!pentingnya membangun relasi dan saling menguatkan, Jumangkah mengajak berani melangkah bersama, Jejer menegaskan posisi dan keberadaan, sedangkan Maneges membawa proses tersebut pada upaya memperjelas arah sekaligus meneguhkan langkah.

Kepala TBY Purwiati mengatakan, festival ini memberikan ruang yang setara bagi seniman difabel untuk mengekspresikan diri, menciptakan karya, menyampaikan gagasan, dan berinteraksi dengan masyarakat. Suluh Sumurup juga menjadi bagian dari Temu Karya Taman Budaya (TKTB) se-Indonesia XXV Tahun 2026, dengan Taman Budaya Yogyakarta sebagai tuan rumah.

Selain pameran, Suluh Sumurup menghadirkan berbagai kegiatan, antara lain lokakarya seni, pertunjukan, artist talk, serta stan UMKM yang menampilkan produk pelaku UMKM difabel. Kegiatan ini didukung melalui Dana Alokasi Khusus Kementerian Kebudayaan RI.

Suluh Sumurup memperlihatkan bagaimana ruang kebudayaan dapat memberi kesempatan yang setara bagi setiap orang untuk berkarya menyampaikan gagasan, dan mendapatkan apresiasi atas karya yang dihasilkan. Melalui Maneges, proses itu menemukan maknanya dalam upaya mengenali diri, meneguhkan posisi, dan terus melangkah melalui karya.

“Semoga Suluh Sumurup senantiasa menjadi suluh yang menerangi dan sumurup yang menghidupkan, menghadirkan ruang-ruang kebudayaan yang setara, inklusif, dan berkelanjutan,” pungkas Dian.

Humas Pemda DIY

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *