Jakarta,REDAKSI17.COM – 1 Juni 2026. Megawati melaksanakan Upacara Hari Lahir Pancasila di Gedung Pancasila, Jakarta. Mega mengenakan kebaya merah muda & selendang orange. Elegan & anggun. Kehadiran Mega di Gedung Pancasila dalam kapasitas Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) sekaligus Presiden ke-5 RI.
Suasana terlihat kompak saat Mega dipersilakan Presiden Prabowo untuk berjalan didepannya. Mega menolak. Ia memilih berjalan dibelakang. Mega menghormati tata krama protokoler kenegaraan di mana posisi Presiden RI & Wapres RI berada di depan. Pada acara kenegaraan itu, hadir pula Wapres ke-10 & ke-12 RI Jusuf Kalla serta Wapres ke-13 RI Maruf Amin hingga para Menteri Kabinet Merah Putih.
Posisi idelogis Mega terkait Pancasila bukan hanya karena dirinya putri dari Bung Karno, Sang Penggali Pancasila. Pancasila bagi Mega adalah ideologi kebangsaan yang hidup, jiwa bangsa & alat pemersatu atas sekat-sekat perbedaan. Ada pun Pancasila sejatinya memiliki dua fungsi sebagai fondasi seluruh keragaman bangsa & bintang penuntun dalam melangkah dari aspek ekonomi, sosial hingga politik.
Esensinya yang pada akhirnya melahirkan gotong-royong. Mega sepanjang hidupnya terus berupaya membumikan Pancasila dalam tataran konsep & praksis. Di mana disetiap pidato-pidato & langkah politik dari Mega, ia konsisten menjalankan cita-cita luhur Pancasila. Dan yang paling ikonik terkait Pancasila dari Mega adalah ketika ia berpidato di 1 Juni 1998. Hanya berjarak tiga minggu setelah mundurnya Presiden Soeharto dari jabatannya sebagai Presiden RI di tanggal 21 Mei 1998..
Mega saat itu menyuarakan agar masyarakat umum & pendukungnya berhenti menghujat Soeharto. Ia tidak ingin perilaku mencaci & menghina mantan presiden yang tak lagi berkuasa seolah menjadi tradisi dalam perpolitikan nasional. Argumen Mega saat itu, perilaku mencaci & menghina bukan bagian dari kepribadian Indonesia yang ada di dalam Pancasila. Mega adalah sosok paripurna dalam berbangsa & bernegara. Hidupnya total dipersembahkan untuk kebaikan negeri ini.
Demi generasi mendatang yang lebih beradab sebagaimana cita-cita luhur Pancasila yang dipersembahkan oleh Bung Karno pada tanggal 1 Juni 1945 lalu. Anwar Saragih





