Beranda / Daerah / Memanusiakan Pendidikan, DIY Mantapkan Langkah Menuju Pusat Neuro-Edukasi Indonesia

Memanusiakan Pendidikan, DIY Mantapkan Langkah Menuju Pusat Neuro-Edukasi Indonesia

Yogyakarta,REDAKSI17.COM – Di saat dunia pendidikan menghadapi tantangan kesehatan mental, perundungan, dan semakin banyak anak yang kehilangan makna dalam proses belajar, DIY memilih bergerak ke depan. Melalui July Transformation Series 2026, DIY mengusung sebuah gagasan besar: mengembalikan pendidikan pada hakikatnya sebagai ruang yang memanusiakan manusia, sekaligus meneguhkan langkah menuju Pusat Neuro-Edukasi Indonesia yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan, kesehatan mental, dan nilai-nilai kemanusiaan.

Gagasan tersebut mengemuka dalam simposium bertajuk “Dari Yogyakarta ke Dunia, dan Kembali untuk Memanusiakan Pendidikan” yang digelar di Gedung Militaire Societeit, Taman Budaya Yogyakarta, pada 3–4 Juli 2026. Forum ini mempertemukan anak-anak, remaja, pendidik, akademisi, psikolog, praktisi pendidikan, hingga pegiat kemanusiaan untuk bersama-sama mencari jawaban atas tantangan pendidikan masa kini.

Paniradya Pati Kaistimewan DIY, Kurniawan, melaporkan kegiatan tersebut lahir dari keprihatinan atas meningkatnya fenomena keterputusan kognitif, emosional, degradasi kesehatan mental, serta kelelahan psikologis yang dialami generasi muda. Pendidikan saat ini tidak cukup hanya berfokus pada pencapaian akademik, tetapi juga harus mampu menghadirkan ruang yang aman bagi tumbuh kembang manusia secara utuh.

“Forum ini hadir sebagai solusi nyata dengan mengintegrasikan ilmu neurosains, psikologi, dan refleksi filosofis. Tujuan utamanya adalah mewujudkan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan bebas kekerasan, serta menginisiasi gerakan bersama menuju Yogyakarta sebagai Pusat Neuro-Edukasi,” ujar Kurniawan.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui kolaborasi antara Pemerintah Daerah (Pemda) DIY dan Yayasan Rewiring Hope Indonesia by The Excellent Study yang didukung berbagai pemangku kepentingan. Paniradya Kaistimewan DIY, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga DIY, DP3AP2 DIY, Biro Bina Mental Spiritual Setda DIY, Dinas Kebudayaan DIY, Dinas Pariwisata DIY, Dinas Komunikasi dan Informatika DIY, RS Grhasia, pemerintah kabupaten/kota, hingga komunitas pendidikan dan kesehatan mental turut mengambil bagian dalam gerakan ini.

Tidak hanya mendapat dukungan nasional, kegiatan tersebut juga memperoleh hibah internasional dari IBRO Brain Awareness Week 2026 dan Dana Foundation. Dukungan tersebut menjadi penanda bahwa isu pendidikan berbasis kesehatan mental dan neurosains yang dikembangkan di Yogyakarta memiliki relevansi global dan mendapat perhatian berbagai pihak di dunia.

Ketua Panitia July Transformation Series 2026, Anastasia Ajeng Wulan Tantri, menegaskan pendidikan pada dasarnya adalah proses memuliakan martabat manusia. Setiap anak memiliki hak untuk belajar dalam lingkungan yang aman, nyaman, bebas kekerasan, dan bebas diskriminasi agar dapat berkembang secara optimal, baik secara fisik, intelektual, emosional, sosial, maupun spiritual.

Menurutnya, semangat tersebut selaras dengan Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman serta nilai-nilai pendidikan yang hidup dalam budaya Yogyakarta. Sekolah diharapkan tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga menjadi rumah kedua yang menghadirkan rasa aman, penghargaan, dan kesempatan bagi setiap anak untuk bertumbuh sesuai potensinya.

“Pendidikan bukan hanya soal ilmu pengetahuan dan keterampilan teknis. Pendidikan juga harus menumbuhkan nilai, karakter, moralitas, rasa kemanusiaan, serta kemampuan membangun hubungan yang harmonis dengan sesama, lingkungan, dan Tuhan Yang Maha Esa,” ungkap Tantri.

Selama dua hari pelaksanaan, forum menghadirkan dua kegiatan utama. Hari pertama melalui Brain Awareness Week 2026: Kisah Otak yang Tangguh diikuti 150 anak dan remaja usia 10–18 tahun. Kegiatan ini menghadirkan Dr. Mirza Hapsari Sakti Titis Penggalih dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan UGM serta dr. Ida Rochmawati, M.Sc., Sp.KJ(K) dari RSUD Wonosari. Acara juga mendapat dukungan dan kehadiran GKR Bendara bersama Kepala DP3AP2 DIY sebagai bentuk perhatian terhadap penguatan kesehatan mental dan perlindungan anak di lingkungan pendidikan.

Melalui berbagai sesi interaktif, peserta diajak memahami bagaimana otak bekerja, mengenali emosi, membangun ketangguhan diri, serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesehatan mental sejak usia dini. Kegiatan kemudian ditutup dengan pertunjukan Drama Harmoni 7 Pilar Bangsa yang sarat pesan karakter dan nilai kemanusiaan.

Sementara itu, hari kedua menghadirkan seminar Teaching the Healing Brain yang diikuti sekitar 250 pendidik, akademisi, psikolog, orang tua, dan praktisi pendidikan dari berbagai daerah di Indonesia. Forum ini menghadirkan sejumlah pembicara nasional dan internasional, yakni M. Riza Perdana Kusuma dari Indonesia Leadership School yang mengangkat tema Before the Brain: Understanding the Human We Are Trying to Educate, Prof. Felycia Edy Soetardjo yang membahas neuroplastisitas dalam pendidikan Indonesia, Prof. Christin Wibhowo yang mengulas jalur neurokognitif menuju daya tahan siswa, serta Dr. Noor Huda Ismail dari Nanyang Technological University yang mengajak peserta merefleksikan kembali kemanusiaan dalam pendidikan melalui sesi Reclaiming Humanity in Education: From Wounds to Hope.

Berbagai materi yang disampaikan menegaskan otak manusia memiliki kemampuan untuk terus berkembang, beradaptasi, dan pulih. Karena itu, lingkungan belajar yang sehat, suportif, dan penuh empati menjadi faktor penting dalam membangun generasi yang tangguh menghadapi berbagai perubahan dan tantangan zaman.

Ethics & Humanitarian Advisor Rewiring Hope sekaligus penggerak program Teaching the Healing Brain, Lies Budyana, menekankan masa depan bangsa sangat ditentukan oleh pola pikir generasi mudanya. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terlibat dalam membangun lingkungan yang mendorong tumbuhnya pikiran positif, empati, dan penghargaan terhadap sesama.

“Yang membully adalah anak-anak kita, yang dibully juga anak-anak kita. Karena itu, fokus kita bukan mencari siapa penjahatnya, tetapi bagaimana menata ulang pola pikir dan perilaku mereka agar mampu menghargai diri sendiri dan orang lain,” kata Lies.

Lies berharap gerakan yang dimulai dari Yogyakarta ini dapat direplikasi di berbagai daerah sebagai upaya membangun generasi yang sehat secara mental, kuat secara karakter, dan siap menghadapi masa depan. Menurutnya, bonus demografi hanya akan menjadi kekuatan bangsa apabila didukung oleh kualitas manusia yang baik.

Melalui July Transformation Series 2026, DIY kembali menunjukkan perannya sebagai ruang lahirnya berbagai gagasan kemajuan. Berpijak pada nilai budaya, gotong royong, dan keberpihakan pada manusia, DIY terus membangun ekosistem pendidikan yang tidak hanya mencerdaskan otak, tetapi juga merawat jiwa. Masa depan pendidikan bukan semata tentang mencetak manusia yang pintar, melainkan menghadirkan manusia yang utuh, sehat, tangguh, dan berkarakter. Itulah fondasi yang sedang dibangun DIY menuju Pusat Neuro-Edukasi Indonesia.

Humas Pemda DIY

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *