Beranda / Aneka Warna / Mencari Kebenaran

Mencari Kebenaran

Kata ulama, salah satu bentuk kematangan jiwa adalah ketika kamu bisa menerima kebenaran meskipun kebenaran itu datang dari orang yang tidak kamu sukai.
Itulah batas paling tipis antara pintar dan dewasa.
Orang pintar akan menilai KEBENARAN dari SIAPA yang mengatakannya.
Orang yang matang akan menilai PEMBICARA dari KEBENARAN yang dikatakannya.
Kita semua pernah di fase ini:
Ketika nasihat itu benar, tapi karena yang ngomong adalah orang yang kita benci, musuh kita, mantan kita, tetangga yang julid, kita langsung menolaknya.
“Kamu siapa mau nasihatin aku?”
“Ngaca dulu gih sebelum ngomongin aku.”
“Ah, orang kayak dia sok suci.”
Padahal, kalau dipikir-pikir, kebenarannya tetap benar.
Yang salah bukan pesannya. Tapi hati kita yang masih sombong untuk menerimanya.
Ego kita berkata:
“Aku lebih baik salah bersama orang yang aku suka, daripada benar bersama orang yang aku benci.”
Dan disitulah jiwa kita masih kecil.
Imam Syafi’i pernah berkata, kalimat yang membuatku diam lama:
“Aku tidak pernah berdebat untuk mencari kemenangan. Aku berdebat untuk mencari kebenaran. Bahkan jika kebenaran itu ada di mulut lawan debatku, aku akan menerimanya.”
Lihat, levelnya bukan lagi menerima kebenaran.
Tapi BERBAHAGIA karena kebenaran itu ditemukan, meskipun dari musuhnya sendiri.
Kenapa ini berat?
Karena untuk menerima kebenaran dari orang yang tidak kita sukai, kita harus membunuh dua berhala di dalam diri kita:
1. Berhala Rasa Suka.
Kita terbiasa menilai sesuatu berdasarkan suka dan tidak suka. Bukan benar dan salah.
2. Berhala Ke-Aku-an.
Mengakui dia benar, terasa seperti mengakui aku kalah. Padahal kebenaran bukan tentang kalah dan menang. Kebenaran adalah tentang kembali pulang kepada Allah.
Sufi menyebut ini dengan Tawadhu’ Akal.
Yaitu saat akalmu mau tunduk, bahkan kepada orang yang lebih muda darimu, lebih miskin darimu, atau orang yang pernah menyakitimu, jika memang yang dia bawa adalah kebenaran.
Karena kebenaran itu bukan milik siapa-siapa.
Kebenaran itu milik Allah.
Dia bisa menitipkannya di mulut siapa saja yang Dia kehendaki. Bahkan di mulut orang yang paling kau benci.
Jadi hari ini, coba latihan.
Jika ada orang yang tidak kau sukai mengoreksimu dan itu benar…
Jangan jawab dengan pembelaan.
Jawab dengan: “Terima kasih, kamu benar. Aku akan perbaiki.”
Satu kalimat itu, lebih berat daripada 1000 tahajud bagi orang yang sombong.
Dan disitulah jiwa-mu sedang naik kelas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *