Yogyakarta,REDAKSI17.COM– Megahnya dinding putih Istana Kepresidenan Yogyakarta atau yang lebih akrab disebut Gedung Agung oleh warga lokal, seolah memiliki daya magis untuk menepis riuhnya Jalan Malioboro. Jumat (03/07) pagi, rombongan Dewan Juri Sayembara Pradesain Penanda Perbatasan DIY, bersama Sekda DIY Ni Made Dwi Panti Indrayanti dan Kepala Biro Tapem Setda DIY Nuri Achadiyanti, S.H., M.Si., memilih menepi sejenak dari urusan kurasi, untuk menelusuri sudut-sudut megah istana.
Langkah terarah ke sisi selatan kompleks istana, menuju sebuah bangunan yang kini difungsikan sebagai museum. Gedung Senisono. Dipandu langsung oleh Kepala Istana Kepresidenan Yogyakarta, Deni Mulyana, penjelajahan pagi itu tak ubahnya memutar kaset pita sejarah.
Fasad bangunan ini merekam perjalanan melintasi zaman. Dibangun pada 1822, tempat ini mulanya akrab dijuluki Gedung Jenewer atau Kamar Bola, sebuah pusat hiburan tempat kalangan Belanda berdansa. Seiring berjalannya waktu, gedung ini menjadi saksi bisu kemerdekaan, dari berubah nama menjadi Balai Mataram di era Jepang, hingga menjadi lokasi Kongres Pemuda Indonesia Pertama pada November 1945. Bahkan, sejak 1967, ruang ini adalah jantung kesenian Yogyakarta tempat seniman legendaris seperti Rendra, Sawung Jabo, hingga Affandi biasa berkumpul.
Sejarah panjang itu pada akhirnya bermuara pada satu upaya pelestarian. Gedung ini diakuisisi menjadi bagian utuh dari Istana Kepresidenan, di mana Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada 2014 kemudian menata ulang tata letaknya sebagai langkah konservasi preventif, mengubahnya menjadi ruang pamer museum yang memukau.
Begitu melangkahkan kaki ke dalam museum, mata para tamu langsung dimanjakan oleh tata letak koleksi yang merunut rapi sesuai era kepemimpinan republik ini. Perjalanan visual dimulai dari dokumentasi lawas Presiden Soekarno yang tengah berpidato membakar semangat pasca kemerdekaan, hingga potret khas Presiden Soeharto saat melambaikan tangan kanan. Melangkah sedikit, ada Presiden B.J. Habibie yang diabadikan bersama kebanggaan bangsa, pesawat N250.
Narasi berlanjut lewat goresan lukisan Gus Dur dengan latar rumah ibadah yang menyuarakan pluralisme, lalu Megawati Soekarnoputri yang didampingi bayang-bayang R.A. Kartini, menyiratkan pesan kesetaraan. Perjalanan di area ini ditutup oleh kolase SBY berlatar alutsista. Deretan wajah para wakil presiden, serta ragam cendera mata kenegaraan berupa keramik antik, turut melengkapi kepingan sejarah di tiap sudut etalase.
Bagi trio dewan juri, pakar arsitektur Prof. Ar. Ir. Ikaputra, M.Eng., Ph.D., IAI., Ketua IAI DIY Ar. Erlangga Winoto, IAI., Asean Arch., serta tokoh Dewan Warisan Budaya DIY Ir. Suyata, tur ini adalah momen kalibrasi rasa dan estetika. Rombongan dihadapkan pada deretan mahakarya maestro bangsa yang tak ternilai harganya.
Mulai dari keanggunan mistis Nyai Roro Kidul goresan tangan Basuki Abdullah, hingga ketegangan yang tertuang dalam Berburu Banteng II (1851) karya Raden Saleh. Deretan koleksi lukisan revolusi karya S. Sudjojono, Affandi, dan Dullah seolah berdialog dengan idealisme mereka.
Suasana sedikit berubah saat rombongan menjejaki lantai dua. Ada aura mistis yang menguar tipis dari sebuah lukisan perempuan bermahkota dengan balutan busana hijau. Konon, tak sedikit pengunjung yang merasa enggan menatap matanya terlalu lama.
Di area ini, pihak istana memberlakukan pengawasan ketat. Pengunjung sama sekali dilarang menyentuh koleksi seni rupa maupun etalase kaca. Kamera pun diharamkan menyalakan kilat (flash) demi menjaga keutuhan pigmen warna kanvas kuno yang sangat rentan terhadap radiasi cahaya.
Langkah mereka kemudian bermuara di Ruang Garuda. Ruangan yang dihiasi lampu gantung kristal ini menjadi saksi bisu tempat tamu-tamu negara disambut, sekaligus lokasi sakral pelantikan Gubernur dan Wakil Gubernur DIY.
Tur di Senisono menyisakan sebuah refleksi mendalam. Jika museum ini mampu merawat kepingan identitas dan sejarah panjang bangsa, maka tugas dewan juri siang itu tak kalah krusial. Mereka memikul tanggung jawab untuk merumuskan sebuah penanda baru di perbatasan DIY, sebuah karya yang tak sekadar estetis secara ruang, tapi juga mampu mewariskan cerita bagi generasi mendatang.
Humas Pemda DIY





