Foto: Gilang Faturahman/detikFoto
Jakarta,REDAKSI17.COM – Moody’s Ratings (Moody’s) mempertahankan peringkat keluarga korporasi (Corporate Family Rating/CFR) Ba1 untuk PT Bayan Resources Tbk (BYAN) di level Ba1. Namun lembaga pemeringkat itu mengubah outlook BYAN menjadi negatif dari sebelumnya stabil.
Perubahan outlook dilakukan menyusul force majeure yang tengah dihadapi BYAN. Kondisi tersebut terjadi imbas persetujuan perubahan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 belum terbit.
“Prospek negatif ini mencerminkan ketidakpastian regulasi terkait alokasi kuota produksi, yang menyebabkan Bayan menyatakan keadaan kahar (force majeure). Jika tidak segera diselesaikan, ketidakpastian ini dapat membatasi produksi dan membebani pendapatan,” kata Asisten Wakil Presiden Moody’s Ratings, Anthony Prayugo, dalam keterangan tertulisnya, dikutip Minggu (20/9/2026).
Meski demikian, Moody’s menilai metrik kredit Bayan masih kuat, ditopang neraca keuangan perusahaan yang bebas utang. Namun, ketidakpastian terkait persetujuan kuota produksi masih menjadi risiko bagi kemampuan Bayan untuk meningkatkan produksi.
“Ketidakpastian yang berkelanjutan seputar persetujuan kuota menimbulkan risiko penurunan terhadap kemampuannya untuk mencapai pertumbuhan produksi,” jelas Prayugo.
Sebagai informasi, BYAN mengumumkan kondisi kahar menyusul RKAB yang belum disetujui pemerintah. RKAB ini disebut memuat revisi ke atas kuota produksi pertambangan tahunan BYAN.
Tanpa kuota yang direvisi, produksi BYAN akan turun menjadi sekitar 39 juta metrik ton (MT) pada tahun 2026 dari sekitar 68 juta MT pada tahun 2025. Meski kuota nantinya dinaikkan, ketidakpastian persetujuan RKAB tetap membuat kemampuan BYAN untuk mendapatkan alokasi produksi yang dibutuhkan menjadi kurang pasti.
Kondisi ini dapat menghambat upaya perusahaan meningkatkan produksi menuju kapasitas penuh sekitar 80 juta MT dalam beberapa tahun ke depan. Ketidakpastian tersebut juga membatasi ruang perusahaan untuk merencanakan produksi, memenuhi komitmen pengiriman, serta mencapai pertumbuhan pendapatan dan arus kas seperti yang sebelumnya diperkirakan.
Jika revisi kuota tidak disetujui, Moody’s memperkirakan EBITDA Bayan turun menjadi sekitar US$ 700 juta pada 2026 dari sekitar US$ 1,1 miliar pada 2025. Penurunan ini terutama disebabkan oleh volume penjualan yang lebih rendah.
Jika produksi tetap berada di sekitar 39 juta MT pada 2027, EBITDA diperkirakan kembali turun menjadi sekitar US$ 400 juta-US$ 500 juta. Perkiraan tersebut menggunakan asumsi harga jual rata-rata US$ 48/MT, lebih rendah dari harga jual yang diperkirakan pada 2026.
Dalam skenario ini, pendapatan akan tetap jauh di bawah ekspektasi Moody’s sebelumnya, yakni sekitar US$ 1 miliar per tahun, yang mengasumsikan pertumbuhan produksi berkelanjutan menuju kapasitas produksi perusahaan sebesar 80 juta MT.





