BANTEN,REDAKSI17.COM – Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar menyerukan kepada Amerika Serikat dan Iran agar tetap menahan diri serta mempertahankan komitmen gencatan senjata setelah perundingan panjang di Islamabad tidak membuahkan hasil pada Minggu, 12 April 2026.
Seruan tersebut muncul di tengah kegagalan dialog intensif yang berlangsung hingga 21 jam penuh tanpa adanya kesepakatan untuk menghentikan eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.
Menurut laporan AFP, Dar menegaskan bahwa kepatuhan terhadap gencatan senjata menjadi elemen paling penting untuk mencegah meluasnya ketegangan di wilayah tersebut.
Ia menyampaikan bahwa stabilitas kawasan sangat bergantung pada keseriusan semua pihak dalam menjaga kesepakatan yang telah disepakati sebelumnya.
“Sangat penting bagi para pihak untuk terus mematuhi komitmen mereka terhadap gencatan senjata,” ujar Dar.
Pakistan sendiri memainkan peran sebagai mediator dalam pembicaraan tingkat tinggi antara Washington dan Teheran yang disebut sebagai kontak langsung pertama dalam beberapa tahun terakhir.
Upaya diplomatik tersebut menjadi perhatian dunia internasional karena dinilai dapat membuka kembali jalur komunikasi antara kedua negara yang selama ini memiliki ketegangan panjang.
Meski pembicaraan tidak menghasilkan kesepakatan konkret, pemerintah Pakistan menegaskan bahwa perannya sebagai fasilitator dialog tidak akan berhenti sampai di situ.
Dar menambahkan bahwa Islamabad akan terus berupaya mendorong keterlibatan kedua pihak dalam proses negosiasi lanjutan dalam beberapa hari ke depan.
“Pakistan telah dan akan terus memainkan perannya untuk memfasilitasi keterlibatan dan dialog antara Republik Islam Iran dan Amerika Serikat dalam beberapa hari ke depan,” ungkapnya.
Sementara itu, laporan Reuters menyebutkan bahwa perundingan berakhir tanpa titik temu akibat perbedaan pandangan yang cukup tajam antara kedua belah pihak.
Isu utama yang menjadi sumber kebuntuan berkaitan dengan program nuklir Iran serta sejumlah tuntutan strategis yang diajukan oleh masing-masing negara.
Kegagalan mencapai kesepakatan ini menambah ketidakpastian terhadap gencatan senjata dua pekan yang sebelumnya telah disepakati untuk meredakan konflik.
Situasi tersebut juga meningkatkan kekhawatiran internasional mengingat konflik yang terus berlanjut berpotensi mengganggu stabilitas kawasan dan berdampak pada perekonomian global secara lebih luas.***





