Gondomanan,REDAKSI17.COM-Pemerintah Kota Yogyakarta menegaskan komitmennya untuk terus bersinergi dengan berbagai organisasi masyarakat (ormas) dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) di wilayah Kota Yogyakarta.
Kolaborasi ini dinilai menjadi kunci utama dalam menjaga kondusivitas kota di tengah berbagai dinamika sosial yang terus berkembang.
Hal tersebut disampaikan Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo saat menghadiri aksi damai yang diinisiasi Forum Jogja Damai di kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta, Rabu (29/4/2026).
Hasto menekankan bahwa kondisi Kota Yogyakarta yang relatif aman dan nyaman tidak lepas dari peran aktif berbagai elemen masyarakat, termasuk ormas, bregada, serta berbagai paguyuban yang tersebar di seluruh wilayah Kota Yogyakarta.
Menurutnya, keberadaan ormas dan kelompok masyarakat tersebut telah menjadi mitra strategis pemerintah dalam meredam potensi konflik serta menjaga stabilitas sosial.
Ia menyebut, berbagai dinamika yang muncul di tengah masyarakat dapat dikelola dengan baik melalui komunikasi, koordinasi, dan semangat gotong royong yang kuat.
“Di Kota Yogyakarta, berbagai dinamika bisa diredam berkat peran ormas, bregada, maupun paguyuban. Ini adalah kekuatan sosial yang harus terus kita jaga dan perkuat bersama,” ujarnya.
Hasto juga menegaskan bahwa Pemerintah Kota Yogyakarta akan terus membuka ruang kolaborasi yang luas dengan seluruh elemen masyarakat. Sinergi ini tidak hanya dalam aspek keamanan, tetapi juga dalam menjaga nilai-nilai toleransi, kebersamaan, serta keharmonisan antarwarga.
Aksi damai yang digelar Forum Jogja Damai tersebut mengusung tema “Jaga Jogja dengan Cinta”. Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day yang diperingati setiap 1 Mei.
Sementara itu Koordinator lapangan Forum Jogja Damai, Hasanudin menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk mengajak seluruh elemen masyarakat menjaga Yogyakarta tetap aman, damai, dan kondusif, khususnya menjelang momentum May Day yang kerap diwarnai berbagai aksi di sejumlah daerah.
“Kami ingin menunjukkan bahwa Jogja tetap damai, dengan cara-cara yang penuh cinta dan kebersamaan,” katanya.
Rangkaian kegiatan diawali dengan kirab budaya yang dimulai dari kawasan Abu Bakar Ali, kemudian melintasi kawasan Jalan Malioboro, dan berakhir di simpang Titik Nol Kilometer Yogyakarta. Sepanjang rute, peserta membawa berbagai atribut yang mencerminkan semangat persatuan dan kebhinekaan.
Hasanudin menambahkan, pemilihan kawasan Malioboro sebagai lokasi kegiatan memiliki makna tersendiri. Selain sebagai ikon pariwisata, Malioboro juga menjadi ruang publik yang merepresentasikan wajah Yogyakarta sebagai kota budaya dan kota toleransi.
“Kami ingin menegaskan pentingnya menjaga kawasan Malioboro sebagai ikon Kota Yogyakarta agar tetap aman, nyaman, dan ramah bagi semua pihak, baik wisatawan maupun masyarakat lokal,” imbuhnya.
Kegiatan ini ditutup dengan doa bersama lintas agama yang diikuti seluruh peserta sebagai simbol persatuan dalam keberagaman. Setelah itu, dilakukan deklarasi bersama untuk menjaga kondusivitas dan kedamaian di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).


