UMBULHARJO,REDAKSI17.COM – Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta menyelenggarakan Pengajian Nuzulul Qur’an di Masjid Pangeran Diponegoro, Kompleks Balaikota Yogyakarta, Jumat (6/3). Kegiatan ini menjadi pengingat bagi umat Islam untuk semakin meningkatkan ibadah dalam meraih ketakwaan.
Dalam kesempatan tersebut dihadiri oleh Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo. Ia mengungkapkan, peringatan Nuzulul Qur’an bukan sekedar mengenang peristiwa turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW. Momentum ini menjadi ajakan bagi umat Islam untuk kembali merenungkan makna Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, Al-Qur’an hadir sebagai pedoman hidup yang menuntun manusia menuju kehidupan yang penuh kebaikan, keadilan, dan kemaslahatan.
Karena itu, umat Islam tidak hanya diajak untuk membaca Al-Qur’an, tetapi juga memahami, menghayati, serta mengamalkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
“Al-Qur’an tidak hanya untuk dibaca, tetapi juga untuk dipahami dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu nilai penting yang diajarkan adalah tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi untuk menjaga keseimbangan dan kelestarian lingkungan,” ujarnya.
Hasto menambahkan, nilai tersebut juga tercermin dalam program Pemerintah Kota Yogyakarta melalui gerakan Masyarakat Jogja Olah Sampah (MAS JOS) yang mendorong masyarakat mengelola sampah secara mandiri dari sumbernya.
Pihaknya juga menyoroti kesehatan mental generasi muda. Menurutnya, dalam beberapa tahun terakhir terjadi peningkatan masalah mental di kalangan generasi muda.

Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo usai mengikuti Pengajian Nuzulul Qur’an di Masjid Pangeran Diponegoro, Kompleks Balaikota Yogyakarta, Jumat (6/3).

“Sekitar lima tahun terakhir saya terus mengingatkan pentingnya perhatian terhadap fenomena mental disorder. Bahkan, baru-baru ini Menteri Dalam Negeri juga menghimbau kepala daerah untuk memperhatikan persoalan mental disorder dan fenomena toxic people di tengah masyarakat,” ujarnya.
Kegiatan pengajian ini juga diisi oleh Rektor Universitas Islam Indonesia, Prof. Fathul Wahid yang menyampaikan tausiah mengenai pentingnya menuntut ilmu dan memuliakan Al-Qur’an.
Dalam ceramahnya, ia menjelaskan bahwa adab pertama terhadap Al-Qur’an adalah mengimaninya sebagai wahyu Allah. “Iman tidak hanya sekadar percaya, tetapi juga menjalankan konsekuensi dari keyakinan tersebut dalam kehidupan sehari-hari,” ungkapnya.
Selain beriman, umat Islam juga dianjurkan untuk membaca Al-Qur’an, terlebih di bulan Ramadan yang memberikan suasana spiritual lebih kuat. Ia juga menekankan pentingnya belajar tajwid agar bacaan Al-Qur’an semakin baik, meskipun tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk mempelajarinya secara mendalam.

Pengajian diisi oleh Rektor Universitas Islam Indonesia, Prof. Fathul Wahid.

“Selain membaca dan mendengarkan, umat Islam juga dianjurkan untuk memahami serta mentadaburi isi Al-Qur’an. Dengan memahami maknanya, seseorang akan lebih mudah mengamalkan ajaran Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari,” ungkapnya.
Ia berharap, peringatan Nuzurul Qur’an ini dapat dipahami dan diamalkan ajaran Al-Qur’an serta kelak Al-Qur’an dapat memberikan syafaat kepada semua di hari akhir.