“Setelah jet tempur F-16 musuh melanggar wilayah udara Teluk Persia, sistem pertahanan udara IRGC langsung melepaskan tembakan rudal ke arahnya. Jet tempur agresor tersebut kemudian segera melarikan diri dari lokasi kejadian,” demikian pernyataan resmi yang dirilis oleh kantor humas IRGC pada Kamis (11/6) pagi.
Insiden ini terjadi tak lama setelah pihak militer AS mengumumkan dimulainya gelombang agresi baru terhadap wilayah Iran.
Berdasarkan laporan kantor berita Tasnim, dalam gelombang serangan terbaru yang dilancarkan oleh militer AS ke Iran tersebut, sejumlah titik di kawasan pesisir selatan negara itu menjadi target sasaran serangan udara pesawat-pesawat tempur Amerika.
|
Diabetes Bukan Dari Makanan Manis! Temui Musuh Utama Diabetes
|
Nyesal Keluar Banyak untuk Diabetes, karena Telat Tau Ini (Baca)
|
Siapa yang Menderita Diabetes Baca Segera sebelum Dihapus
|
Akan berlangsung lama
Konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran masih akan berlangsung hingga Oktober 2027. Pakar Hubungan Internasional Binus University Dinna Prapto Raharja menjelaskan, konflik ini semakin meluas di Timur Tengah, dengan serangan Israel ke Lebanon.
“Menurut saya dengan melihat peta kekuatan Israel, (perang) masih sampai Oktober.. sampai pemilu Israel selanjutnya,” kata Dinna ketika dihubungi ANTARA, Rabu.
Menurut dia, Israel akan tetap melancarkan serangan militer terhadap kelompok pejuang Lebanon, Hizbullah, yang merupakan sekutu Iran dalam menekan Tel Aviv dan kepentingan Washington.
“Israel itu ingin membumihanguskan Beirut sebagai simbol jatuhnya Lebanon,” ujar Dinna.
Sementara itu, Dinna menyebut negosiasi damai antara AS dan Iran yang dimediasi Pakistan akan sulit mencapai kesepakatan, karena pihak-pihak yang bertikai “belum sampai di titik jenuh untuk mengupayakan cara selain intervensi militer”.
Dinna menyoroti kebuntuan dalam perundingan tersebut, karena masing-masing pihak tidak menuruti tuntutan satu sama lain demi tercapainya perjanjian damai.
“Iran merasa tidak selemah itu, sementara Amerika tidak memperhitungkan kekuatan Iran. Amunisi AS juga menipis karena perang yang sudah berlangsung 100 hari dan belum bisa menyuplai kembali senjatanya,” kata dia.
Praktisi hubungan internasional Synergy Policies itu pun meyakini bahwa Iran tidak akan menghentikan program nuklirnya, seperti yang dituntut oleh AS.
“Nuklir ini paling lama dan paling berat negosiasinya. Justru dengan Israel makin agresif di Lebanon dan negara-negara Timur Tengah, Iran makin tidak mau melepas program nuklirnya,” ujarnya.
Di lain pihak, AS hingga kini masih membekukan miliaran dolar aset Iran di berbagai negara dan memberlakukan sanksi kepada Teheran.
Padahal, Iran menuntut pencairan aset tersebut sebagai syarat utama penyelesaian konflik.
Kedua negara tersebut juga masih berseteru mengenai Selat Hormuz—jalur pelayaran strategis yang dilintasi 20 persen pasokan minyak dunia—hingga memicu krisis energi global.
“Menurut saya situasinya masih deadlock di meja perundingan. Jadi prosesnya masih sangat lama,” ujar Dinna.
“Sulit, perjanjian (damai) masih jauh,” kata dia, menambahkan.





