JAKARTA,REDAKSI17.COM — Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menyatakan tidak akan memberikan bantuan hukum kepada Grace Natalie ihwal laporan polisi yang menyeret nama kader mereka. Padahal, Grace merupakan salah satu pendiri partai berlogo gajah tersebut.
Pengamat politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Adi Prayitno, menilai langkah PSI itu diambil lantaran partai tak mau terbawa dalam masalah pribadi yang dialami kadernya. Apalagi, laporan polisi yang menyeret Grace Natalie tidak berkaitan langsung dengan PSI sebagai partai politik.
“Sepertinya PSI ingin letakkan persoalan laporan semacam sebagai urusan pribadi kadernya dan tak ada urusannya dengan partai,” kata dia saat dihubungi Republika, Jumat (15/5/2026).
Adi menambahkan, PSI juga dinilai tidak mau citra partainya terdampak negatif dari masalah tersebut. Mengingat, saat ini PSI tengah berupaya membangun citra partai agar bisa lolos ke Senayan pada Pemilu 2029.
“Apapun judulnya, PSI saat ini sedang konsolidasi untuk bisa lolos parlemen 2029,” ujar dia.
Ia mengakui, sejauh ini belum ada yang instrumen yang bisa mengukur dampak masalah yang dialami Grace Natalie terhadap PSI. Namun, besar kemungkinan urusan laporan polisi berdampak terhadap partai.
“Makanya PSI anggap urusan ini sebagai urusan pribadi Grace yang tak ada urusannya dengan partai. Padahal Grace adalah pendiri, senior, dan juga pengurus penting di PSI saat ini,” kata Adi.
Sebelumnya, Ketua Harian DPP Ahmad Ali menyatakan, partainya tak memberikan bantuan hukum terhadap Grace setelah diadukan ke Bareskrim Polri oleh gabungan organisasi masyarakat (ormas) Islam. Ali menganggap pernyataan Grace Natalie dalam perkara itu termasuk urusan pribadi. Ali menilai sikap Grace atas video Jusuf Kalla bukan sikap PSI.
“Pernyataan yang disampaikan oleh anggota partai, toh katakan Mbak Grace itu adalah pernyataan pribadi, bahwa partai Solidaritas Indonesia dalam konteks sebagai pertemanan, sebagai sahabat, kami memberikan bantuan personal,” kata Ali kepada wartawan dikutip pada Rabu (6/5/2026).
“Secara kelembagaan kami pastikan kita tidak akan memberikan bantuan hukum secara kelembagaan kepartaian,” ujar Ali menambahkan.
Grace yang kini menjabat sebagai Sekretaris Dewan Pembina PSI, juga telah buka suara terkait laporan polisi yang menyeret namanya. Terlebih, partai yang dinaunginya tidak memberikan bantuan hukum terhadapnya.
Ia menyatakan, keputusan partai untuk tidak memberikan bantuan hukum adalah permintaan pribadi darinya. Pasalnya, kasus yang menimpa dirinya tidak memiliki keterkaitan dengan partai berlogo gajah tersebut.
“Poin yang pertama adalah menyikapi atau meresponi berita-berita yang sempat teman-teman tanyakan, ketika minggu lalu ada pernyataan dari Ketua Harian Ahmad Ali. Jadi saya ingin menyampaikan bahwa pernyataan beliau itu didasari oleh permintaan saya sebagai pendiri partai,” kata dia di kawawan Menteng, Jakarta Pusat, Senin (11/5/2026).
Grace menyatakan, pernyataannya yang diunggah melalu akun media sosialnya merupakan pendapat sebagai warga biasa. Pernyataan itu bukan dibuat sebagai sikap partainya. Karenanya, ia tidak mau urusan pribadinya disangkutpautkan dengan PSI.
”Oleh karenanya saya selaku pendiri partai menginstruksikan kepada Ketua Harian, dalam hal ini Bang Ahmad Ali, agar tidak melibatkan partai,” ujar dia.
Diketahui, Grace dilaporkan puluhan ormas Islam yang tergabung dalam Aliansi Ormas Islam untuk Kerukunan Umat Beragama ke Bareskrim Polri. Bersama Ade Armando dan Permadi Arya, Grace dianggap menghasut dan menyebarkan ujaran kebencian melalui unggahan yang memotong video ceramah Jusuf Kalla atau JK.
Grace meyakini pernyataannya yang diunggah melalui media sosial itu tidak melanggar hukum. Apalagi, pernyataannya itu dibuat tanpa mengunggah video ceramah Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 di akun media sosial pribadinya. Ia mengaku hanya membuat respons atas isi ceramah JK.
“Nah, di dalam video saya tersebut, saya itu tidak mengupload atau me-repost videonya Pak JK, saya juga tidak memotong, saya juga tidak mengedit. Jadi saya ini hanya meresponi video Pak JK, di mana saya melihat karena sudah banyak kontroversi yang beredar di masyarakat,” kata dia.





