Beranda / Tokoh / R.M. Soerjopranoto

R.M. Soerjopranoto

Di tengah kerasnya kehidupan buruh perkebunan pada awal abad ke-20, muncul satu sosok yang membuat pemerintah kolonial Hindia Belanda gelisah. Ia bukan rakyat miskin, bukan pula anak kampung yang tumbuh dari penderitaan. Ia justru lahir dari keluarga bangsawan Jawa.
Namanya R.M. Soerjopranoto.
Pers Belanda menjulukinya De Stakingskoning—Si Raja Mogok.
Soerjopranoto lahir pada 1871 sebagai anak Pangeran Soerjaningrat dari Keraton Pakualaman, Yogyakarta. Ia juga kakak dari Ki Hajar Dewantara. Sebagai anak ningrat, hidupnya sebenarnya nyaman. Ia sekolah di OSVIA Magelang dan sekolah pertanian di Bogor, lalu bekerja untuk pemerintah kolonial.
Namun hidupnya berubah setelah melihat langsung ketimpangan sosial di Hindia Belanda.
Menurut autobiografinya, Soerjopranoto sangat terpukul ketika mengetahui banyak buruh perkebunan hanya digaji sekitar 12 sen sehari, sementara elite kolonial hidup mewah. Ia disebut sampai menangis melihat penderitaan rakyat kecil. Sejak kecil, didikan ayahnya memang membuat ia terbiasa bergaul dengan rakyat biasa, bukan hanya kalangan keraton.
Kemarahan itu memuncak ketika seorang pejabat pribumi dipecat hanya karena aktif di Sarekat Islam. Soerjopranoto mendatangi atasannya yang Belanda dan terlibat perdebatan keras. Namun ia sadar, melawan kolonialisme lewat jabatan pemerintah nyaris mustahil.
Di depan para pejabat kolonial, ia lalu menyobek ijazah dan surat pengangkatannya sendiri.
“Sejak detik ini aku tidak sudi lagi bekerja untuk pemerintah Belanda!”
Keputusan itu mengejutkan banyak orang. Anak bangsawan yang hidup nyaman tiba-tiba meninggalkan status elite dan memilih turun ke jalan bersama buruh.
Saat itu, kondisi buruh pabrik gula di Jawa memang buruk. Upah rendah, jam kerja panjang, dan perlakuan diskriminatif membuat keresahan merebak di mana-mana. Momentum itu dimanfaatkan Soerjopranoto untuk membangun gerakan buruh yang lebih terorganisir.
Pada 1918, ia mendirikan Personeel Fabrieks Bond (PFB), serikat pekerja pabrik gula yang kemudian berkembang cepat di seluruh Jawa. Buruh mulai berani menuntut kenaikan upah, jam kerja delapan jam sehari, libur mingguan, hingga persamaan hak antara pekerja pribumi dan Belanda.
Bagi pemerintah kolonial, gerakan ini sangat berbahaya.
Soerjopranoto bukan cuma orator. Ia mendatangi langsung lokasi-lokasi pemogokan, membakar semangat buruh, lalu membantu membangun cabang organisasi di berbagai kota. Dalam waktu singkat, PFB berkembang menjadi salah satu serikat buruh terbesar di Hindia Belanda.
Sejarawan Takashi Shiraishi mencatat periode 1919-1921 sebagai “zaman mogok”, ketika gelombang pemogokan buruh menyebar di berbagai daerah Jawa. Di balik banyak aksi itu, ada peran Soerjopranoto.
Namanya makin ditakuti ketika ia memimpin Persatuan Pergerakan Kaum Buruh (PPKB) yang menaungi puluhan organisasi buruh dengan puluhan ribu anggota. Dari Yogyakarta, ia membantu mengoordinasikan aksi mogok di berbagai kota.
Pers Belanda bahkan menyebutnya sebagai “bangsawan Jawa dengan tekad yang tak terjinakkan.”
Akibat aktivitasnya, Soerjopranoto berkali-kali dipenjara pemerintah kolonial. Ia pernah dibui di Malang, Semarang, hingga penjara Sukamiskin di Bandung. Namun penjara tidak menghentikannya.
Berbeda dengan banyak tokoh lain yang kemudian masuk parlemen kolonial, Soerjopranoto tetap keras menolak duduk di Volksraad. Ia percaya perubahan tidak akan lahir dari kompromi dengan pemerintah kolonial, melainkan dari tekanan rakyat yang terorganisir.
Ada sisi lain yang jarang dibahas dari dirinya. Meski dikenal radikal dalam gerakan buruh, Soerjopranoto sebenarnya juga aktif di dunia pendidikan. Ia membantu gerakan Taman Siswa milik adiknya dan banyak menulis soal pergerakan rakyat.
Setelah Indonesia merdeka, ia memilih hidup sederhana dan perlahan meninggalkan politik praktis. Tidak ada cerita tentang dirinya kembali ke kehidupan mewah kaum ningrat.
Pada 15 Oktober 1959, Soerjopranoto meninggal dunia dalam usia 88 tahun. Sebulan kemudian, Presiden Soekarno menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional.
Kisah Soerjopranoto adalah cerita tentang seorang bangsawan yang meninggalkan kenyamanan hidup demi berdiri bersama buruh dan rakyat kecil. Di masa ketika banyak elite memilih aman di dekat kekuasaan, ia justru turun ke jalan, memimpin mogok, dan membuat pemerintah kolonial ketakutan.
Karena itulah sejarah mengenangnya bukan sebagai pangeran keraton—melainkan sebagai Raja Mogok.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *